Humanisme Islam dam Islam yang Humanis



Oleh: Akhmad Kusairi
Peneliti pada The Al-Falah Institute, Jogjakarta.
Judul : Islam dan Humanisme.
Penulis : Hasan Hanafi, dkk.
Penerbit : Pustaka Pelajar Yogyakarta.
Cetakan : I, Januari 2007.
Tebal : xix+ 248 halaman.
Dalam dunia filsafat, Humanisme adalah salah satu cabang etika yang embirionya muncul pada awal abad 16 Masehi, hampir bersamaan dengan meletusnya reformasi Gereja. Kemunculan Humanisme pada mulanya ditandai dengan munculnya gagasan-gagasan mengenai kebebasan manusia ( free will and free act) untuk menentukan sendiri nasibnya. Gagasan yang tampak di luar mainstream ini kemudian banyak dikritik oleh sesama teolog Kristen. Bahkan Martin Luther pun yang terkenal sangat moderat sebagai tokoh pembaharu Gereja mengritik keras konsep yang baru lahir ini. Menurutnya, konsep ini sudah mereduksi Jesus Christ menjadi hanya sebagai contoh atau model prilaku ideal yang memiliki ketinggian etik.
Secara etimologi, Humanisme berasal dari bahasa Italia, Umanista. Konsep ini pada mulanya ditujukan pada guru atau murid yang mempelajari kebudayaan seperti gramatika, retorika, sejarah, seni puisi atau filsafat moral. Pelajaran inilah yang dalam konsep humanisme biasa disebut sebagai studia humanitatis. Pada era renaisans, ilmu-ilmu tersebut menduduki kedudukan yang amat penting. Oleh sebab itu kaum Humanis memilki kedudukan yang cukup terpandang dalam komunitas intelektual. Secara umum, Humanisme berarti martabat dan nilai dari setiap manusia, dan semua upaya untuk meningkatkan kemampuan-kemampuan alamiahnya (fisik non fisik) secara penuh. (210)
Berdasarkan catatan sejarah, Humanisme pernah memperoleh pengakuan pada abad ke-14 di Italia melalui pemajangan berbagai literatur dan demonstrasi seni Yunani dan Romawi pra-Kristen yang ditemukan kembali oleh para Pastur di dinding-dinding museum. Ciri khas humanisme adalah sikap keberagamaan yang inklusif. Hal ini dapat dilihat dalam berbagai karya Plato dan Aristoteles yang mengusung kandungan moral dari Injil.
Sama halnya dengan rasioanalisme dan liberalisme, Humanisme juga lahir sebagai anak kandung dari renaisans. Masing-masing aliran tersebut memiliki target dan tujuan yang berbeda. Jika rassionalisme merupakan proyek untuk menegaskan eksistensi akal, dan liberalisme merupakan upaya untuk membuka area persaingan yang kompetitif, maka humanisme secara sederhana dapat dipahami sebagai upaya meneguhkan sisi kemanusiaan manusia.
Konsep humanisme dipandang memiliki kesamaan dengan konsep Yunani kuno tentang bentuk tubuh dan pikiran yang harmonis. Dari permulaan abad ke-19 dan seterusnya, humanisme dipandang sebagai perilaku sosial politik yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan lembaga-lembaga politik dan hukum yang sesuai dengan ide tentang martabat ke-manusiaan. Sejak saat itu, jelas konsep hak asasi manusia telah memasuki tahap etika politik modern.
Jika agama mengajarkan penganutnya untuk menghormati orang lain, hidup berdampingan dengan harmonis dan semua itu sejalan dengan spirit humanisme, maka kekerasan atas nama agama bisa jadi disebabkan oleh ketidakseimbangan antara semangat keberagamaan dan kemampuan untuk memahami ajaran agama. Semangat keberagamaan yang tinggi tanpa disertai pemahaman yang mendalam akan dimensi esoteris dari agama dapat mengarahkan manusia pada sikap fanatik (_ fanatical attitude_), sikap keberagamaan yang sempit (narrow religiousity) dan fundamentalisme.
Dengan demikian sebenarnya tidak terlalu sulit untuk memberikan legitimasi bagi hadirnya spirit humanisme dalam agama. Hanya saja, banyak yang menilai bahwa humanisme akan mengganggu stabilitas agama. Ada yang menganggap bahwa humanisme menekankan pada individu rasional sebagai nilai paling tinggi dan sumber nilai terakhir tanpa harus terikat kepada agama tertentu.
Humanisme secara simplistis dimaknai dengan anggapan bahwa manusia dapat menggali ajaran-ajaran moralitas serta etika dari renungan rasional tanpa harus merujuk atau mengikatkan dirinya kepada agama tertentu. Dari sini kemudian muncul kekhawatiran adanya nudisme yang menyerukan kembalinya manusia ketika dilahirkan ibunya. Pandangan inilah yang kerap kali menghambat laju Humanisme sebagai sebuah tata nilai yang inheren dalam rahim agama. Padahal dalam realitanya tidak seperti itu. Humanisme dalam Islam misalnya yang hanya berjalan dalam garis dialog antara Allah, manusia, dan sejarahnya. Keseimbangan dalam proses ini akan melahirkan salah satu bentuk pembebasan manusia dari keterikatan.
Bersandingnya Islam dan humanisme tentunya sangat dipengaruhi oleh bagaimana agama itu sendiri dipahami. Jika agama selalu diwarnai dengan semangat kepatuhan, ketundukan dan pengabdian kepada Tuhan, maka humanisme jelas akan “menantang”. Tetapi jika Islam dimaknai dalam konteks ketika Humanisme berjalan dalam bentangan garis dialog antara Allah, maka akan muncullah keperkasaan Tuhan.
Sejarah pembebasan dan penyelamatan kemanusiaan atau humanitas adalah inti dari eksistensi agama. Aksioma ini bisa dijadikan sebagai sandaran dalam menafsirkan ajaran-ajaran agama yang berpihak kepada kesamaan, kebebasan, kemerdekaan dan sejarah yang senantiasa berjalan dialektis. Umat beragama harus terus-menerus menjadikan pencarian makna hmanisme dalam tradisi agama sebagai proses tiada henti.
Dalam paradigma Islam, Humanisme harus dipahami sebagai sesuatu konsep dasar kemanusiaan yang tidak berdiri dalam posisi bebas. Ini mengandung pengertian bahwa makna atau penjabaran arti “memanusiakan manusia” itu harus selalu terkait secara teologis. Dalam konteks inilah al-Quran memandang manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Untuk memfungsikan kekhalifahannya, Tuhan telah melengkapi manusia dengan fakultas intelektual dan spiritual yang tak dimiliki makhluk lainnya.
Dalam ranah ini, manusia memiliki kapasitas, kemampuan, dan pengetahuan untuk memilih. Karena itu kebebasan merupakan pemberian Tuhan yang paling esensial dalam upaya mewujudkan fungsi kekhalifahannya. Bersamaan dengan itu, Tuhan pun menawarkan nilai-nilai permanen untuk dipilih oleh umat manusia. Nilai-nilai permanen yang dimaksudkan adalah konsep tauhid, Insan Kamil (hampir sama dengan konsep Uberchmench-nya Nietzsche), dan lain-lain. Meskipun dalam banyak hal konsep-konsep Humanisme diadaptasi dari filsafat Yunani, Humanisme dalam Islam tetap memiliki aspek transendental.
Dalam buku yang berjudul Islam dan Humanisme ini, konsep Humanisme yang di Barat menjadi kandidat tunggal dalam menggantikan agama sebagai pegangan moral di masa depan, diramu dengan apik lagi lugas dalam bunga rampai ini. Sehingga walaupun penulisnya berasal dari latar belakang yang berbeda tak membuat buku ini sepi dari gagasaan yang moderat lagi brilian bgi perkembangan Islam Indonesia, bahkan dunia sekalipun.
Sebagai akhir, sebuah pertanyan yang sampai sekarang menggantung di tengah-tengah masyarakat Islam adalah, bisakah Humanisme dengan Islam disandingkan dalam kedudukan yang sama? Jawabnya menurut resensor adalah tergantung sebatas mana kita memahami agama serta Humanisme itu sendiri.



1 komentar:

Anonim mengatakan...

(Habib Muchsin Billfagih) beliau lah seorang humanis dalam ruang dimensi Islam yg ku kenal. Salam..

Markas Kami