BELAJAR JADI ORANG ADIL

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu berjuang karena Allah dengan menjadi saksi-saksi keadilan. Dan janganlah kebencian kamu kepada satu kaum menyebabkan kamu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat dengan takwa. Bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah itu Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al Maidah; 8)

Dialog dengan Pak Kiai


Saya:
“Pak Kiai, banyak di antara kita mengalami kebingungan ketika ada ajaran agama yang menegaskan bahwa orang dengan akhlak mulia akan masuk surga, siapa pun dia. Di sisi lain, masih dalam ajaran agama, orang yang tidak meyakini Allah swt dan Rasul-Nya disebut kafir dan akan masuk neraka. Saya melihat kebingungan seperti ini bermula dari jalan pikiran yang sangat naif. Oleh kita, dunia dibagi menjadi dua bagian; kita orang Islam dan mereka (diluar Islam) kafir. Segala kebaikan ada pada kita dan segala kejahatan ada pada mereka. Surga adalah tempat kembali orang baik, dan neraka tentu saja buat orang jahat. Sehingga, kita pasti masuk surga dan mereka masuk ke neraka.

Anehnya, terkadang ada anggapan, bila kita berakhlak jelek, kita masuk ke neraka. Itu pun sebentar saja. Kita hanya transit di sana; setelah itu masuk surga. Adapun orang kafir, ia terbang langsung ke neraka.”
Realitasnya, yang kita lihat dalam dunia nyata tidak sesederhana itu. Kita melihat ada sebagian orang (yang kita sebut kafir) justru berakhlak baik, sebagaimana kita melihat juga orang Islam berakhlak jelek. Untuk mengatasi kebingungan ini, bagaimana Pak Kiai solusi yang bisa ditemukan?”

Pak Kiai”
“Pertama, kebiasaan kita selalu memakai satu ukuran saja, misalnya seperti akidah. Coba kita perhatikan, oleh karena persoalan akidah, dalam panggung kehidupan, kita sering berbuat tidak adil. Dalam politik, kita memilih penguasa muslim walaupun zalim ketimbang penguasa kafir yang adil. Dalam pekerjaan, kita mengangkat pegawai yang seagama dengan kita, walaupun ia bekerja ‘amburadul’; kita tolak pegawai yang bekerja profesional, karena ia beragama lain. Dalam bisnis, kita mengambil mitra usaha muslim, walaupun ia tak jujur, ketimbang orang kafir yang jujur. Bahkan ada yang lebih sempit lagi; di antara sesama muslim. Kita mendahulukan orang Islam yang sepaham dengan kita, betapa pun jelek akhlaknya. Kita menjauhi orang Islam yang berbeda mazhab dengan kita, betapa pun baik akhlaknya.

Selanjutnya, terkadang kita mencari justifikasi untuk keburukan akhlak kita, sekaligus mencari motif terselubung untuk kebaikan akhlak orang lain. Alias, kita berprasangka buruk bila menyaksikan orang kafir yang beramal baik. Ketika mendengar kabar seorang muslim korupsi. Kita segera membelanya dengan mengatakan, bahwa dia juga banyak beribadah. Ia juga banyak berdzikir dan berulang-ulang naik haji. Sudah pasti amal ibadahya akan menghapuskan segala kesalahannya.

Sementara, ketika kita mendengar bahwa ada seorang tokoh yang beragama lain, hidup di tengah orang-orang yang menderita. Ia membantu masyarakat sekitar; mengumpulkan anak-anak terlantar, memberikan makanan kepada yang lapar, melindungi mereka yang ketakutan, memberikan perhatian kepada orang pinggiran. Secepatnya, kita pun memberikan reaksi berupa kecurigaan. Terlintas di benak kita, mungkin tokoh itu mempunyai motif terselubung. Di balik kebaikannya, tokoh itu menyimpan niat jahat. Kebaikannya hanyalah jebakan licik untuk menjerat orang yang lengah. Jangan-jangan, ia adalah dalang di belakang semua kejahatan di dunia ini.”

Saya:
“Terus, seperti apa sebaiknya yang harus dilakukan, agar bisa berlaku adil?”

Pak Kiai:
“Berlaku adil artinya tidak menggunakan standar ganda. Yah, diperjelas dan dipertegas saja. Katakanlah yang jahat itu jahat, walaupun dilakukan oleh kawan-kawan kita. Sebutlah yang baik itu baik, sekalipun dipraktikkan oleh musuh-musuh kita. Kemudian, berhentilah berpandangan bahwa mereka yang di luar kita itu adalah laknat, sesat, kafir, dan istilah-istilah mengerikan lainnya. Hanya itu.

Disadur dari www.buntu-grup.blogspot.com (blog pribadi milik Sayid Taufik Bilfagih, S. Sos. I, Msi)

Tidak ada komentar:

Markas Kami