Header Ads

TASAWWUF

MEMBUMIKAN TASAWWUF PROGRESSIF
Upaya Merespon Problematika Manusia Modern

OLEH ; Muhammad Ridhwan
PENGANTAR
Manusia terlahir dimuka bumi sebagai hamba sekaligus sebagai wakil Tuhan untuk menegakkan nilai-nilai universal ( al-kulliyah), sebagai hamba manusia dituntut selalu memperhatikan komunikasinya dengan Tuhan yang dalam bahasa keagamaan dikenal sebagai ibadah ritual, seperti sholat, zakat, puasa dan haji. Disamping itu manusia sebagai makhluk yang dikarunia Tuhan dengan seperangkat media seperti rasio, hati, nurani dan pancaindera lainnya untuk memaksimalisasikan kinerja yang diemban yaitu melanjutkan pilar-pilar Transenden (ketuhanan) yang dikontekstualisasikan ditengah hidup dan kehidupan manusia di alam maya pada ini.
Pada perjalanan selanjutnya manusia secara inherien mempunyai aneka kecenderungan dan keinginan yang variatif mulai level irrasional, rasional dan suprarasional. Kecenderungan tersebut tentu saja akan melahirkan ragam titik tekan dalam mengolah dan memaknai hidup dan problem kehidupannya. Sebagai makhluk dinamis, manusia selalu mencari berbagai alternatif dan celah untuk memudahkan mengemban segala beban dan tugasnya. Ternyata hal ini juga terjadi dalam dalam “peribadatan”, orang yang cenderung menjalankan agama secara ritus secara legal-formal (fikih oriented) lebih dikenal sebagai ahl syari’ah, walau terma ini kurang tepat digunakan dalam istilah ini. sementara itu orang yang lebih menitik beratkan ritus agama pada hal yang subtantif tanpa harus terjebak pada koridor legal formal biasanya lebih dikenal sebagai ahli sufi.
Perbedaan diatas ternyata tidak berjalan mulus karena selalu diwarnai konflik yang tidak kecil bahkan banyak sisa historis yang menggoreskan kekelaman dan bahkan tragedy kemanusiaan, betapa kecenderungan tadi mempunyai efek luar biasa ditengah komunitas beragama (religious community). Namun pada pembahasan ini, hemat penulis bukan disini yang tepat untuk membahas masalah tersebut.
Sufisme dalam Islam merupakan suatu tradisi religius yang telah lama berlangsung ditengah komunitas beragama bahkan ada yang mengkalim bahwa sufisme telah berkembang pada zaman Rasulullah SAW, bahkan ditemukan beberapa literatur keagamaan menunjukkan bahwa Rasulullah merupakan peletak dasar sufisme itu sendiri. Namun khal tersebut tentu saja menyisakan beberapa pertanyaan, Apa perbedaan yang esensial antara tasawwuf dengan Syari’ah? Apakah syari’ah dan Tasawwuf berdiri sendiri dalam Islam? Dan seterusnya. Namun secara umum masing-masing mempunyai argumentasi untuk resistensi dari serangan kritis yang mengggugah.
Dalam pembahasan ini, penulis mencoba menyajikan dan menghadirkan suguhan ditengah pembaca sekalian tentang “Tasawwuf Progressif”, ada hal yang penting hemat penulis ketika ingin menyajikan tasawwuf yang progressif dalam pembahasan ini bukan karena ingin membangun argumentasi apologetik, karena bila hal itu dilakukan tentu tidak akan menghadirkan sesuatu yang baru walaupun pada akhirnya nanti tidak menemukan hal yang baru. Tasawwuf sudah ratusan tahun telah dituduh oleh kalangan pengkritik (anti tasawwuf) sebagai ‘biang kerok’ kegagalan dan kelumpuhan peradaban Islam dulu hingga kini. Imam al-Ghazali adalah sekian dari tokoh Sufisme yang diklaim harus bertanggung jawab atas kemunduran Islam ini, karena semua doktrin agama yang yang diajarkan al-Ghazali mengarahkan pola hidup yang menjauhi hiruk-pikuk dunia yang penuh intrik. Saat ini Bagaimana juga Tasawwuf harus ditempatkan sebagai penegak tonggak kehidupan dan serta memberikan resolusi yang berbasis realitas kemanusiaan, seperti keadilan, persamaan, etika dan kasihsayang bagi sesama.

SEKILAS TENTANG TASAWWUF
Mengenai asal kata tasawwuf ini banyak kalangan yang berbeda pendapat. Ada yang bilang berasal dari kata sufah, yang artinya: “nama surat ijazah orang yang naik haji”, bisa juga dari kata kerja safa yang artinya “bersih” dan ‘suci”. Ada juga yang menanggap dari kata suffah, yaitu ruangan dekat mesjid Madinah tempat Rasulullah memberi pelajaran kepada sahabatnya atau diambil dari kata suf yang berarti “bulu kambing” yang dibuat oleh kaum sufi dari Syiria. Memakai suf ini sendiri telah menjadi baju kebesaran orang Kristen sejak Nabi Isa As. Tasawwuf menurut Harun Nasution disebut juga sebagai Mistikisme Islam, Tujuannya sendiri menuju kesederhanaan menjauhi dari sikap riya, sehingga akhirnya menjadi kaum sufi yang mempelajari ilmu tasawwuf. Bagi Annemarie schimmel mengatakan bahwa tasawwuf adalah wilayah dan jangkauannya terlalu luas dan tak satupu yang dapat mengurainya secara utuh, karena ia adalah ranah yang sarat dengan pengalaman pribadi.
Menurut Imam Al Ghozali ilmu tasawwuf adalah tuntunan yang dapat menyampaikan manusia mengenal Tuhan dengan sebenar-benarnya, atau disebut ma’rifat. Oleh karena itu tujuan ilmu tasawwuf tidak lain membawa manusia, setingkat demi setingkat kepada Tuhannya. Sehingga tujuan akhir hidup didunia dan diakhirat nanti dapat tercapai. Sementara menurut Nurcholish Madjid bahwa hal demikian sebagai gejala oposisi Kesalehan sebagaimana yang ada di pemerintahan umayya di Damaskus. Atau setidaknya meniru pola hidup Rasulullah yang sederhana khususnya para sahabatnya (Khulafa al-rasyidin) . Namun tidak melepaskan tanggung jawab sosialnya serta tetap memberikan pencerahan kepada manusia. Sedang tujuan akhir diakhirat yaitu agar dapat bertemu dengan Allah dalam gelimang nikmat kebesaran Allah SWT.
Dalam mempelajari ilmu Tasawwuf, yaitu yang pertama ilmu mukhasyafah, yaitu ilmu untuk membuka tabir hubungan manusia dengan Allah, sedang ilmu yang satunya lagi ilmu mu’amalah, ilmu untuk diamalkan dalam hubungan manusia dengan manusia. Sedangkan dalam pengembangan keseharian, ilmu dibagi lagi menjadi dua yaitu ilmu yang tercela atau dimurkai oleh Allah, dan yang satunya ilmu yang berfaedah atau hikmah, ini adalah ilmu yang diridhoi oleh Allah. Dalam mencari ilmu, tidaklah kita menjadi tercela, tetapi ketika kita mengamalkannya bisa dikatakan tercela bila terdapat 3 hal didalamnya yaitu :

1. Ilmu yang memberi mudarat pada yang mempelajari ataupun orang lain seperti ilmu sihir, santet, guna-guna dsb.
2. Ilmu yang sewaktu-waktu bila digunakan dapat membahayakan orang lain seperti astrologi, baik bila untuk mencari kebaikan, tetapi menjadi tercela ketika untuk mencari kelemahan orang lain, atau bahkan mencelakainya.
3. Menyelami ilmu tanpa batas hanya akan memusingkan dan tidak berfaedah apa-apa. Sedikit asalkan istikomah lebih baik dibandingkan banyak tetapi tidak rutin.

Ajaran ilmu berdasarkan kesufian untuk mendapatkan keridhoan Allah untuk mendapatkan jalan atau tarekat kepada Allah. Jalannya yaitu dengan mujahadah, riadah , membersihkan hati, mengosongkan dari segala yang berkaitan dengan duniawi. Ilmu sufi ini terbagi menjadi 4 bagian yaitu : pertama, Ilmu Syariat Ilmu yang memperhatikan peraturan-peraturan agama yang diturunkan Tuhan kepada NabiNya. Sedang ilmu Syariat menurut orang sufi yaitu meninjau lebih dalam hukum-hukum syariat itu seakan membuat lebih mesra kepada hati dan jiwa seseorang, sehingga seringkali dianggap menyimpang dari hukum-hukum fiqih tertentu. kedua, Ilmu Tarikat Jalan untuk mencapai tujuan kepada Tuhannya. Orang melakukan disebut salik. Tujuan dari tarekat adalah mempertebal iman para pengikutnya sehingga tidak ada yang dicintai selain Allah. Ketiga Untuk mencapai hal tersebut manusia harus menjalankan beberapa hal seperti : Ikhlas - bersih segalam amal dan niatnya dalam mengerjakan pekerjaan maupun ibadah dan beramal, hanya mengharap keridhoan dari Allah SWT. Muraqobah - merasa gerak-geriknya selalu diawasi oleh Allah. Muhasabah - memperhitungkan laba rugi amalnya dengan selalu menambah kebajikan. Tajarrud - melepaskan diri dari segala ikatan yang menghalangi dirinya menuju jalan dalam mencapai cita-citanya kepada Allah, tetapi dengan tetap memperhatikan syariat yang ada.
Guru yang memberi petunjuk dinamakan syeh atau mursyid, ia memberikan latihan-latihan dzikir/wirid (riadah), lebih banyak menyendiri (khalwat), sehingga menetapkan ingatannya hanya kepada Allah (tawajuh). Sedangkan pengikutnya dinamakan murid yang dibaiat oleh mursyid (guru) untuk bersumpah setia untuk menjaga diri dari segala perbuatan maksiat (melakukan taubat).
Sedangkan dzikir para sufi cara seperti : Dzikir lisan, melafadkan “Laa ilaa ha ilallah”. Dzikir qalbi, hanya diucapkan dalam hati, tetapi lidah tetap bergetar dengan mengucap dalam hati “Allah..Allah..”, Dzikir sirri yang diingat secara rahasia dan dilafadkan secara halus dan pelan, yaitu “Huwa”
TINGKATAN MANUSIA MENURUT ILMU TASAWWUF
Ma’rifat itu datangnya dari dua jurusan, yang pertama berdasar Ainur Juud atau “mata kemurahan,” ini murni karena kehendak Allah, dan Badzlul Majhud, ini karena riadho atau ikhtiar kita dengan daya upaya manusia. Sedangkan tingkatan (maqom) manusia untuk sampai kepada ma’rifat seperti yang tercantum dalam kita Hilyatul Auliya adalah sebagai berikut : Bertobat ,(At-Taubah), Takut (Al-Khauf), Harapan (Ar-Rajaa) Orang-orang yang saleh (Ash-Solihin), Para yang berhasrat dan penempuh (Al-Muridin) Selalu Taat (Al-Muthiin), Para Pencinta (Al-Muhibbin), Yang selalu merindukan (Al-Musytaqin), Para Wali atau kekasih (Al-Auliya) dan Yang paling dekat (Al-Muqorrobin)

TINJAUAN BEBERAPA TUJUAN TASAWWUF
Tasawwuf bertujuan Pertama, Membersihkan jiwa dari sifat tercela dan menghiasinya dengan sifat terpuji Kedua, Tekun beribadah, bertakarub, tafakur dan dzikir kepadaNya untuk mencapai manusia baik yang diridhoi Allah. Ketiga Mendapat ketenangan hati dengan cara musyahadah, ma’rifat billah dan selamat didunia sampai akhirat mendapat balasan surga tempat yang kekal nikmat abadi
Sedangkan kebatinan tujuannya adalah Pertama, Berusaha hidup sempurna dan bahagia lahir bathin dengan membangun budi pekerti yang luhur. Kedua, Mensucikan jiwa dan menanamkan rasa cinta kasih. ketiga, Hidup damai serta gotong royong untuk kesejahteraan umat demi tercapainya kesempurnaan bathin. Nurcholish Madjid yang selama ini sebagai pemikir Muslim Liberal mengakui bahwa efek dari tasawwuf itu luar biasa dahsyat. Jika dilihat secara analisis historis maka diperoleh kesan kuat bahwa tasawwuf cenderung ‘melawan diri sendiri” atau “mengalahkan diri sendiri”, “membuat jarak dengan dengan hal-hal duniawi” bahkan “membenci dunia”, akibat kesan tersebut maka sikap ketasawwufan dapat menjurus kearah kepassifan dan eskapisme. Namun, akibat kesan minus itu al-Taftazani tidak setuju terhadap kesan ini, justru tasawwuf itu bersifat aktif dan positif.

TASAWWUF SEBAGAI MANISFESTASI KEIMANAN YANG BERBASIS SOSIO-ANTROPOSENTRIS
Apa dan bagiamana sesungguhnya Tasawwuf yang berbasis Sosio-antroposentris itu? Terkesan utopis dan seakan akan melahirkan sebuah teori baru mengenai tasawwuf. Sesungguhnya term tersebut hanya penulis gunakan untuk menganalisa eksistensi tasawwuf sebagaimana selama ini tasawwuf difahami oleh masyarakat sebagai ritus-ritus spiritual yang melangit tanpa pernah menyentuhkan kakinya ditengah realitas sosial manusia di bumi. Dalam ajaran Islam posisi Iman sebagai tonggak dan pilar Tasawwuf sangat menentukan dan signifikan adanya, namun kesenjangan des solen dan des sain ditengah realitas kemanusiaan. Kondisi sosio-antropolgis ini merupakan salah satu bagian fakta paling penting dan paling jelas untuk meneropong perspektif tasawwuf bahwa betapa keimanan atau konsepsi keimanan yang ada pada ummat selama kurang tujuh abad tenggelam dikeheningan Kontemplatif –Teologis (Tasawwuf). Barangkali kritik ini yang dimaksud oleh Sigmund Freud sebagai keberagamaan yang escapis (?) dahulu sebagaimanan yang dialami oleh masyarakat Kristen di Eropa, akhirnya mereka melarikan diri pada “Tuhan” akibat tidak mampu menghadapi tantangan hidup maka mereka “menciptakan agama” sebagai tempat berpelipurlara dan corak keberagamaan seperti itu kriterianya sangat dekat corak tasawwuf.
Masyarakat modern khususnya masyarakat metropolis seperti saat ini juga “mengidap penyakit yang sama” menghadapi aneka persoalan hidup yang kian semakin kompleks maka sebagai jalur alternatif yang paling tepat adalah menggeluti atau mengikuti kajian-kajian tasawwuf atau bagaimana menjadi “being a Sufism”. Keimanan telah direfleksikan menjulang kelangit sementara problem dibumi tidak dilirik sedikit pun. Menurut Amin Abdullah bahwa Bila kita lihat lebih jauh sisih lain yang tak terpisahkan dari ajaran Nabi Ibrahim As. adalah mengajarkan pada inti Tauhid dan sosial. Dalam istilah Amin bahwa keimanan yang berkembang ditengah masyarakat bersifat "transcendental-contemplatif". Para pemikir klasik telah banyak menguraikan tentang aspek iman dengan sosial praksis, jika Iman hanya bersifat transcendental belum berhasil menyapa persoalan yang dihadapi manusia dibumi yang demikian rumit maka pada dsaarnya keimanan yang ada baru sebatas ikrar.
Ajaran Islam memuat nilai-nilai sosial dan tidak berhenti hanya disana tetapi juga memuat tentang ajaran susila, budi pekerti dan sikap hidup. terkait dengan masalah tersebut telah banyak disebutkan dalam beberapa hadits Nabi. Tentu saja ini memberikan indikasi kuat bahwa perkara keimanan tidak parsial dan aspek sosial memang terabaikan.
Senada dengan hal diatas Said Nursi mengandaikan bahwa keimanan akan menjamin serta menampung harapan dan kebahagian manusia yang mantap dalam keimanannya. Iman yang terpatri akan menerbitkan sensititas Transcendental (pola sufisme) sekaligus peka terhadap realitas disekelilingnya Menumbuhkan kepekan sosial adalah mutlak karena hal demikian menjadi parameter Tuhan.
Iman tidak mempunyai arti Tashdiq, yaitu menerima yang dikatakan dan disampaikan orang sebagai sesuatu yang benar. Ada beberapa kalangan ahli kalam klasik dan aliran teolog, para pengamal tasawwuf yang mempunyai pandangan bahwa tashdiq itu bukanlah integrasi Iman, iman bukanlah Tashdiq bukan pula ma’rifah tetapi Iman yang sesungguhnya adalah ilman yang dapat melahirkan amal sholeh akibat kesadaran intuitif tentang Tuhan, tegasnya bahwa Iman akan melaksanakan perintah-perintah Tuhan. Semekntara itu menurut Abdul Jabbar, Iman dalam arti mengehtahui belumlah cukup, menurutnya orang, mengetahui tuhan tetapi melawan padanya bukanlah mukmin. Pendapat ini memberikan indikasi pada kita bahwa konsep pemahaman yang ditawarkan oleh Abdul Jabbar bernuansa transcendental –kontemplatif.
Nurcholish Madjid mengulas panjang tentang beberapa dimensi keimanan dalam keterkaitannya dengan problem dan kepedulian sosial. Menurutnya kesempurnaan esoteris (keimanan) seseorang muslim harus melengkapinya dengan segi-segi eksoteris (antroposentris) yang berdimensi social-horisontal sesama. Selain individual vertical dengan Tuhan juga social horizontal sebagai bentuk kerja paket “teosentrisme-antroposentrisme” dalam kegiatan hidup.
Rasa kemanusiaan tetap berlandaskan rasa ketuhanan, justru kemanusiaan sejati hanya terwujud jika dilandasi ketuhanan. Karena menurut Cak Nur hubungan Iman dan amal shaleh sangat dekat dan menjadi satu paket dalam proses hidup sebagai khalifah dan hamba dan tidak akan terwujud nilai-nilai yang berbasis kamanusiaan dengan mengabaikan salah satunya, begitupun tidak terwujud nila-nilai etis Ketuhanan dalam kehidupan manusia dengan mengabaikan aspek kemanusiaan (ignore of humanity values). Realitas ini kemudian melahirkaln karya seorang fakar seperti Ashgar Ali Engginer dalam bukunya liberation theology sangat kental mengkritisi berbagai konsepsi teologi klasik yang menyempit dan parsial dalam tempo tertentu, sehingga misi pembebabasan yang semestinya sudah terjewantahkan dalam kehidupan social kemasyarakatan yang nantinya akan menjadikan orang beriman itu tidak mengalami rigiditas dan kebekuan peradaban. Menurut Ashgar kata Iman yang telah melekat adalah suatu pengandaian bahwa orang beriman itu layak dipercaya, dapat menciptakan kedamaian dan ketertiban, Iman kepada Allah Sesunnguhnya menyangkut komitmen kuat dan tegas untuk memngantarkan manusia pada perjuangan yang keras untuk menciptakan masyarakat yang berkeadilan, penuh kedamaian.
Keimanan tidak tersusun dalam bentuk struktur teori yang rumit, konsekuensinya akan menjadi ‘laporan pertanggungan jawab” pada Tuhan, hakekat keimanan bukan pada pembelaan pada Tuhan tetapi adalah pembelaan dan keberpihakan pada manusia yang tertindas, termarjinalkan hak-haknya, dirampas hak-hak hidupnya kaum miskin kota. Sikap yang berpihak itulah iman. Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan dengan keras bahwa :
Tidak beriman seseorang yang tidur dalam kekenyakan sementara tetangganya tidur dalam keadaan lapar…(hadits)
Hadits tersebut diatas dengan tidak segan-segan menyerang penganut Iman individualistis-egoistis seperti ini dan entahlah apalagi namanya, padahal menurut Kiyai Ali Yafie ‘al-insanu madaniyyun mutthabi’i (manusia pada dasarnya adalah kemasyarakatan) artinya manusia adalah mempunyai konsekuensi sosial. Teologi yang tidak memberikan kebebasan kepada manusia bersifat spasio-temporal, padahal teologi sangat memberikan ruang yang bebas kepada manusia, sama sekali tidak mengejutkan bahwa pembicaraan dalam teologi sebenarnya penuh ketidakjelasan metafisis dan masalah-masalah abstrak, jelas faham keagamaan seperti ini pro status quo atau pro tiran. Menurut Ashgar semakin teologis dan semakin tidak jelas metafisis maka semakin memperkuat status quo.
Dalam suatu riwayat diaktakan bahwa, pada zaman Nabi Muhammad SAW konon hiduplah seorang perempuan yang dikenal sebagai hamba yang rajin beribadah kepada Allah SWT, ia menghabiskan waktu merampungkan berbagai macam ritual, ketika dikabarkan hal tersebut pada Baginda Rasul, maka Rasul pun memberikan jawaban diluar dugaan para sahabat, kenapa gerangan dengan perempuan itu? Beliau menjawab bahwa perempuan tersebut termasuk ahli neraka, dalam keterangan beliau bahwa perempuan tersebut memang ahli ibadah tapi dia tidak memperdulikan kehidupan lingkungan sekitarnya. Lagi-lagi persoalannya adalah kesenjangan sosial dan krisis cinta-kasih sayang terhadap sesama. Bukankah Rasulullah menganggap seseorang tidak beriman seseorang yang tidur dalam keadaan perut kenyang sementara tetangganya tidur dalam keadaan perut lapar.
Adalah Rasulullah sangat membenci kesenjangan seperti itu. Akhlak merupakan keniscayaan dalam kehidupan bersosial, karena bagaimanapun juga pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan makluk sosial lainnya dan akhlak merupakan hal terpenting penentu integritas pribadinya. di Negeri ini tidak kurang orang yang cerdik pandai, intelektual tapi bermental hewan, serakah, tidak jarang melacurkan ilmu demi kepentingan pribadi atau golongan mengambil dan memakan hak orang lain tanpa mempedulikan nasib orang kecil yang sangat memerlukannya. Orang kecil pun selalu menjadi orang pertama merasakan kesusahan akibat dari keserakahan manusia-manusia serakah.
Karena itu keimanan sangat menetukan keberagaman seseorang, posisinya fundament bagi kelangsungan dan eksistensi manusia itu sendiri, iman yang menghujam kedalam ibarat pohon yang kuat, akarnya menguat didasar bumi, pohonnnya menjulang ke langit, dahan dan daun lebat rindang, buahnya segar dan manis, amal bil jawari atau amal praksis ibarat pohon tadi. keimanan itu secara eksplisit terkait erat pula dengan moralitas antropologis. Maka dari itu dibutuhkan sebuah komitment untuk mewujudkan beberapa prinsip keimanan agar tidak terjadi kevakuman makna antara “idealitas” dan “realitas”, mengingat bahwa komposisi hadits yang saat ini akn disajikan bersifat tematis serta mengurai secara intrinsik keterkaitannya dengan tema persaudaran, empati, cinta dan benci akibat terbitnya keimanan semata.
Krisis negeri ini cenderung menjadi semakin ruwet justru ketika agama terlibat dan dilibatkan di dalamnya. jika saja ajaran agama dapat diletakkan dalam peta kebudayaan, banyak krisis dan konflik yang bermula dari masalah sosial, ekonomi dan politik yang kemudian memasuki wilayah keagamaan, akan bisa diurai dan dicarikan jalan pemecahan. sayang, pikiran dan usaha demikian selalu ditolak dan dipandang melecehkan agama atau tuhan itu sendiri. konflik yang antara lain mendorong tindak kekerasan itu justru bisa dipandang sebagai bagian pemenuhan ajaran Tuhan.
Kesalehan kemudian dipandang bisa dicapai dengan tindakan "antikemanusiaan" itu sendiri. itulah problem mendasar dan peka dalam hubungan keagamaan dan kemanusiaan, kebudayaan; kesenian, ilmu pengetahuan dan teknologi. sementara kegiatan keagamaan cenderung kurang memberi apresiasi masalah kebudayaan dan kurang peduli berbagai masalah sosial dan kemanusiaan. di situlah akar konflik berbau agama di sepanjang sejarah peradaban dan sejarah kebangsaan indonesia khususnya. tanpa pencerahan kebudayaan dalam keagamaan, konflik keagamaan masih akan meluas, lebih keras, eksplosif dan massif. Iman semestinya tidak terpasung dan antisosial. Munculnya dan marakany Jama’ah tarekat atau penganut sufistik ditanah air bisa bertanda baik juga sekaligus bertanda buruk. Baik dalam arti ada kesadaran beragama dan buruk bila agama ditunggangi untuk kepentingan duniawi dan tidak punya dampak jelas bagi bagi problematika manusia atau ummat Islam.
Islam tidak welcome dengan gerakan-gerakan sufistik yang muncul belakangan ini dan meninabobokan kita dalam kemunduran umat. Sekarang ini umat butuh mental jujur dan moral kerja keras yang dengan keduanya umat bisa lebih cerdas dan lebih sejahtera. kalau menengok kedunia tasawuf disana terdapat asbab disamping tajrid dan itu bibit-bibit kecerdasan dan kesejahteraan umat. Jadi, bukan pada institusi tasawufnya yang dipersoalkan, tapi lebih pada implementasi ajaran dan nilai-nilai sufistik di tataran riil.
Konsep kepedulian sosial dalam Islam sungguh cukup jelas dan tegas . Bila diperhatikan dengan seksama, dengan sangat mudah ditemui dan untuk saya mengatakan bahwa masalah kepedulian sosial dalam Islam terdapat dalam bidang akidah dan keimanan , tertuang jelas dalam syari’ah serta jadi tolok ukur dalam akhlak seorang mukmin. Begitu juga Allah menghargai mereka yang melaksanakan amal sosial dalam kontek kepedulian sosial tersebut sebagaimana juga Alah sangat mengecam mereka yang tidak mempunyai rasa kepedulian sosial.

MENGENAL TASAWWUF PROGRESSIF
1. Proyek Pembebaskan dan Pro Kemanusiaan
Apa dan bagaimana Tasawwuf progressif itu ? dan apa signifikansinya ditengah zaman modern ini? tasawwuf tidak mestinya melulu ritus eksklusif dan antisosial, atau dengan tujuan-tujuan yang pribadi seperti menimbulkan “aura” supaya disegani, di lindungi dan dibela atau motif-motif duniawi lainnya pada dasarnya tasawwuf demikian dalam istilah Jalaluddin Rahmat –“Pseudosufisme” alias sufisme gadungan. Tasawwuf bukan hanya Zuhud terhadap dunia tetapi lebih berani menata hidup dan kehidupan itu sendiri, bila tasawwuf sebagai upaya meniru prilaku dan pola hidup Nabi Muhammad maka Rasulullah adalah sebagai sebaik-baik contoh dalam hal ini. Rasulullah sebagai pribadi yang secara komplek (Kaffah, Kulliyah) tidak bersifat parsial eksklusif (Juz’iyyah ) dari kehidupan sosial. Seorang yang sangat spiritualist dan sekaligus sosialis, transformatif, progressif dan emansipatoris. Tasawwuf tidak berarti suatu tindakan pelarian diri dari kenyataan hidup sebagaimana yang dituduhkan yang anti, tetapi ia adalah usaha mempersenjatai diri dengan nilai-nilai ruhani yang baru utk menghadapi realitas dunia yang materialistik dan positifistik. Sebagai wahana keseimbangan sepanjang dapat mengaitkan kehidupan pribadi dan kehidupan sosial.-kemasyarakatan.
2.Tasawwuf meretas Problem Kemiskinan
Kemiskinan menjadi salah satu masalah besar yang dihadapi di tanah air saat ini, angka pengangguran semakin meningkat dan lain sebagainya dan hal itu telah menjadi problem yang sangat "berumur" dan merupakan penyakit sosial yang paling akut, sehingga tak kurang-kurangnya ajaran-ajaran agama samawi dan perundangan-perundangan negara moderen memberi janji perlindungan kepada semua orang miskin.
Dalam konteks agama, kemiskinan merupakan salah satu penyebab seseorang tergelincir pada kekufuran, sedang dalam konteks politik, kemiskinan merupakan sumber dari munculnya kerawanan sosial. Adalah kekeliruan yang sangat besar bila Tasawwuf diidentikkan dengan kemiskinan tapi justru menyokong ummat untuk tidak hidup dalam belenggu kemiskinan yang wawan menggiring menyalahkan Tuhan dan melahirkan sikap kufur.
Perintah zakat, infaq, shadaqah dan beramal shaleh merupakan bentuk apresiasi agama dalam memberikan perlindungan kepada semua orang miskin. Lalu, tumbuh berjamuran lembaga-lembaga yang mengurusi zakat, infaq dan shadaqah baik yang dikelola swasta maupun yang ditangani Negara sendiri, seperti BAZNAS atau BAZIS misalnya. Begitu halnya dengan Departemen Sosial, salah satu tugas utamanya adalah memberi seluas mungkin peluang sosial ekonomi kepada orang-orang miskin agar mampu bergulat secara nyata untuk mengentaskan diri mereka sendiri dari jerat kemiskinan. Lalu lahir istilah (yang sebenarnya jauh dari stimulasi untuk mengentaskan diri mereka sendiri) macam “raskin” sebutan beras untuk orang miskin atau kartu gakin istilah untuk kartu dispensasi biaya berobat keluarga miskin.
Lalu kenapa catatan statistik menunjukkan angka kemiskinan bangsa kita kian menaik tajam ? Mekanisme birokrasi kita yang kapitalistik, koruptipkah atau tak pernah ada rasa keadilan dimana-mana? Terlepas dari itu semua, meski disertai kritik tajam, Masdar Farid Mas'udi, menaruh harapan penuh pada gerakan-gerakan tasawuf yang marak bermunculan belakangan ini. Meski demikian, harapan itu hanya ditujukan pada gerakan-gerakan tasawuf yang membebaskan, bukan gerakan tasawuf yang membelenggu. Apa dan bagaimana gerakan tasawuf yang membebaskan dan membelenggu itu? Bagaimana pula paradigma tasawuf yang dapat membebaskan kemiskinan?.
Menurut Masdar F Mas’udi bahwa saat ini tidak sedikit komunitas tasawuf atau jam'iyyah thariqah sekalipun sekarang ini yang lebih menomor satukan doa, dzikir atau wirid. Mereka dininabobokan oleh ritual-ritual macam itu dan nasib umat pada akhirnya terlupakan oleh komunitas tasawuf. Dan rupanya, Tuhan tidak terlalu berkenan dengan cara seperti itu sehingga umat Islam, terutama dalam sektor ekonomi dan pendidikan semakin terpuruk. Ketidak cerdasan mereka terletak pada pemahaman ajaran dan "institusi" sufi yang pasif. Mereka yang tidak cerdas, memahami bahwa ketika seseorang masuk ke dunia sufi, meninggalkan dunia atas nama zuhud. Kemudian lari dalam dunia khayal. Masih atas nama zuhud ia menghias diri dengan kesalehan ritual, baju diperputih, mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut turut diperputih, jalannya merunduk, seolah sudah mensucikan dirinya dan sudah menjadi sufi padahal tidak melakukan dan tidak merubah apa-apa. Lagi-lagi atas nama zuhud, ia seolah-olah enggak mau mencari dunia tapi ingin hidup mewah dengan keduniaan.
Selanjutnya Masdar F. Mas’udi menggambarkan kedudukan ideal bahwa Seorang sufi boleh saja hidup kaya raya, berdasi dan mobilnya bukan kijang, boleh juga mercy. Tapi apa yang dimilikinya itu harus hasil kerja kerasnya sendiri, bukan mengeksploitir umat atau jamaah. Kalau dia hidup mewah tapi hasil dari menengadahkan tangan pada jamaah, terkutuk itu ! Masdar Mengutip dari kitab at-ta'arruf, Al-Junayd mengatakan bahwa seorang sufi tidak seharusnya berdiam diri di masjid dan berdzikir saja tanpa bekerja untuk nafkah hidupnya. Sehingga untuk menunjang kehidupannya, orang tersebut menggantungkan dirinya hanya pada pemberian orang lain.
Dari sini jelas bahwa Al-Junayd mengajarkan bahwa seorang sufi harus tetap bekerja keras untuk menopang kebutuhan hidup hariannya. Malah, masih menurut Al-Junayd, jika sudah mendapatkan nafkah, dianjurkan seorang sufi mendermakan sebagian hartanya kepada siapa saja yang membutuhkan. Karena itu, setiap sufi harus menjadi pengentas-pengentas kemiskinan. senada pula yang disampaikan oleh Kyai Ahmad Zubaidah “Tak ada ideologi atau agama di dunia ini yang tingkat sosialnya melebihi Islam. Maka kalau ada orang kaya tetapi bakhil, dia pembohong besar terhadap agama, sekalipun sholatnya rajin,”. Oleh karena itu Kyai Ahmad Zubaidah atau lebih dikenal dengan Cak Idah saat ini dalam pengajian, ceramah, atau dialog selalu mengungkapkan pentingnya amal sosial. Ia pun mengharapkan kalau bisa hal tersebut juga digerakkan di pengajian-pengajian tasawuf. Sebab kalau sekedar teori tanpa praktek, keberagamaan tidak ubahnya bangkai, tidak ada ruh, dan orang tidak akan merasakan bagaimana lezatnya iman, lezatnya beragama.
Masdar Juga Mengakui bahwa Tidak kecil sumbangsih gerakan sufi dalam membangun peradaban pra kemerdekaan, lepas dari kontroversi yang ada, sebut saja misalnya "pemberontakan petani Banten 1888, Syeikh Siti Jenar yang mengajarkan asas musawah (kesamarataan) dan 'adalah (keadilan), KH. Ahmad Rifa'i, asal Batang, Jawa Tengah, yang mengorganisir kekuatan massa menentang keras pemerintah kolonial Belanda, Kiyai Saleh Darat yang mengilhami R.A, Kartini menulis buku Habis Gelap Terbitlah Terang, atau Hamzah Fansuri di Aceh yang puisi-puisinya masih terus bersinar hingga sekarang.
3. Tasawwuf Terapi Anti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme
Dalam usaha mengembalikan kehormatan bangsa ini, merajut keutuhan bangsa dalam Bhinneka Tunggal Ika, meretas kebekuan komunikasi antar anak bangsa dan menutup kesenjangan sosial yang tinggi ini, justru banyak sikap para pemimpin kita dengan tanpa malu “merampok” uang rakyat dalam jumlah yang tidak ketulungan. Hati rakyat menyayat disertai sumpah serapah. Sementara itu mereka hidup serba kekurangan. “Para pemimpin” kita seolah tidak mempunyai hubungan sejarah dalam memperebutkan kemerdekaan, “seolah mereka “buta” dengan realitas ini, Begitu tega mereka melakukan korupsi, belum lagi penampilan mereka yang sok suci (innocent), seperti sosok pemimpin yang bijak, padahal semuanya hanya sekedar topeng”

Saat ini bangsa kita telah dilanda suatu penyakit sosial yang sangat memalukan bahkan celakanya lagi mental itu cukup “berprestasi” ditanah air yaitu penyakit mental ialah korupsi dengan segala bentuknya, bila kita paralelkan dengan beberapa hadits Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita bahwasanya seseorang tidak akan mencuri selama ada Iman dihatinya, seseorang tidak akan berzina selama ada Iman dihatinya. Tasawwuf sebagai media training atau olah rohani untuk mencapai kebeningan hati olah kecerdasan spiritual.
Salah satu pilar penting dalam Ajaran kita adalah Ihsan, yaitu sikap selalu berada dibawah kontrol yang maha kuasa. Secara terminologis Ihsan adalah bentuk sikap yang seolah-olah dapat “melihat Tuhan” sehingga tidak adalagi yang lebih atraktif dan nikmat diperhatikan selain “wajah-Nya” dan bila kemamapuan untuk “melihat-Nya” masih terbatas oleh kualitas iman yang bersangkutan maka secara nurani selalu merasakan ada spionase bahwa Tuhan selalu melihat segala tindak tanduk kita. Konon kemampuan atau kecerdasan spiritual ini lebih banyak memainkan peran intuisi atau “nurani” yang berarti cahaya (yang bersifat cahaya atau menerangi kata hati).
Jadi pengertian yang dapat ditarik ungkapan diatas (mafhum mukhalafahnya) adalah tentu saja untuk menohok para pelaku korupsi, nepotis dan kolusi bahwa pada dasarnya hati mereka sangat kotor tidak ber“nurani”. Kegelapan hati kemudian secara serakah merampok uang rakyat. Artinya mereka tidak punya lagi cahaya hati atau nurani untuk menyinari titik kesadarannya.
Secara praktis ditinjau dari psikologi tasawuf, sumber utama penyebab korupsi lebih pada faktor psikologis daripada ekonomi atau sistem. Mental seorang koruptor tidak lagi sehat, hatinya kotor karena tidak pernah diisi dengan nilai-nilai ilahiah. Bahkan Sholeh mengatakan bahwa seorang koruptor adalah psikopat, yang bercirikan mengejar-ngejar kenikmatan duniawi tanpa memedulikan norma agama dan sosial, lebih-lebih si koruptor justru merasa bahagia, asyik dengan mainannya sendiri, tanpa menghiraukan orang lain. “Jadi, jangan mengharapkan rasa malu dari seorang koruptor. Karena ada pembajakan emosi, rasionalnya sudah tidak terpakai lagi,” demkian penjelasan Mohammad Sholeh, Guru Besar IAIN Sunan Ampel Surabaya dan salah Seorang pakar psikoneuroimunologi di Tanah Air.
Bahkan menurutnya berdasarkan surah Al ‘Ankabut ayat 45, Innash shalaata tanhaa ‘anil fahsyaa-i wal munkar. Selain itu shalat adalah amalan yang pertama kali ditanyakan di akherat nanti. Namun shalat yang bagaimana dulu? Sebab belum tentu orang yang shalat lima waktu, shalat tahajjud, dhuha, puasa, steril dari korupsi, lihat dulu kualitas shalatnya, lanjutnya. Jawabannya adalah shalat yang khusyuk, yaitu shalat yang didasari oleh kesadaran mendalam terhadap makna, tujuan, dan konsekuensinya, bukan sekedar ritual untuk menggugurkan kewajiban, yang pada pelaksanaannya tetap harus dikerjakan dengan rileks. Oleh karena itu Sholeh mengusulkan diadakannya pelatihan shalat khusuk bagi para pejabat.
Tasawwuf punya peranan penting untuk mengendalikan dan meningkatkan daya sensitifitas terhadap nilai-nilai transendetal, bila hal demikian dilakukan secara berkelanjutan niscaya akan menciptakan suatu cara pandang yang ihsan. Selalu merasakan kehadiran Tuhan kapan dan dimana saja semacam ini dalam dunia teosofi dikenal dengan istilah teknis Omnipresent. Dengan konsep ihsan menurut Rasulullah ini Tuhan tidak ditempatkan “terlalu jauh” tetapi juga tidak terlalu dekat. Hemat penulis, orang yang rawan terlibat korupsi dengan pengandaian sikap yang sufistik seperti diatas mustahil akan terjerembab dalam jebakan perbuatan nista seperti Korupsi, Kolusi dan perbuatan-perbuatan yang sejenis.
4. Tasawwuf Terapi Meredam Komplik Horizontal
Indonesia sedang dilanda krisis cinta kasih-sayang. Bagaimana tidak, akhir-akhir ini Indonesia mendapat sorotan tajam akibat banyaknya aksi-aksi kekerasan dan tragedi kemanusiaan yang menyayat hati. Korban berjatuhan dan meninggalkan duka sekaligus trauma yang mendalam bagi kita semua dan begitupun para keluarga korban yang ditinggal oleh orang-orang yang dicintainya. Motif peledakan bom di Bali apapun alasannya tetap saja tidak bisa ditolerir walau ditinjau dari perspektif Agama atau ideologi tertentu yang memberikan legalitas atas aksi tersebut. Hampir dapat dipastikan bahwa aksi kekerasan tersebut yang telah mengakibatkan puluhan, ratusan bahkan ribuan orang harus menjadi “tumbal” adalah kejahatan yang nyata, pembunuhan secara serampangan semakin memperkuat asumsi bahwa mereka adalah sekolompok manusia “sadis” berhati keji dan dengki yang tidak lagi mengindahkan norma-norma agama atau moral walau itu dari hasil penafsirannya atas doktrin Agama. Bahkan telah kehilangan rasa cinta kasih sayang terhadap sesama mahkluk Tuhan.
Bangsa gersang dari nilai moralitas spiritual akan mengakibatkan ekses yang buruk pada kehidupan bermasyarakat. Sensitifitas sosial, antara komunitas bangsa, antara penganut agama, antar mazhab semua jadi tumpul, sehingga dengan mudahnya kita menyaksikan dengan kasat mata betapa timpangnya realitas kehidupan sosial kita. Orang tidak lagi memandang orang lain sebagai bagian dari integritas sosial yang utuh. mengembangkan etika intrinsik agama itu sendiri yang saling menghargai, toleran, dan ramah. Semua agama secara intrinsik mengajarkan tentang toleransi dan perdamaian. Kedua, ada kondisi (pengondisian) di luar kelompok agama, terutama pada negara itu sendiri, untuk memberikan akomodasi bersama bahwa rumah ini rumah milik bersama (sense of belonging). Karena itu, kalau rumah ini roboh atau terbakar, yang terancam sebenarnya seluruh penghuni rumah.

Manusia modern yang kosmopolit adalah manusia secara sadar atau tidak telah mengalami dekadensi moral dan krisis spiritual. Gelombang modernitas dari Barat yang membawa faham materialistik, individualistik dan positifistik telah menghantam sendi-sendi “peradaban timur” (baca : etika agama). ‘Timur’ seolah tenggelam dalam terpaan globalisasi dan westernisasi tanpa mampu memfilternya secara ketat. Sehingga pada akhirnya masyarakat Indonesia pun terbiasa dan terpola dari setting global yang demikian gencar merecoki segala lini kehidupan, kesan Barat yang selalu diasumsikan sebagai rujukan kemodernan. kemajuan di Barat adalah kiblat modernitas dengan segala nilainya. Masyarakat kita memandang dengan segenap gegap gempita, menyambutnya tanpa seleksi, Barat dan Timur tidak perlu dikotomikan dan ditempatkan pada posisi binner. Pada hakikatnya kebenaran itu juga tidak selalu terbit ditimur dan begitupun kejahatan tidak selalu muncul di Barat. Masyarakat kita sebenarnya hanya latah terhadap “sense of modern”. Pola hidup yang materialistik dan individualistik-positifistik menggiring manusia pada kehidupan yang jauh dari sentuhan religi.
Islam mengajarkan keseimbangan pola hidup, antara kehidupan duniawi dan ukhrawi adalah dua hal yang berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan. Salah satu keunggulan ajaran Islam terletak pada konsep keseimbangan ini. Perlu dipahami bahwa hakikat hidup menuntut suatu konsekuensi sosial, yaitu manusia sebagai makhluk yang mempunyai dimensi vertikal dan dimensi horizontal sekaligus. Allah SWT memberikan warning kepada manusia bahwa manakala kedua dimensi itu diabaikan, Allah SWT akan menimpakan suatu kehinaan dari mana saja arahnya sebagaimana dalam firmanNya :Akan ditimpakan kepada mereka suatu kehinaan dari mana saja kecuali mereka meneguhkan hubungannya kepada Allah dan hubungannya dengan sesama manusia.

Harta dan kekuasaan telah menjadi icon “sesembahan” dalam kehidupan manusia terdahulu dan kini, tidak sedikit legenda dan kisah yang bisa dijadikan i‘tibar tentang manusia -manusia yang saling membunuh satu dengan yang lain demi sebuah ambisi yang tidak abadi. Cinta-kasih sayang sudah tidak ada lagi didalam dada mereka, mereka telah dibentuk menjadi pribadi-pribadi tanpa perasaan. Mereka sudah tidak bisa menghadirkan merasakan penderitaan orang lain. Sebagai contoh, layar kaca kita setiap saat menampilkan berita-berita tentang tindak kriminalitas yang dilakukan dari latar belakang sosial yang berbeda dengan berbagai motif yang berbeda pula. Tindakan kejahatan seolah hal yang biasa dan menjadi satu trend tersendiri bagi masyarakat metropolitan dan kota-kota besar lainnya serta juga tidak menutup di daerah pelosok. Hal tersebut secara tidak langsung akan mendidik generasi untuk terbiasa pada hal yang anarki, belum lagi tontonan yang sangat “idolistik”, borjuis menampilkan figur-figur “Perfect” yang akan diikuti, tentu saja efeknya akan membuat para “fansnya” tidak realistic, melumpuhkan sensitifitasnya terhadap lingkungan dan sesama.
Secara filosofis manusia merupakan simpul kosmos yang berkorelasi secara ketat dalam jiwaraga, unsur kosmos seperti api, air, udara dan tanah ikut serta menetukan karakter seseorang, pandangan demikian tidak menjadikan satu dengan lainnya lebih unggul. Sifat-sifat Tuhan juga harus diterjemahkan dalam realitas hidup, Tuhan selalu disumsikan maskulin sebagai Tuhan yang Maha Perkasa dan Maha Besar padahal Tuhan juga mempunyai nama feminis seperti Maha Pengasih Maha Penyayang. Kenapa kita sepenggal, parsial dalam meniru-Nya? Menurut Suchiko Murata bahwa “perkawinan semesta” merupakan tanda atau ayat Tuhan yang lain, karena “cinta-kasihsayang” maka langit “menyiram” bumi, bumi pun menerimanya dengan suka cita dan “melahirkan” tumbuh-tumbuhan. Romantisisme alam mengajarkan relasi harmoni, meski kenyataannya Alam terdiri dari bagian-bagian yang berbeda dalam perbedaannya tidak ada “diskriminasi” dan “superior atau inferior” antara satu dengan yang lain.
Cinta-kasih suatu hal yang mutlak bagi manusia, kita terdiri dari realitas nama, jenis ,warna, bahasa dan ras yang tidak seragam tapi majemuk. Namun pada hakikatnya adalah satu dalam pembuktiannya dihadapan Tuhan. Islam sebagai konstruksi dan konsep ajaran yang menjunjung nilai moralitas, akhlakul mahmudah sebagai konsep akhlak yang terpuji, baik dari segi pandangan manusia maupun dalam pandangan Allah SWT. Rasululllah SAW sebagai manusia biasa yang secara terbuka Allah SWT memberikan pujian langsung sebagai manusia yang berakhlaq mulia dalam sebuah firman-Nya dalam surah al-Qalam ayat 4; Wa innaka la‘alaa khuluqin ‘Adziim (Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.). Meneropong pribadi agung ini dari perspektif historis akan didapatkan sekian hamparan dan lembaran literatur yang mengurai kehebatan akhlaknya, manusia yang paling luhur budi pekertinya dalam rentetan peradaban manusia yang pernah ada. Rasulullah mampu mengubah manusia dan membuat peradaban besar tanpa kekerasan, Rasulullah mengajak musuh tanpa mengejek, merangkul penetangnya tanpa memukul
Bila pemimpin mencintai rakyatnya tentu segala kebijakannya akan selalu berpihak pada rakyat yang dicintainya, kepemimpinan tidak selalu berkonotasi pada yang terstruktur -birokratis. Kepemimpinan seseorang dapat dilihat melalui bagaimana ia mencintai dirinya dan mencintai orang sekelilingnya. Nabi Muhammad pernah bersabda “Tidak beriman seseorang hingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. Dalam hadits lain diriwayatkan bahwa;”tidak termasuk golonganku yang “tua” tidak menyayangi yang lebih “muda” dan yang ‘muda’ tidak menghormati yang ‘tua’. Sebuah renungan yang mendalam untuk menggugah hati nurani untuk menerbitkan cinta-kasih, cinta-kasih yang berangkat dari kesadaran dan keikhlasan sebagai manusia, kita adalah saudara yang harus saling mengasihi, saling menyangi sehingga tiada lagi airmata duka yang jatuh, yang ada hanya kedamain.
Tugas seorang Sufi berikutnya melempar fibrasi cinta kasih dan menghembuskan arrohman-arrahim pada setiap fakultas-fakultas jiwa setiap manusia dalam setiap space kehidupan ini. Dari sini lalu lahir ikhtilaafu ummatii rahmah, perbedaan ditengah umat adalah rahmat, yang menghantarkan setiap kita dapat memahami pesan-pesan Tuhan, bekal dari sebuah peradaban umat yang tercerahkan dimasa mendatang.

KESIMPULAN
Tasawwuf salah satu media olah spiritual yang nantinya akan menghasilkan sesuatu yang bersifat spirit dan mendorong terbitnya nilai-nilai etika dan melahirkan daya sensitifitas positif dalam peranannya sebagai hamba dan sekaligus khalifah.
Tasawwuf progressif mestinya tidak berfungsi sebagai terapi yang bersifat individu tetapi bagimana “kekuatan yang diperoleh” mempunyai daya implemantasi positif praksis dan transformatif yang berbasis realitas sosial, seperti melawan kesenjangan sosial-ekonomi, menegakkan keadilan, etika, lingkungan masyarakat dan limgkuangan alam.Tasawwuf bukan ritus yang meninggalkan dunia. Telah banyak yang dilakukan para tokoh sufi yang dilakukan melawan ketimpangan, Abu Zar al-Ghiffari salah satu conttoh konkrit dalam hal.bagaimana dia berjuang melawan rezim atau khalifah yang otoriter. bukan tasawwuf hanya bisa membuat menangis, “memabukkan jam’ah ” yang sarat dengan kepentingan duniawoi semata.
Tasawwuf tidak mengajarkan kemiskinan walau ada yang mengajarkan tentang sikap “fakir” dengan harap melahirkan pola hidup yang tidak serakah dan tamak. Tasawwuf progressif adalah menempatkan harta duniawi bukan pada “ruang hati”. Tasawwuf bukan harus anti sosial dan anti kemanusiaan. Tetapi justru semangat tasawwuf sangat berpihak pada kaum mustad’afin, bila tasawwuf hanya berputar pada lingkaran ritus maka sesungguhnya itu bukanlah Tasawwuf. Pola hidup yang sufistik sebagaimana Rasulullah contohkan, para Sahabat. mereka adalah peribadi-pribadi unggul yang kmampu meneptakan agama dan dunia pada tempatnya. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri, mereka berjuang dan berjihad (konteks sekarang perjuangan itu adalah melawan kemiskinan, kebodohan, orang yang kecil yang dirampas hak hidupnya, melawan korupsi dan lainnya.)
Tasawwuf tidak mengajarkan harus dengan penampilan dekil, kumuh dan lusuh tetapi mestinya mengajarkan pola hidup yang bersih baik tubuh, pakaian rapi bahkan harum, keluarga dan lingkungan. Makan dan minum yang bersih dan bergizi (halalan thayyibaa) bukan makanan yang tidak memenuhi kebutuhan gizi, itu kezaliman pada tubuh yang notabene titipin yang Maha Kuasa. Tasawwuf yang mengajarkan tentang pola hidup “ekslusif dan “elitisasi” diri baik dilingkungan keluarga maupun lingkungan sosial adalah tasawwuf gadungan. Tidak selaras dengan contoh Rasulullah.
Akhirnya Tasawwuf Progressif (yang dinamis, praksisi, transformatif dan humanis ) akan mendapatkan momentnya saat ini, dimana Ummat Islam kondisinya yang terpuruk di segala lini kehidupan entah itu berkaitan dengan kekerasan ataupun kezaliman pribadi dan publik dan bentuk kejahatan lainnya. semata-mata tidak tidak adanya debit atau getar cinta-kasih dan kasihsayang antar sesama, inilah barangkali maksud Tuhan Sunngguh akan ditimpakan suatu kehinaan dimana pun kamu berada hinngga mereka menyambung transformais humanis dan transformasi transcendental (Dhuribat ‘alaihumuz Dzillatu ainamaa Tsukifuu illa bihablin min allahi wahablum min an-naas).
Kehinaan ini beragam jenisnya dan ditimpakan pada suatu kaum baik yang beriman maupun yang berbuat kezaliman karena akibat tidak adanya pola ghidup yang harmonis dan seimbang antara manusia dengan Tuhan dan Manusia dengan manusia dan alam sekitarnya. Kesan ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa setelah beribadah (bertasawwuf) jangan lupakan hubungan sosialnya, Hubungan sosial ini sangat luas pengertiannya. Firmakn Allah “Faidza qudhiyati sholatu fantasyiruu fil ardhi dengan terjemahan bebasnya adalah setelah menunaikan hubungan vertical jangan lupakan hubungan horizontal lainnya. kira –kira demikian, Wallahu ‘alam.[]


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Jabbar, Syarah ushul Khamsah, Editor Dr. Abdul Karim Kairo: Maktabah Wahbah, 1965
Abu al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, Penerjemah: Ahmad rofi Ustmani. Bandung : Penerbit Pustaka, 1985
Ali Yafie, Menggagas Fikih Sosial, Bandung : Mizan, 1994
Amin Abdullah, Filsafat Kala Era Postmodernisme, Jogjakarta : Pustaka Pelajar 1995
Annemarie Schimmel, Dimensi mistik dalam Islam, Penerjemah : Supardi Djoko dkk. Jakarta : Putaka Firdaus, 1986
Ashghar Ali Enggineer, Liberation Theology essay on liberativen element in islam, (versi Indonesia) Jogjakarta : Pustaka Pelajar, 1999
Badiuzzaman Said Nursi, Persoalan Tauhid dan Tasbih (terj). Kuala Terengganu : Yayasan Islam, 1999
Endang Saefuddin, Wawasan Islam pokok-pokok Pikiran tentang Islam dan Ummatnya, Bandung : Perputakaan Salman ITB, 1983
Hamka “Tasawwuf Modern” Jakarta : Penerbit Panjimas, 1985
……., Tasawwuf Perkembangan Dan Pemurniannya, Cetakan 12 Jakarta : Penerbit Panjimas,1986
Harun Nasution, Falsafah & Mistisisme dalam Islam. Cet. 4 Jakarta : Bulan bintang, 1985
Harun Nasution, Teologi Islam, Aliran-aliran sejarah analisa Perbandingan , Jakarta: UI Press, 1986
Jalaluddin Rahmat, Reformasi Sufistik, Jakarta : Pustaka Hidayat, 2002
Kyai Ahmad Zubaidah, Tasawuf Membangkitkan Amal Sosial. ww.sufinews.com
Masdar Farid Mas’udi, Tasawwuf yang membebaskan Kemiskinan, w.sufinews.com
Muhammad Arkoun, Membedah pemikiran Islam, Bandung : Pustaka, 2000
Muhammad Damami, Tasawwuf Positif, Jogjakarta : Fajar Pustaka, 2000
Muhammad Sholeh, Menjadi Koruptor Karena Hatinya Kotor, www.sufinews.com
Mun’in A. Sirry, Fikih Linas Agama, Jakarta : Paramadina, 2003
Muslim Abdurrahman, Islam Transformatif, Jakarta : Pustaka Firdaus, 1997
Nasaruddin Umar, Solusi Sufi Atas Aliran Sesat, www.sufinews.com
Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta :Paramadina, 1992
Qamaruddin Hidayat, Wahyu di Langit Wahyu di Bumi Doktrin dan Peradaban Islam di Panggung Sejarah Jakarta : Paramadina Cetakan I 2003
www.islamemansipatoris.com
www.islamlib.com.
www.paranormal.or.id
www.sufinews.com

TENTANG PENULIS
Muhammad Ridhwan, dilahirkan dari pasangan HM. Idris Hamid dan Hj. Namira di Handil Mico, Marangkayu. Kutai Kartanegara. Kal-Tim. pada tanggal 28 Januari tepat 25 tahun yang lalu, saat ini sedang mengikuti program Pascasarjana, Prodi Filsafat dan Agama Konsentrasi Filsafat Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta. Pendidikannya dimulai “Madrasah Ibtidaiyyah As’Adiyah” dan SDN.007 Kersik 1993, Melanjutkan di SMP Muhammadiyah 5 Samarinda dan selesai tahun 1996, Menyelesaikan pendidikan menengahnya di MA. Ma’had Hadits Biru, dan Daarl Huffadz. Kab. Bone. Sulawesi Selatan pada Tahun 1999. setelah Absen 2 Tahun, pada tahun 2001 ia melanjutkan studi S1-nya dibidang Hukum Islam dan lulus pada pertengahan 2005 di STAIN Samarinda. Pengalaman Organisasi yang pernah dia lalui cukup bervariasi, mulai ketua Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Samarinda, Ketua Kajian Pengembangan Intelektual HMJ Syari’ah. BEM STAIN Samarinda, Pengurus Ikatan Pelajar Nahdhatul ‘Ulama (IPNU) wilayah Kal-Tim. PC. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Samarinda. Koordinator Forum Kajian Islam (FKIS) Samarinda. Komunitas Akar Rumput Gang 11 (Komunitas Arum) Samarinda hingga saat ini dipercaya menjadi Koodinator Jaringan Islam Emansipatoris (JIE) Kalimantan Timur.

Tidak ada komentar