Gus Dur ‘ternyata’ pernah menjadi simpatisan Ikhwanul Muslimin (IM). Bahkan ia hampir mendirikan cabang IM ini di Indonesia. Saya kasih tanda petik kata ‘ternyata’, karena hal ini mungkin banyak tidak diketahui olehGusdurian, para pengagum GD, dan juga barangkali mengejutkan bagi mereka yang anti-GD. Bagaimana ceritanya?
Sejak kecil GD sudah gemar membaca. Pada usia belasan hingga 20an minat bacanya meluas dan meningkat ke berbagai macam jenis bacaan: ideologi, sastra, agama, ilmu dan teori sosial, filsafat. Rasa ingin tahunya begitu besar dan sangat haus pada ide-ide baru. Di hamparan lautan bacaan dan di tengah perubahan sosial dan pertarungan Perang Dingin ideologi politik yang menyala saat itu, maka seperti anak muda umumnya, GD juga mengalami krisis identitas ketika hendak merumuskan peran dan tempatnya. Ia mencari tapi sekaligus dengan itu mempertanyakan banyak hal. Ia terpesona pada Marxisme tapi terganggu dengan pandangan antagonismenya pada agama dan penerapannya yang cenderung dogmatis di berbagai tempat. Sementara ia sadar, Marxisme, melalui variannya ‘sosialisme’ banyak digemari kalangan Muslim yang aktif di gelanggang politik saat itu, meski dengan banyak menyederhanakan analisis sosialnya.
DI tengah-tengah hal seperti inilah ia mencoba menengok lagi Islam dan berharap bisa menjawab masalah ketidakadilan, kemiskinan dan ketertindasan melaluinya. Dengan penuh minat ia jelajahi karya-karya intelektual Islam dunia pasca Perang Dunia II ini: Sayyid Qutub, Said Ramadhan, Hassan al-Banna. Ia selami gagasan IM, organisasi Islam terkemuka di dunia ini, tempat para pemikir itu bercokol.
Momen itu berlangsung di awal 1960an, ketika ia berusia 20an. Atas anjuran pamannya, Aziz Bisri, yang juga pengagum IM, pada 1962 GD berniat mendirikan cabang IM di Indonesia.
Tidak ada yang aneh sebenarnya dari perjalanan GD ini. Selalu saja ada momen di mana seorang santri muda terpukau, bahkan terbakar, pada gagasan-gagasan Islamisme. Retorika mereka yang sederhana, lugas, provokatif, dan menunjuk langsung mana musuh mana teman, mana masalah mana pemecahannya, mana hitam mana putih, bisa menyelinap dengan mulus ke hati para anak muda Muslim. Bahkan seorang muda seperti GD yang telah berkenalan dengan bacaan-bacaan ilmu sosial dan filsafat Barat pun tak imun dari pengaruh ini. Tak jelas bagaimana gagasan IM ini bisa sampai ke tangan GD. Adanya perhubungan ilmiah dengan kehadiran para mahasiswa Indonesia di Mesir membuat pemikiran dari Mesir –termasuk IM ini– sejak dini telah sampai ke Indonesia. Sejak tahun 1950an sendiri, pemikiran IM sudah cukup populer. Buku-buku dan pamflet-pamfletnya sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.
Tetapi niat pendirian IM cabang Indonesia sepertinya harus tertunda. Di usia 23 tahun, pada November 1963, GD terbang ke Mesir untuk melanjutkan studinya. Sepertinya kekagumannya pada IM akan tersalurkan di Kairo –markas berdiri dan bertumbuhnya IM– ini dan pendirian cabang IM di Indonesia tinggal menunggu waktu saja. Tetapi di sinilah menariknya. IM ternyata hanyalah sebuah ‘halte’ tempatnya sebentar singgah, untuk melakukan perjalanan dan pengembaraan lebih lanjut. GD tidak puas dan merasa belum menemukan sesuatu di ‘halte’ IM itu, ia lalu pergi dan mencari. Ia tetap haus pada ide-ide baru. Dan selalu siap meninjau ide-ide lamanya. Menyediakan jiwa mudanya untuk persemaian berbagai ide dan pengalaman dunia. Ia kemudian membaca lebih kritis lagi gagasan-gagasan IM, dan menyaksikan langsung bagaimana perjuangan IM di tanah lahir dan bertumbuhnya serta kontestasinya yang keras dengan Negara. Melalui proses intelektual ini, sedikit demi sedikit kekagumannya jadi mencair dan hilang.
Soal besar bagi GD terhadap IM adalah monopolinya yang mutlak pada kebenaran dan keharusan Islam diwujudkan secara formal dalam tatanan masyarakat yang nyata beragam. Meski tumbuh dalam keyakinan bahwa kebenaran terdapat dalam Quran dan Sunnah, GD meyakini adanya kebenaran lain, termasuk kebenaran agama, yang bisa digali dari karya-karya kebudayaan, apakah dalam bentuk kisah-kisah wayang kulit atau karya-karya sastra. Dengan pandangan yang absolut dan formalistik, GD tidak yakin dengan rencana dan agenda IM untuk mengubah dunia. Visi perjuangan mereka yang eksklusif dan tertutup hanya akan membuahkan konfrontasi dan kekerasan yang tidak berkesudahan. Bagi GD, Islamisme –seperti halnya komunisme—gagal memberikan jawaban yang lengkap dan manusiawi terhadap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat.
Ketika Sayyid Qutub digantung oleh rezim Nasser pada 26 Agustus 1966, GD ikut bergabung dengan sejumlah mahasiswa untuk berdoa di depan pintu penjara. Tapi ini bukan karena ia mendukung IM atau pro Qutub, tetapi lebih karena penghormatannya terhadap tokoh yang dipandangnya mempunyai keberanian moral ini di satu sisi, dan di sisi lain, muak dengan kebrutalan rezim yang menindas sejawat Qutub dalam IM. Ia sendiri saat itu sudah melihat banyak kesalahan mendasar dalam pemikiran Sayyid Qutub. Pemikiran Qutub dan IM telah dilewatinya.
Demikianlah, satu episode kecil dari kehidupan GD. Greg Barton, penulis biografi GD, menganggapnya sebagai ‘suatu [hal yang] mengejutkan’ mengingat reputasi GD di kemudian hari sebagai antitesis dari gagasan Islamisme. Dan ini ia lakukan dengan terlebih dulu menyelami gagasan Islamisme. Sementara GD sendiri menganggap momen itu sebagai ‘iseng-iseng’ saja.
Barangkali kita bisa belajar dari secuil pengalaman hidup GD dan pandangannya mengenai IM ini!
 Hairus salim
Sumber: gusdurian.net