Header Ads

Hari Raya Keagamaan dan Kekalahan Laku Asketis

Ada hari dimana orang-orang tumpah di jalan-jalan. Tapi buka karena merayakan kemenangan sepakbola, karnaval atau demonstrasi dan kerusuhan.
Adji Subroto (avatar)

Kapan itu terjadi ?.

Hari ketika peringatan hari raya keagamaan datang dengan banjir diskon di mall-mall atau pusat-pusat perbelanjaan. Orang tua hingga anak-anak berjejal di jalan-jalan lengkap dengan kantong belanjaan di tangan.

Dalam konteks ini, tidak penting yang diperingati Natalan atau Idul Fitri. Sebab ketika dua hari raya keagamaan ini hadir, cobalah ke mall atau pusat belanja, lalu saksikan pemandangan penuh sesak dengan hilir mudik manusia. Macet kendaraan tiba-tiba saja mengular mengikuti rute belanja yang menuntun orang-orang kesana. Orang-orang yang pergi belanja itu seperti sedang tawaf saja.

Tanggal 23 Desember, malam hari, di sekitaran Gedung Juang, saya melihat lagi iring-iringan orang belanja di Manado, satu kota kecil di tepian Pasifik.

Manado adalah kota yang berkembang sangat cepat dalam urusan ‘menjadi kota jasa dan perdagangan’. Pesisirnya yang merupakan pemukiman padat penduduk direklamasi. Lalu secara bertahap dibangun menjadi pusat belanja yang ‘disewakan’ dalam bentuk Hak Guna Bangunan. Ada kawasan Mega Mall dan Manado Town Square (Mantos) yang paling besar dan terkenal. Di dua lokasi inilah orang-orang pergi belanja.

Tapi, karena ini Desember menjelang peringatan Natal, lalu seolah-olah tumpah ruang ‘orang tawaf’ di pusat-pusat belanja adalah monopoli saudara Kristiani. Tidak begitu. Pada hari raya Idul Fitri kita akan menyaksikan hal yang juga sama. Di masa kini, dalam moment peringatan keagamaan agama-agama yang denominatif, ada aspek yang mengikat umat selain ritus peribadatan yakni ritus belanja.

Ritus belanja didukung oleh jenis suasana batin dan ‘rasionalitas’ tertentu. Yakni semacam suasana dan laku psiko-ekonomi untuk memuaskan hasrat konsumsi atas barang dan jasa demi tampil maksimal di moment tertentu. Usaha untuk menonjolkan sisi-sisi yang ‘material’ (dalam wujud pakaian, hidangan, minuman, suasana rumah, furniture, dll) sebagai identitas diri yang berbeda dalam moment perayaan.

Ruang kota yang kecil seperti Manado dan mungkin juga di kota-kota sejenis, yaitu pinggiran Jawa yang bukan wilayah industrialis, tampaknya ‘ideologi belanja’ tidak ditopang oleh kehadiran kelas menengah. Ia ditopang oleh warga kota yang datang dari mana saja bahkan dari wilayah pertanian yang jauh yang stabilitas ekonomi komunalnya masih sangat bergantung pada kebaikan iklim. Sehingga kawasan-kawasan belanja bisa juga dikatakan sebagai ‘pusat-pusat kecil’ yang menjadi medan tarik dan medan lebur.

Telah sejak lama dan juga berulang disampaikan jika dalam hubungan antara perayaan keagamaan dan pemenuhan hasrat konsumerisme, salah satu persoalan yang sering diajukan dalam konteks ini adalah sejauhmana laku asketisme diri manusia beragama itu tidak boleh kalah oleh daya bujuk-rayu konsumerisme. Asketisme diri yang berwujud kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu dalam tuntutan-tuntunan etis ajaran-ajaran Tuhan yang harus bisa melawan bujuk rayu dan daya hipnotis mesin-mesin hasrat dalam payung besar kesenangan yang egosentris.

Apakah berhasil ? Pada banyak contoh, kita tahu, laku asketisme itu mulai kendur dan sesak nafas berhadap dengan ideologi belanja.

Bagaimana kekalahan laku asketisme dalam dunia ini (inner wolrdly asceticism, istilah dari Max Weber) pernah disinggung sosiolog Daniel Bell dalam kritiknya yang berjudul kontradiksi kultural kapitalisme. Atau dalam nada yang hampir sama juga dikritik filsuf Slavo Sizek dalam wujud kapitalisme kontemporer. Produksi kapitalisme yang berlebih membutuhkan pasar pembeli yang stabil dan terus membesar sebagai syarat untuk hidupnya. Maka itu ia membutuhkan satu ’siasat kebudayaan’ yang membuat masyarakat berorientasi pada pemenuhan nikmat lebih itu. Siasat kebudayaan yang menopangnya, yang menggeser sikap kerja keras menjadi perayaan hedonisme dalam format masyakarat yang berkelimpahan (affluent society) sebagaimana pengalaman masyarakat di Barat.

Menariknya di negeri kita yang terbentuk dari banyak perjumpaan ajaran dan ideologi lalu tumbuh menjadi bangsa yang campur sari, atau negeri dimana kapitalisme dicangkokan kata Tan Malaka, kekalahan laku asketis itu juga terjadi. Identitas Timur yang diagung-agungkan itu ternyata tak cukup tangguh menghalau keluar ekspansi mesin hasrat dan pemuasan nikmat lebih.

Ada baiknya kita mengulang lagi narasi tentang kekalahan laku asketik agama-agama itu ketika berhadapan dengan hegemoni ‘imperium belanja’.

Pertama, Jika agama-agama meminta manusia untuk menekan bawaan hawa nafsunya dan mengorientasikan hidupnya dalam pemenuhan tugas-tugas untuk membangun kehidupan yang baik untuk semua makhluk maka kini mesin-mesin hasrat telah mengalihkan itu menjadi laku untuk memuaskan ego diri secara terus menerus dalam wujud sikap-sikap yang hedonis-materialistis. Karena ada daya belanja yang cukup bahkan di atas rata-rata untuk melakukan konsumsi sebagai buah dari kerja. Laku asketis yang menjadi imperatif itu seperti patah. Pada patahan demikian, telikungan kapitalisme belanja memanfaatkan momen perayaan keagamaan sebagai pasar untuk produk-produknya. Seperti halnya Indonesia yang memiliki penduduk demikian banyak.

Singkat kata, ketika momen hari raya datang mall selalu penuh orang belanja sekalipun kritik agama-agama datang bertubi-tubi mengingatkan.

Hal kedua yang terjadi, dalam ekspansi ideologi belanja yang lintas geografis juga trans-kultural ini, batas antara mayor-minor yang dibelah oleh politik sejatinya juga melebur. Orang-orang pergi belanja tidak lagi dituntun oleh ‘nilai keagamaan’ yang dianut. Tapi ditarik-rayu oleh jenis-jenis produk dan kepuasan diri atas merek tertentu seturut kapasitas daya beli, misalnya. Oleh ideologi belanja, mayor-minor yang sering bertumbukan dalam ruang politik itu dileburkan menjadi sesuatu yang a-politis. Mayor-minor dalam ‘politik agama-agama tadi’ telah lebur menjadi lubang hitam kebudayaan yang diisi massa yang super aktif menyedot produk-produk konsumsi tanpa batas. Laku asketik kalah lagi karena tekanannya pada kekuatan individual oleh ideologi belanja dihancurkan menjadi sekumpulan massa.

Mayor atau minor dipisah oleh selera, daya beli, dan ‘batas kelas’ sebagai massa.

Hal ketiga yang menjadi implikasi berikut dari lebur batas antara mayor-minor menjadi massa konsumen oleh ideologi belanja tadi adalah perluasan de-subyektifasi. Yakni matinya subyek (dalam arti tumbuhnya sikap-sikap untuk menolak atau melawan kecenderungan pembentukan manusia satu dimensi seperti kritik mazhab Frankfurt). ‘Matinya subyek’ ini bisa ditafsirkan dalam dua kubu filsafat. Pertama, seperti suara miring Mazhab Frankfurt, adalah akibat dari telikungan kapitalisme atau kedua, justru memang yang sejatinya ada adalah tiadanya subyek seperti suara keras kaum posmo. Matinya subyek ini bisa dimaknai sebagai kekalahan paling fundamental dari laku asketis karena agama-agama meletakkan manusia sebagai aktor utama yang mewakili Tuhan untuk menjaga kehidupan bumi.

Inilah gambar singkat narasi kekalahan laku asketis agama justru ketika ia merayakan kehadiran dirinya di muka bumi. Kalah oleh the invisible hand bernama ‘nikmat lebih dan mesin hasrat’ yang kenyal dan menelikung dengan canggih. Ini juga gerak yang bekerja di balik ramainya pusat perbelanjaan pada setiap moment perayaan keagamaan kita.

Walau terbaca muram, agama punya seribu nyawa, karena itu ia tidak akan pernah benar-benar takluk secara total.
Salam.

Oleh Subroto Adji (Aktivis Muda Timur Indonesia)

Tidak ada komentar