Header Ads

Gus Dur adalah Ultraman Betulan

Menumpas kejahatan dan menegakkan keadilan.  Aku tak boleh menyerah!
Masih saya ingat kata-kata Shin Asuka, si Ultraman Dyna itu. Di episode tersebut, belasan tahun lalu, Ultraman melawan monster jahat yang menghancurkan kota. Hampir saja Ultraman kalah. Namun seperti biasa, di detik-detik terakhirnya, ia berhasil mengalahkan musuh.
Saat sekolah dasar, saya bermimpi punya kekuatan super untuk mengubah dunia. Betul, saya telah termakan oleh film-film tadi. Teman-teman saya juga sama. Kami semua memainkan jurus-jurus ajaib saat jam istirahat.
Menuju dewasa, saya hanya bisa nyengir bila mengingatnya. Bahwa mimpi mengubah dunia adalah muluk. Bahwa saya takkan bisa terbang atau punya kekuatan bulan. Itu adalah mimpi yang hanya bisa ditertawakan. Imajinasi konyol itu membuat saya tertawa, sampai akhirnya Gus Dur menyadarkan: dunia ini memang sedang dalam marabahaya.
Saya ditampar, ternyata dunia ini tidaklah aman-aman saja. Ancaman itu tidak datang dari Godzilla, tapi dalam bentuk yang sama sekali berbeda. Mereka adalah suara-suara keserakahan, kebencian, dan penindasan. Semuanya tidak hanya menghancurkan kota, tapi menggerogoti martabat kemanusiaan kita.
Kini kita sibuk saling menyalahkan, saling curiga, dan berebut kuasa. Akhirnya, di berbagai penjuru bumi, orang-orang hidup dalam kelaparan, ketakutan, dan hati yang terluka. Di belahan dunia lain, kita melihat orang mengisi hidupnya dengan pertikaian dan permusuhan. Tanpa sadar kita hidup di atas dunia yang menuju hancur. Oh tidak, sekarang kita butuh superhero betulan!
Gus Dur adalah Superhero Nyata
Di Indonesia, Gus Dur menempatkan dirinya sebagai titik ‘P’ dalam kata perdamaian. Berbeda dengan damai versi kebanyakan orang, Gus Dur percaya itu bukan sekadar kerukunan. Sebab istilah kerukunan terkesan pasif, juga tutup mata pada konflik kecil. Lewat sosok Gus Dur, kita merombak definisi itu. Belajar bahwa perdamaian adalah kemerdekaan tiap manusia, saling bantu atas dasar sukarela, plus menolak kekerasan.
Bicara Islam damai sering dimulai dengan nama Gus Dur. Dia telah mengembalikan Islam ke posisi semestinya: ramah dan cemerlang. Dia juga yang menunjukkan bahwa Islam, demokrasi, dan hak asasi manusia punya semangat yang sama. Baik sebelum, semasa, dan setelah masa kepresidenannya, Gus Dur menjadi perisai bagi mereka yang dikucilkan.
“Gus Dur sudah seperti ayah kami,” ujar Fam Kiun Fat (Akiun), anggota Majelis Agama Khonghucu (Makin) Bandung, Januari lalu. Di Bandung saat itu, digelar peringatan 3 tahun wafat Gus Dur yang dihadiri pula oleh Alissa Wahid. Akiun ungkapkan rasa syukur akan hadirnya sosok Gus Dur. Kini kolom agama di KTP-nya bisa diisi sesuai keinginannya.
Seperti itulah Gus Dur mencontohkan. Dia berupaya melindungi masyarakat Kristen, keturunan Tionghoa, juga Ahmadiyah. Dia tidak malu untuk meminta pemimpin negara lain melindungi minoritas muslim di sana.
Tak ada ciri superhero yang tak Gus Dur miliki. Dia menyediakan rasa hormat pada semua manusia, membela yang lemah, dan memperjuangkan keadilan; mengajak semua orang bergandengan tangan dan tidak mempermasalahkan perbedaan; kita diajak hidup damai dalam sebuah komunitas global. Sungguh daftar misi yang tak gampang dijalani. Namun Gus Dur menempuh itu semua, sebab ia adalah manusia ultra, ya, ultraman.
Sebentar, tapi, Gus Dur tidak punya kekuatan super. Gus Dur tidak punya robot Megazord atau laser dari tangannya. Lalu apa yang menjadikan Gus Dur lebih dari manusia biasa? Kenapa nama Gus Dur bisa jadi kekuatan dan harapan bagi perdamaian Indonesia, juga dunia? Saya rasa sederhana : belas kasih.
Jurus Super: Belas Kasih
“Prinsip belas kasih tersemat di jantung tiap agama, etika, dan spiritual. Meminta kita perlakukan semua orang sebagaimana kita ingin diperlakukan,” demikian pembuka Charter For Compassion (Piagam Belas Kasih) yang dicetuskan pada 2009. Karen Armstrong, penggagasnya, mengharapkan manusia kembali pada ide ini. Bahwa kita harus tolong-menolong dalam sebuah komunitas global, bukannya saling bermusuhan.
Belas kasih bukan barang baru. Sebagaimana disebutkan dalam Piagam, dia ada di semua tradisi agama dan lainnya, sejak zaman prasejarah. Ibarat artefak kuno, gagasan ini muncul menjawab tantangan manusia abad 21.
Dunia telah menjadi saksi dahsyatnya kekuatan ini. Kita melihat bagaimana Buddha, Yesus, dan Muhammad menggunakan resep yang sama, lalu mereka diikuti jutaan orang. Bunda Teresa yang menolong ribuan orang, Mahatma Gandhi yang menolak kekerasan, Nelson Mandela yang menolak balas dendam, Gus Dur yang membela keberagaman, semua diilhami semangat yang sama. Mereka mencintai orang-orang.
Lewat kisah mereka, kita diajari untuk bersikap empatik, heroik, dan patriotik. Kita diajak mengorbankan kepentingan diri dan mementingkan orang lain tanpa kecuali. Menolong yang lemah, dan memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Kita menolak kebencian, penindasan, dan peperangan. Kita menolak balas dendam, memilih jalan yang bukan kekerasan. Kita diberitahu bahwa untuk berjuang tidak selalu harus mengangkat pedang.
Belas kasih adalah alasan untuk terus berjuang meski hanya sendirian. Manusia perlu sosok pejuang kemanusiaan yang bisa memberikan semangat hanya dengan diingat. Manusia perlu teladan yang bisa menjaganya sampai garis finish perjuangan. Manusia perlu panutan soal bagaimana menjadikan dunia ini, atau setidaknya lingkungannya, jadi lebih baik. Manusia butuh nama-nama hebat : Gus Dur, Jusuf Kalla, dan mungkin suatu hari nanti, nama kita sendiri.
Mimpi dari Masa Kecil
Masih banyak kejahatan di muka bumi. Masih banyak orang yang hidup dalam ketakutan. Karenanya, kesempatan untuk jadi penyelamat dunia itu masih terbuka lebar. Di Indonesia, tahun 2012 saja, ada 274 kasus pelanggaran kebebasan beragama. Rapor merah bagi bangsa yang punya semboyan bhinneka tunggal ika. Sebuah bukti bahwa di negara ini bahaya sedang merajalela.
Cita-cita Gus Dur belum sepenuhnya berhasil. Setelah dia mencontohkan begitu banyak, kini ada beberapa misi yang dia wariskan untuk dilaksanakan. Ini akan sedikit menantang, tapi patut diperjuangkan.
Saya, Anda, siapa pun, memang tak bisa mengendalikan api. Namun saya mengajak semua insan, laki-laki dan perempuan, siapa pun, untuk membangunkan pahlawan yang bersemayam dalam diri. Sosok yang selama ini tanpa segan menolong orang, dan bila kita pernah melakukannya, tentu akan mudah membuatnya lebih hebat lagi.
Saya mengajak semua orang untuk melupakan kebencian dan memulai persahabatan. Bila di antara kita ada yang masih percaya stereotip, saatnya cek kebenarannya sekarang juga. Betulkah Batak itu begini, Kristen itu begitu? Lupakan rasa curiga itu, mulailah berkenalan.
Rubuhkan dinding pembatas bernama agama, suku atau apa pun itu. Sebab kita bisa saling tidak setuju, tapi tak perlu main tinju. Sebab kita beda iman, tapi tetap bisa berteman. Bila telah demikian, maka konflik atas nama perbedaan harusnya tinggal kenangan.
Saya bermimpi, semua orang menumbuhkan jiwa ksatria dalam dirinya. Mereka secara sukarela menolong sesama manusia, melupakan kebencian dan permusuhan, hanya sibuk membangun dunia yang lebih baik. Sebuah dunia para pecinta damai yang kompak, dengan persahabatan yang makin erat, juga kebersamaan yang makin solid. Di mana kulit putih, kuning, dan hitam berpegangan tangan.
Mari, wahai calon superhero, kita hidupkan mimpi masa kecil untuk mengubah dunia. Di tengah kekusutan ini, adalah waktu yang tepat untuk satukan semangat, juga satukan kekuatan untuk menumpas kebencian. Sudah saatnya kembalikan damai ke muka bumi ini. Bila satu saat kita kebingungan, contoh saja sosok Gus Dur. Toh dia sudah mencontohkan. Toh dia ultraman betulan.

RIO TUASIKAL
*Penulis adalah mahasiswa UNIKOM Bandung, Anggota Jaka Tarub Bandung
[tulisan ini merupakan pemenang pertama lomba esai yang diadakan oleh Komunitas Gusdurian dalam rangka Ulang Tahun Gus Dur]

Sumber : gusdurian.net

Tidak ada komentar