Header Ads

Kesejahteraan


Oleh: Habib Muchsin Bilfagih, S. Ag
Assalamu ‘alaikum Warahmatullah
Tiada kata yang paling pantas dan lebih indah untuk kita layangkan kehariban Allah SWT, selain menyatakan salut dan kagum kepada Allah yang telah mempertemukan kita semua pada kesempatan kali ini, dalam nuansa iman, dalam nuansa kekeluargaan, dalam nuansa kebersamaan, dalam nuansa keberagaman yang diselimuti dengan cinta dan kasih. Mudah-mudahan kesempatan ini adalah momentum yang agung bagi kita semua, kesempatan yang indah dan mampu memproklamirkan sebuah kesehatan bathiniah dan melahirkan kesehatan lahiriyah, sehingga jasad dan bathin kita bisa bersama dalam sebuah keberagaman kehidupan serta akan melahirkan hidup yang saling maaf memaafkan dan cinta-mencintai.


Selamat bagi kita semua saya ucapkan, mudah-mudahan momentum kali ini akan lebih membawa cinta sepanjang kelahiran, akan membawa pesan moralitas sepanjang kehidupan kita semua. Bahwa hidup bersaudara, bahwa ternyata hidup bersama, bahwa ternyata hidup bergotong royong, itu sangat indah dan kita ke depan akan menjadi manusia-manusia pilihan Tuhan yang akan disambut dengan senyuman dari Ilahi Rabbi. Amin
Kepada manusia kharismatik habibina abal qasim al musthafa Muhammad saw. Kita layangkan shalawat penuh penghormatan setinggi-tingginya. Beliaulah yang menitipkan iman dari Ilahi di tengah-tengah degup dada kita, sehinga mampu kita dipersaudarakan pada kesempatan kali ini bahkan kita mampu saling memberi dan mengulurkan hati juga jiwa semangat kita. Maka bergeloralah momentum hari ini, bergemurulah kesempatan kali ini, seolah kita ingin menyatakan sukur sedalam-dalamnya kepada Allah. Syukur yang tidak dapat kita tukar dengan pangkat dan kedudukan, syukur yang kita berikan kepada Ilahi, sulit untuk kita tukar dengan linangan air mata, syukur yang kita berikan kepada Allah pada kesempatan kali ini adalah syukur yang benar-benar keluar dari relung hati yang dalam, keikhlasan yang tinggi, kemurnian yang agung, sehingga mudah-mudahan (sekali lagi) kita akan dipilih oleh Allah sebagai manusia pilihan di sisi Allah SWT.
Dari kejauhan kita bisa melihat semilir angin bertiup sepoi, menghantarkan siang tadi ingin menjemput malam. Sesekali kita melihat betapa pesona deru sepanjang ‘kelahiran’ membidik di sasaran ‘bedak’ jantung kita. Bahkan, tak jarang di antara manusia yang tergopo-gopo dalam rangka melang-lang buana untuk menjemput kehidupan itu. Tetapi, tak banyak orang yang mampu menangkis deru sepanjang ‘kelahiran’ itu. Sehingga dia terjebak pada nocturne kehidupan malamnya. Hari ini kita bisa betapa siang ingin membelah diri untuk menyampaikan pesan lambaian perpisahaanya, dan semua anak-anak manusia akan memasuki kabut selimut malam dan malam itu adalah waktu beristirahatnya manusia, untuk mengenang pergiliran waktu yang disiapkan oleh Allah kemarin. Dan hari ini adalah ajang pelajaran bagi kita semua. Bahwa inilah sebuah momentum yang membawa berkah bagi kita semua, inilah pertemuan yang akan membawa rahmat dan ini adalah pertemuan yang agung lagi murni, yang manakala terlahir dari hati sanubari dengan penuh keikhlasan, maka kita akan pulang membawa dayung sampan dengan penuh kecintaan, saling memaafkan, saling mengalurkan tangan sehingga mampu mempersaudarakan kita hingga akhir hayat.
Hari ini, salah satu bentuk dari upaya kita adalah bagaimana mengentaskan manusia menjadi manusia yang sejati. Hari ini kita kembali, kita berdayung sampan untuk melakukan instropeksi dengan cara baru terhadap diri pribadi kita. Karena kita terlalu banyak melakukan kesalahan dalam perjalanan hidup ini. Terkadang kesalah itu tidak kita lakukan secara pribadi tetapi oleh karena situasi dan kondisi tertentulah, yang telah menciptakan pribadi kita dan semua kita secara kolektif, kita bersalah, sehingga hari ini adalah ajang pengkajian yang paling utama, dan yang paling pertama adalah saling mencintai antar satu dengan yang lain. Mari kita buka hati nurani dan membuka peluang besar bahwa siapapun yang ada di hadapan kita, sipapapun yang akan mengulurkan kedua tangannya untuk saling merangkul, saling memeluk, maka dialah orang pertama yang harus kita salurkan rasa kecintaan itu. Karena sesungguhnya, ada satu tempat yang disiapkan oleh Allah yang kita kenaldengan ‘surga Al Rahim’ sebagai tempat special bagi orang-orang yang saling mencintai, dan saling memaafkan.
Sekali lagi, selamat kepada kita semua yang datang pada kesempatan hari ini. Kita berkumpul bukanlah sembarang berkumpul, tetapi kita berkumpul untuk memanifestasikan langkah kehidupan kita sebagai anak cucu Adam, sebagai manusia yang terhormat, sebagai makhluk yang telah di pilih oleh Ilahi untuk mengatur, menata dan membina hidup dan kehidupan di bumi ini. Bukanlah hewan yang dipilih Tuhan untuk mengatur kehidupan di bumi, bukanlah hewan di laut, di darat, di udara di gunung-gunung dan di mana saja, bukanlah langit yang diberi kan kesediaanya untuk mengatur bumi, bahkan bukanlah bumi itu sendiri yang akan mengatur dirinya. Tetapi manusia dipilih melebihi dari seluruh makhluk; inni jaa ilun fil arldi khalifah. Ketika Allah dengan spektakuler mengumumkan kepada Malaikat : Hai Malaikat-Ku, sungguh Aku akan jadikan figur-figur manusia di muka bumi ini, untuk mewakili pribadi-Ku (kata Tuhan) untuk membina dan mengatur bumi. Maka kitalah yang dipilih itu, yang untuk sementara waktu kelahiran yang pertama adalah Adam merupakan sebuah representasi, perwakilan kepada kita semua.
Hari ini figur Adam telah pergi, dan lahirlah kita sebagai Adam-adam yang susul-menyusul, dan mudah-mudahan pribadi Adam akan mampu ditiru oleh kita semua untuk mempertahankan eksistensi kita sebagai manusia yang beradab. Karena mungkin, kita lupa, bahwa bagsa Indonesia ini, bangsa yang kita cintai, dalam satu dasa-warsa dewasa ini, dalam satu dekade dewasa ini, telah kehilangan santun dan peradaban. Di antara kita, tidak sedikit anak muda yang tidak menghormati orang-tuanya, di antara kita ada orang tua yang tidak mengerti bahwa dirinya sudah tua, di antara kita ada anak kecil yang tidak mengerti bahwa dia adalah anak yang masih kecil yang mesti ditimang dan harus di bina. Oleh sebab itu hari ini adalah ajang bagaiman kita periksa dan mengoreksi diri pribadi kita, tidak ada satu di antara kita menjadi yang terbaik, selain mereka yang memusatkan perhatian untuk berjalan ke depan menuju kepada kebesaran Ilahi rabbi.
Inti dari pertemuan kali ini, siapapun dari kita tidak satupun menaruh curiga kepada kita semua yang sedang berkumpul di sini. Karena momentum kali ini adalah ajang persaudaraan yang harus kita bangun kembali. Karena memang kita terlahir untuk dipersaudarakan oleh Allah. Dalam statemen Allah; yadullah faukal jama’ah. Kata Allah, kekuatan dan kekuasaan Allah (Tangan Allah), kehebatan Allah, tergantung pada kekompakan berjama’ah. Kekompakan persatuan dan kesatuan kita.
Kita bisa melihat Negara kita, dewasa ini sangat tidak terjalin sifat dan sikap persatuan dan kesatuan itu. Akhir-akhir ini, telah menyusut rasa Nasionalisme. Dulu, sikap dan sifat nasionalisme terhadap bagsa ini sangat tinggi. Sehingga jika ada di antara kita ada yang saling menjelek-jelekkan bangsa ini, maka di saat itu ada yang berontak,ingin membela.
Oleh karena rasa nasionalisme itu tidak tumbuh lagi, maka yang terjadi adalah, pembelaan terhadap suku, yang terjadi adalah pemberontakan SARA, yang terjadi bagaimana seseorang akan membela diri, membela suku dan terjadilah tumpang tindih kehidupan. Heroic zaman berganti, dan yang terjadi adalah sebuah potret keburukan. Kalau hari ini kita melihat sesuatu yang skeptis alias negative, maka itu adalah pekerjaan-pekerjaan kita hari ini. Oleh karena itu, tidak ada yang perlu di kambing hitamkan, tetapi mari kita membaca diri, konsep kehidupan yang di berikan oleh Tuhan; Kuu anfusakum. Yang pertama yang ditegur dan disapa oleh Ilahi adalah bagaimana Saya dan kita semua menugur diri pribadi kita; sudah benarkah ayunan langkah kaki kita ke depan? sudah benarkah ketika Allah menempatkan kedua tangan (kanan dan kiri) kepada kita? Sudah kita manfaatkankah apa keinganan Tuhan terhadap kedua tangan itu? sudah benarkah ketika Allah menempatkan kedua mata kepada kita? Sudah kita gunakankah mata itu sebagaimana manfaat sesuai keinginan Tuhan? Dan seluruh komponen tubuh kita akan menjadi saksi. Surat Yasin mengatakan; watasyhadu arjuluhum bima kanu yaksibuun. Dan kedua kaki Anda akan turut menjadi saksi di pengadilan Ilahi tentang sepak terjang, apa-apa yang sudah kita lakukan di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia.
Hari ini, adalah ajang untuk kita kembali mengenang kesalahan-kesalahan kita. Hari ini adalah ajang dan momentum yang sangat pantas untuk kita jadikan sebagai soko guru, tarbiyah dan pelajaran yang tinggi, agar kita keluar dan kita pulang dari tempat ini kita memetik pelajaran panjang, bahwa, kita harus lahir kembali sebagai manusia yang fitrah, sebagai manusia yang telah dicuci bersih dirinya dan dia akan memberikan senyum kepada semua pihak. Tidak peduli apakah sesame umat beragama, tidak peduli apakah sesama ummat antar agama, tidak peduli apakah dia bersama saudara kandungnya atau saudara tirinya. Tidak peduli apakah dia dengan tetangga atau mereka yang di kampong sebelah pada intinya adalah; syuhuudan kasrah fil wahdah. Mari kita memandang dari yang banyak menjadi satu. Manusia berasal dari satu diri, yaitu Ilahi. Sehingga secara serentak otomatis hari ini, kita telah dipersaudarakan kembali oleh Allah, karena kita berasal dari satu tukang, satu pabrik yaitu Tuhan yang menciptakan kita. Tidak ada di antara kita yang mulia, tidak ada diantara kita yang lebih afdhal dan lebih baik, tetapi yang terbaik itu mereka yang benar, mereka yang mengikuti seruan-seruan Ilahi dan seruan para anbiya, para aulia dan seruan para tokoh agama kepada kita semua.
Kita bersukur kepada Allah, di Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini, zaman demi zaman silih berganti sehingga usia telah semakin dewasa. Sejak zaman orde lama, bangsa ini dipimpin langsung oleh proklamatornya, Ir. Bung Karno, dan terjadilah banyak problem ketika itu. Kemudian digantikan oleh sebuah era yang kita kenal sebagai era orde baru, dipimpin oleh Pak Harto, kurang lebih 32 tahun beliau membawa kita. Kita dapati manis dan pahitnya, sama seperti apa yang telah dijalankan hiruk pemerintahan itu oleh Bung Karno.
Jama’ah sekalian, oleh karena begitu banyak problem yang terjadi, penindasan bathiniyah terhadap bangsa ini. Kita telah terlepas dari penjajahan-penjajahan oleh Negara-negara besar dari luar. Tetapi kita belum selesai melepas diri dari penjajahan bathiniyah kita. Masih banyak hal-hal yang perlu kita angkat ke permukaan untuk menjadi PR panjang agar kita menjadi manusia Indonesia yang sejati, agar kita bisa menjadi bangsa Indonesia yang mencintai bangsanya. Maka konsep dan resep itu sampai hari ini belum kita dapati. Sehingga, lahirlah, tercetuslah, sebuah keinginan masyarakat yang dahsyat. Tumbanglah Pak Harto kemudian digantikan dengan sebuah era yang kita kenal sebagai era Reformasi. Era yang telah melahirkan sistem otonomi daerah.

Tidak ada komentar