Tasawuf Ibn Atha’illah al-Sakandari; Kajian Atas Kitab Al Hikam

Bagi Ibn Atha’illah, orang yang telah mencapai ma’rifat akan menyaksikan Allah pada segala sesuatu. Ia berkata, “siapa mengenal Allah, maka ia akan menyaksikan Allah pada segala sesuatu. Siapa yang melebur dengan Allah, maka ia akan lupa akan segala sesuatu. Siapa yang mencintai-Nya, maka ia akan mengutamakan Allah ketimbang sesuatu yang lain” (man ‘arafaal-Haq syahidahu fi kulli syai’n. wa man faniya bihi ghaba ‘an kulli syai’in. Wa man ahabbahu lam yu’tsir ‘alaihi syai’an). Dengan menyaksikan Allah (ma’rifatullah), maka seseorang akan mencitai-Nya (mahabbatullah). Dan mencitai Allah menyebabkan seseorang tak berharap imbalan dari selain-Nya. Ibn Atha’illah berkata, “laysa al-muhibb alladzi yarju min mahbubihi ‘iwadhan aw yathlubu minhu ‘aradhan. Fa inna al-muhibb man yabdzulu laka. Laysa al-muhibb man tabdzulu lahu” (pecinta bukan orang yang berharap imbalan dari Kekasihnya dan bukan pula orang yang menuntut dipenuhinya suatu keperluan dari Kekasih. Pecinta adalah yang “berkorban” kepada kepada-Mu, bukan yang Kau berkorban kepadanya. 
Sampul Kitab Al Hikam

Pengantar 
Kitabal-Hikam buah tangan Ibn Atha’illah al-Sakandari adalah salah satu kitab tasawuf terkenal di Indonesia. Menurut Martin Van Bruinessen, Abdu al-Shamad al-Palimbani adalah orang Indonesia pertama yang mengkaji dan memperkenalkan kitab-kitab tasawuf berhaluan Syadziliyah ini ke Nusanatara, lalu disusul beberapa ulama lain. Hingga kini, sejumlah pesantren terutama di Jawa dan Madura aktif membacakan kitab al-Hikamterhadap para santri. Kitab ini tak hanya diajarkan di madrasah, melainkan juga di mesjid dan mushalla pondok pesantren secara bandongan. Di bulan Ramadan, para kiai atau para ustadz membacakan kitab al-Hikam di hadapan para santri secara maraton. Rasanya, tak ada santri pondok pesantren yang tak pernah mendengar nama bahkan yang tak mengkaji kitab tasawuf ini. Kitab ini dijadikan sebagai standar etis untuk membenahi problem-problem moral di tengah masyarakat.

Belakangan, kitab al-Hikam tak hanya dikaji santri pondok pesantren melainkan juga para eksekutif muslim dan kalangan sosialita di kota-kota besar seperti Jakarta. Saya sendiri kerap diundang beberapa kelompok kajian di Jakarta sekedar untuk menjelaskan pokok-pokok bahasan dan untaian hikmah yang terkandung dalam kitab al-Hikam ini.  Dalam membahas dan mengurai makna kitab ini, saya dipermudah dengan tersedianya sejumlah kitab-kitab penjelas (syarh) terhadap al-Hikam. Brockelmann mencantumkan 17 syarahatas kitab al-Hikam ini. Namun, dalam menjelaskan kitab ini saya merujuk kepada tiga kitab syarah al-Hikam, yaitu: (1). Syarh al-Hikam yang ditulis Ibn ‘Ubbad al-Nafari al-Randi (w. 796 H./ 1394 M.). Kitab syarah ini, sejauh yang bisa saya pantau, adalah kitab syarah yang cukup populer di pesantren; (2). Al-Hikam al-‘Atha’iyahkarya Abi al-Abbas Ahmad ibn Muhammad Zarruq (w. 899 H./1394 M.); (3).Ib’ad al-Ghumam ‘an Iyqadh al-Himam fi Syarh al-Hikam buah tangan Ahmad ibn Muhammad ibn Ajibah al-Hasani. Kitab ini merupakan syarah terhadap syarah hikam, Iyqadh al-Hikam.

Di Indonesia sendiri terdapat sejumlah karya terjemahan al-Hikam yang diterbitkan oleh beberapa penerbit bahkan hingga dicetak berulang-ulang. Ini menunjukkan bahwa antusiasme umat Islam Indonesia untuk mengkaji kitab ini sangat tinggi. Saya menangkap ini sebagai fenomena positif, bahwa di tengah guncangan moral yang menimpa publik Indonesia, ada individu-individu yang bersemangat untuk meningkatkan moral privat. Mereka tak hanya berkehendak untuk menjalani ritual peribadatan secara rutin, melainkan juga bagaimana ibadah ritual itu berdampak secara sosial.

Siapa Ibn Atha’illah al-Sakandari
Nama lengkap pengarang kitab al-Hikam ini adalah Tajuddin Abu al-Fadl Ahmad ibn Muhammad ibn Abdul Karim ibn ibn Abdurrahman ibn Ahmad ibn Isa ibn al-Husain Atha’illah al-Judzami al-Maliki al-Syadzili al-Iskandari. Ia diperkirakan lahir pada tahun 658 H. di kota Iskandariah Mesir. Lahir dari keluarga keturunan Arab. Ia juga dinisbatkan kepada Judzam, karena nenek moyangnya berasal dari Judzam yang konon merupakan salah satu Kabilah Kahlan yang bermuara pada Ya’rib ibn Yasyjub ibn Qahthan (Qahthaniyah), dikenal sebagaial-‘Arab al-Aribah. Disebut al-Maliki, karena dari sudut fikih, Ibn Athaillah bermadzhab Maliki. Ia juga disebut al-Syadzili, karena ia memang pengikut tarekat Syadziliyah bahkan mursyid tarekat ketiga setelah Abi al-Abbas al-Mursi dan Abu al-Hasan al-Syadzili (w. 656 H./ 1258 M.) (sang pendiri tarekat Syadziliyyah).

Sebelum melebur ke dalam dunia spiritual, seperti umumnya para pelajar Islam, Ibn Atha’illah terlebih dahulu belajar ilmu tafsir, hadits, fikih, nahwu, ushul fikih, dan sebagainya. Ketika remaja, Ibn Atha’illah sudah belajar fikih pada seorang ulama terkenal, yaitu Nashiruddin al-Judzami. Tumbuh dari keluarga ahli fikih, kakek Ibn Atha’illah berharap agar sang cucu kelak melanjutkan tradisi intelektual keluarga yang menekuni bidang fikih. Bahkan, sang kakek bisa disebut sebagai ahli fikih yang anti tasawuf (anna jadd Ibn Atha’illah kana faqihan mu’aridhan li al-naz’ah al-shufiyah). Itu sebabnya, Ibn Athaillah juga menentang sejumlah ajaran tasawuf. Bahkan, sebelum menentukan pilihan untuk berguru pada Abi al-Abbas al-Mursi (w. 686 H./1288 M.), Ibn Atha’illah terlebih dahulu menyangkal sang guru. Ia berkata bahwa pada mulanya saya termasuk kelompok penentang al-Mursi. Segala apa yang aku dengar darinya aku sangkal. Hingga sampai suatu masa saya mendatangi majelis pengajiannya dan aku mempercayainya.  Al-Mursi-lah yang menyebabkan Ibn Atha’illah berfokus pada tasawuf. Dalam perkembangannya Ibn Atha’illah lebih dikenal sebagai ahli tasawuf dan bukan sebagai ahli fikih.

Pengetahuannya yang mendalam di bidang tasawuf, ia buktikan dengan banyaknya karya intelektual Ibn Atha’illah bercorak tasawuf. Karya-karya tasawuf ini banyak terkait dengan petunjuk membangun relasi baik antara manusia dengan Tuhannya (‘alaqah al-‘abdi bi rabbihi) dan antara seorang murid dengan gurunya (‘alaqah al-murid ma’a syaikhihi). Ada yang berkata, tak kurang dari 22 buah buku yang pernah ditulis Ibn Atha’illah sepanjang karir intelektualnya. Di antaranya adalah; [1]. Al-Hikam al-Atht’iyyah; [2] al-Tanwir fi Isqath al-Tadbir; [3]. Latha’if al-Minan fi Manaqib al-Syaikh Abi al-Abbas al-Mursi wa Syaikhihi al-Syadzili Abi al-Hasan. Kitab ini berisi tentang doktrin dan kisah kewalian dua senior Ibn Atha’illah, yaitu Abu al-Hasan al-Syadzili dan Abu al-Abbas al-Mursi; [4]. Taj al-‘Arus al-Hawi li Tahdzib al-Nufus; [5]. Miftah al-Falah wa Mishbah al-Arwah fi Dzikri Allah al-Karim al-Fattah. Kitab ini memuat tentang hakekat dzikir, jenis-jenis, dan kegunaannya; [6]. Al-Qawl al-Mujarrad fi al-Ism al-Mufrad. Kitab yang terakhir ini konon dirancang untuk menghadapi serangan Ibn taymiyah yang menolak tasawuf. 

Kealiman, kedalaman renungan spiritual, dan kekayaan pengalaman batin Ibn Atha’illah menyebabkan banyak orang belajar padanya. Murid-muridnya menyebar di mana-mana, tak hanya di Iskandariyah--tempat yang bersangkutan dilahirkan, melainkan juga di Kairo--tempat ia mengembangkan diri sebagai seorang sufi. Ia meninggal dunia di Madrasah al-Manshuriyah Mesir pada 13 Jumadzil Akhir tahun 709 H. Jenazahnya dikuburkan di Qarrafah al-Kubra. Ribuan orang mengantar jenazahnya ke liang lahat dan hingga kini kuburannya masih ramai dikunjungi para pelayat.

Isi Buku 
Kitab al-Hikam mendapatkan banyak pujian, baik dari segi kedalaman isinya maupun dari pilihan katanya. Tentang isinya, Abdul Halim Mahmud berkata bahwa kitab al-Hikam memberikan ilmu dan cahaya (tufidu al-‘ilm wa al-nur), sedangkan dari diksinya, Muhammad Abduh berkata bahwa kitab ini hampir saja serupa dengan al-Qur’an (kada kitab al-hikam yakunu qur’anan). Kata-kata pilihan Ibn Atha’illah yang terekam dalam buku ini telah menyihir banyak orang. KH Mustofa Bisri, wakil Ra’is Am PBNU, berkata bahwa aporisme al-Hikambahasanya luar biasa--kata dan makna saling mendukung, melahirkan ungkapan-ungkapan yang menggetarkan.

Dari sudut isi, kitab ini hanya berisi puluhan kata hikmah yang merupakan hasil permenungan atau pengalaman spiritual penulisnya. Berbeda dengan karya-karyanya yang lain seperti Lathaif al-Minan, Miftah al-Falah, dan Taj al-‘Arusyang rimbun dengan kutipan al-Qur’an dan Hadits, maka di dalam al-Hikam ini Ibn Atha’illah terkesan pelit merujuk kepada ayat-ayat al-Qur’an dan teks-teks Hadits. Walau demikian, seperti juga dianut guru-gurunya, Ibn Atha’illah konsisten pada ajaran tasawuf akhlaqi dan bukan yangfalsafiseperti corak tasawuf Abu Manshur al-Hallaj (w. 309 H.), Ibn Arabi (w. 632 H.), dan lain-lain. Ia berusaha untuk memadukan antara syariat dan hakikat. Ini terlihat ketika ia menafsirkan ayat al-Qur’an, iyyaka na’bu wa iyyaka nasta’in. Menurutnya, iyyaka na’budu itu adalah syariat, sedangkaniyyaka nasta’in adalah haqiqat; iyyaka na’budu itu adalah islam, sedangkaniyyaka nasta’in adalah ihsan; iyyaka na’budu itu adalah ‘ubudiyah, sedangkan iyyaka nasta’in adalah ‘ubudah.

Sebagai pemikir tasawuf yang bercorak khuluqi-‘amali, Ibn Atha’illah masuk ke dalam pembahasan terminal-terminal spiritual (maqamat) yang sebelumnya telah dirintis oleh al-Harits al-Muhasibi (w. 243 H.), Abu Nashr al-Sarraj (w. 378 H./ 988 M.), al-Kalabadzi (w. 380 H.), al-Qusyairi (w. 465 H./1072 M.), Abu Hamid al-Ghazali (505 H.). Di dalam kitab al-Hikam ini, sekalipun tak disistematisasikan seperti yang dilakukan pemikir tasawuf lain, Ibn Atha’illah membahas tentang maqam-maqam spiritual seperti taubat, zuhud, shabar, tawakkal, dan ridha. Ia juga membahas tentang ahwal sepertikhauf-raja’,tawadhu’, ikhlas, dan syukr. Bahkan, Ibn Atha’illah membahas tentang ma’rifat, fana-baqa, dan mahabbah. Namun, tak seperti para sufi lain yang banyak mendasarkan maqamat dan ahwal pada al-Qur’an dan Hadits, maka Ibn Atha’illah dalam kitab ini--seperti dikatakan sebelumnya-- lebih banyak bertumpu pada pengalaman batin yang bersangkutan.

Tentangmaqamat itu, Ibn Atha’illah menjelaskannya sebagai berikut.Pertama, taubat. Bagi Ibn Atha’illah, seorang salik (orang yang berjalan menuju Allah) harus terlebih dahulu membersihkan diri dari dosa-dosa. Ibn Atha’illah berkata, “min ‘alamat mawt al-qalb ‘adam al-khuzn ‘ala ma fataka min al-muwafaqat wa tark al-nadam ‘ala ma fa’altahu min wujud al-zallat” [di antara tanda matinya hati adalah tidak adanya kesedihan atas kesempatan beribadah yang engkau lewatkan, dan tiadanya penyesalan atas kesalahan yang engkau lakukan].

Namun, ia segera menegaskan bahwa banyaknya dosa yang dilakukan seseorang tak boleh menyebabkan seseorang putus pengharapan akan ampunan Allah. Ia berkata, “la ya’zhumu al-danbu ‘indaka ‘azhamatan tashudduka ‘an husn al-zhann bi Allah ta’ala. Fa inna man ‘arafa rabbahu, istashghara fi janbi karamihi dzanbuhu” [Dosa besar tak boleh menghalangimu untuk  berbaik sangka kepada Allah. Sebab, siapa yang mengenal Tuhannya, akan tahu bahwa dosanya kecil belaka dibanding kemurahan Allah]. Selanjutnya, ia berkata, “idza waqa’a minka dzanbun fala yakun sababan liya’sika min hushul al-istiqamah ma’a rabbika faqad yakunu dzalika akhira dzanbin quddira ‘alaika” (apabila engkau terjatuh dalam dosa, maka jangan sampai itu menjadi sebab keputus-asaanmu dalam memperoleh istiqamah dengan Tuhanmu. Sebab, boleh jadi itulah dosa terakhir yang ditakdirkan Allah kepadamu).

Walau begitu, menurut Ibn Atha’illah, dosa kecil pun tak boleh menyebabkan seseorang terlengah. Ia berkata, “la shaghirata idza qabalaka ‘adluhu wa la kabirata idza wajahaka fadhluhu” (tak ada dosa kecil [yang tak akan diadili] bila dihadapkan keadilan Tuhan, dan tak ada dosa besar jika dihadapkan pada karunia-Nya).

Kedua, zuhud yang sering dipahami sebagai usaha untuk meninggalkan kemewahan dunia dan memilih hidup sederhana. Bahkan, seorang zahid berusaha mengosongkan seluruh kecenderungan duniawi dalam hatinya. Ibn Atha’illah berkata, “innama ja’alaha mahallan li al-aghyar wa ma’dinan li al-akdar tazhidan laka fiha” (Allah sengaja menciptakan dunia sebagai tempat tipu daya dan sumber kekotoran dengan maksud agar dengan itu dunia dirasa menjemukan). Hanya dengan cara itu, maka urusan duniawi tak memenuhi seluruh sanubari salik. Karena itu, Ibn Atha’illah berkata, “farrigh qalbaka min al-aghyar yamla’uhu bi al-ma’arif wa al-asrar” (kosongkan hatimu dari segala sesuatu selain Allah, maka Allah akan memenuhinya dengan pengetahuan dan rahasia). Sebaliknya, orang yang mencintai sesuatu, maka ia akan menjadi sesuatu itu. Ibn Atha’illah berkata, “ma ahbabta syai’an illa kunta lahu ‘abdan, wa huwa la yuhibbu an takuna li ghairihi ‘abdan” (tidaklah engkau mencintai sesuatu kecuali bahwa bahwa engkau akan menjadi budak sesuatu, sementara Dia (Allah) tidak berkenan sekiranya engkau menjadi budak dari selain-Nya). Ia juga menegaskan bahwa kehinaan muncul sebagai akibat ketamakan. Ia berkata, “ma basaqat aghshanu dzull illa ‘ala bidzri thama’in” (tidak tumbuh dahan-dahan kehinaan kecuali dari benih ketamakan”.

Ketiga, shabr, yaitu sabar dalam menjalankan perintah-perintah dan dalam menjauhi larangan-larangan Allah, serta menerima segala ujian dan cobaan yang ditimpakan Allah kepada dirinya. Namun, tak seluruh orang bisa sabar menghadapi pedihnya penderitaan. Ibn Atha’illah berkata, “li yukhaffif alam al-bala’ ‘alaika ‘ilmuka bi annahu Subhanahu wa Ta’ala huwa al-mubli laka. Fa alladzi wajahatkan minhu al-aqdar huwa alladzi ‘awwadaka husna al-ikhtiyar” (pedihnya ujian bisa diringankan dengan pengetahuanmu bahwa Allah lah sang pemberi ujian. Yang mendatangkan ujian-takdir kepadamu adalah Dia (Allah) yang juga bisa menganugerahkan pilihan-pilihan terbaik buatmu”.

Bahkan, menurut Ibn Atha’illah, datangnya kesulitan merupakan pesta pora bagi orang yang berharap perjumpaan dengan Tuhan (wurud al-faqat a’yad al-muridin). Sebab, boleh jadi seseorang akan memperoleh pengalaman batin dalam penderitaan, apa yang tak bisa diperoleh dalam puasa  dan shalat yang kita lakukan (rubbama wajadta min al-mazidi fi al-faqat ma la tajiduhu fi al-shaum wa al-shalat). Bahkan, demikian Ibn Atha’illah, bermacam ujian itu hakekatnya adalah hamparan pemberian (al-faqat busuth al-mawahib). Dengan demikian, menurut Ibn Atha’illah, datangnya ujian kepada seseorang tak hanya meniscayakan kesabaran dari yang bersangkutan melainkan syukur kepada Tuhan, karena di balik ujian itu ada karunia yang hendak diberikan. Merenungkan apa yang diungkap Ibn Atha’illah ini rasanya memang tak ada jalan pintas untuk sampai kepada Tuhan.

Keempat, tawakkal, yaitu berserah diri hanya kepada Allah. Ibn Atha’illah berkata, “min ‘alamat al-najahi fi al-nihayat al-ruju’ ila Allah fi al-bidayat” (di antara tanda keberhasilan pada ujung perjuangan adalah berserah diri kepada Allah semenjak permulaan). Menurut Ibn Atha’illah, tak ada pilihan lain bagi seorang hamba selain tawakkal kepada Allah. Karena segala sesuatu itu akan berjalan sesuai kehendak Allah dan bukan oleh kehendak yang lain. Ia berkata, “ila al-masyi’ati yastanidu kullu syai’in, wa la tastanidu hiya ila syai’in” (segala sesuatu bertumpu pada kehendak Allah, dan kehendak Allah tak bersandar pada apa pun). Dengan demikian, menurutnya, tak selayaknya bagi seorang hamba menggantungkan harapan pada selain Allah, karena tak ada harapan yang bisa tercapai dengan melampaui Allah. Ia berkata, “la tata’adda niyyatu himmatika ila ghairihi fa al-karim la tatakhaththahu al-amalu” (janganlah cita-cita atau harapanpum ditujukan pada selain Allah, sebab harapan seseorang tak akan dapat melampaui Yang Maha Pemurah).

Kelima, ridha (kerelaan), yaitu menerima putusan dan takdir Allah secara tenang. Kita harus rela menerima; musibah itu terjadi sekarang dan bukan nanti; tsunami menerjang kita dan bukan yang lain, yang hancur diserang angin puting-beliung itu properti kita dan bukan yang lain. Sebab, semuanya itu berjalan mengikuti ketentuan Allah, dan kita sebagai hamba-Nya tak ada cara lain kecuali ridha menerimanya. Kita tahu, bila Tuhan berkendak, maka siapakah yang bisa menghalangi kehendak-Nya. Dengan demikian, kerelaan menerima setiap takdir adalah jalan etis satu-satunya. Cerita tentang kesengsaraan Nabi Ayub adalah cerita tentang ke-ridha-an seorang hamba menghadapi ujian dan takdir Tuhannya. Cerita ini terus diulang para mistikus untuk dijadikan teladan kerelaan dalam menghadapi ujian atau penderitaan.  

Wujud minimal dari ridha adalah tak iri-dengki terhadap karunia yang diberikan Allah kepada orang lain. Orang berada pada maqam ridha selalu riang dan gembira. Ia gembira menerima musibah sebagaimana bahagia ketika mendapatkan anugerah. Penolakan dianggap sebagai pemberian. Ibn Atha’illah berkata, “pemberian dari makhluk adalah kerugian, dan penolakan dari Tuhan adalah kebaikan” (al-‘atha` min al-khalq hirman wa al-man’u min Allah ihsan). Menurutnya, orang yang sedih dengan penolakan Allah atas suatu permintaan menunjukkan ketidak-pahaman yang bersangkutan pada Allah (innama yu`limuka al-man’u li’adami fahmika ‘an Allah fihi). Selanjutnya, Ibn Atha’illah menegaskan, “ketika Allah memberi, maka Dia sesungguhnya sedang memperlihatkan belas kasih-Nya kepadamu; dan ketika Dia menolak memberimu, maka Dia sedang menunjukkan kekuasaan-Nya kepadamu; dan di dalam semuanya itu, ia sesungguhnya hendak memperlihatkan diri kepadamu dan ingin menjumpaimu dengan kelembutan-Nya” (mata a’thaka asyhadaka birrahu, wa mata mana’aka asyhadaka qahrahu, fahuwa fi kulli dzalika muta’arrifun ilaika wa muqbilun bi wujudi luthfihi ‘alaika).

Ujung dari semua tahapan spiritual itu adalah perjumpaan dan penyatuan diri dengan Tuhan. Lalu para sufi bisa menyaksikan Tuhan (ma’rifat), lebur (fana’-baqa), dan mencintai Tuhan (mahabbah) secara tak tepermanai. Menurut Ibn Atha’illah, keinginan kuat seorang arif untuk selalu bersama Allah tak pernah hilang, dan bila ia bertumpu kepada selain-Nya tak pernah tenang (al-‘arif la yazulu adhthiraruhu wa la yakunu ma’a ghair Allah qararuhu). Para sufi ingin selalu bersama Allah. Ibn Atha’illah berkata, “ghayyib nazhr al-khalq ilaika bi nazhr Allah ilaika, wa ghib ‘an iqbalihim ‘alaika bi syuhudi iqbalihi ‘alaika” (hilangkan pandangan manusia terhadapmu karena kau telah puas dengan penglihatan Allah kepadamu, dan abaikan perhatian mereka kepadamu karena kau telah tahu bahwa Allah selalu memperhatikanmu).

Bagi Ibn Atha’illah, orang yang telah mencapai ma’rifat akan menyaksikan Allah pada segala sesuatu. Ia berkata, “siapa mengenal Allah, maka ia akan menyaksikan Allah pada segala sesuatu. Siapa yang melebur dengan Allah, maka ia akan lupa akan segala sesuatu. Siapa yang mencintai-Nya, maka ia akan mengutamakan Allah ketimbang sesuatu yang lain” (man ‘arafaal-Haq syahidahu fi kulli syai’n. wa man faniya bihi ghaba ‘an kulli syai’in. Wa man ahabbahu lam yu’tsir ‘alaihi syai’an). Dengan menyaksikan Allah (ma’rifatullah), maka seseorang akan mencitai-Nya (mahabbatullah). Dan mencitai Allah menyebabkan seseorang tak berharap imbalan dari selain-Nya. Ibn Atha’illah berkata, “laysa al-muhibb alladzi yarju min mahbubihi ‘iwadhan aw yathlubu minhu ‘aradhan. Fa inna al-muhibb man yabdzulu laka. Laysa al-muhibb man tabdzulu lahu” (pecinta bukan orang yang berharap imbalan dari Kekasihnya dan bukan pula orang yang menuntut dipenuhinya suatu keperluan dari Kekasih. Pecinta adalah yang “berkorban” kepada kepada-Mu, bukan yang Kau berkorban kepadanya. 

Khatimah 
Memperhatikan ungkapan-ungkapan yang dikemukakan Ibn Atha’illah tersebut, beberapa hal berikut bisa dikatakan. Pertama, tak seperti umumnya para teolog yang suka bertikai mengenai definisi-definisi Tuhan, maka Ibn Atha’illah  melompat untuk merasakan kehadiran Tuhan melalui proses intuisi dan pengalaman spiritual. Ini karena kenyataan-kenyataan dalam dunia rohani memang tak bisa dijelajahi dengan argumen-argumen rasional. 

Kedua, di tengah masyarakat yang lebih mengunggulkan kekayaan materi-duniawi, apa yang dikemukakan Ibn Atha’illah masih memiliki relevansi. Ketamakan manusia tak hanya menyebabkan kehancuran alam, melainkan juga mengantarkan manusia yang satu memangsa manusia yang lain. Merajalelanya perkara korupsi yang melibatkan para pejabat publik di negeri ini menunjukkan bahwa betapa kerakusan para koruptor dengan menumpuk-numpuk harta telah menghancurkan bangsa.

Ketiga, konsep kepasrahan total kepada Allah yang diintroduksi Ibn Atha’illah akan memunculkan kesalahpahaman di sebagian pihak; bahwa Ibn Atha’illah menganut faham fatalisme (jabariyah) yang berujung pada kenaifan. Untung, sejarah menunjukkan bahwa para sufi bukan sekelompok orang yang apatis menyaksikan ketidak-adilan. Mereka adalah orang-orang yang gigih berjuang melawan kezaliman, kapan pun dan dimana pun.  [..]


Abdul Muqsith Gazali
disadur dari : http://www.islamlib.com 

Tidak ada komentar:

Markas Kami