Header Ads

PEREMPUAN

MELACAK AKAR PENCIPTAAN PEREMPUAN
DALAM LITERATUR ISLAM

Muhammad Ridhwan
A. Latar Belakang
Melacak asal usul proses penciptaan perempuan dalam literatur primer Islam terutama al-Qur’an dan Sunnah, begitu juga berbagai sumber dan bahan data yang menyangkut masalah ini hanya banyak terdapat dalam kitab-kitab semit lainnya, demikian kata sebagian pakar dibidang ini. misalnya kitab Injil, Talmud dan kisah-kisah Israiliyat lainnya, eksistensi perempuan di lembaran suci baik dari Islam mapun non- Islam dikalim sebagian pakar sangat bias gender, maka hal tersebut terus digali dan dianalisa dari berbagai persfektif, tujuannya untuk menegakkan hak-hak perempuan ( iqamat huququl insaniyyah) yang selama ini terlantar khususnya kesetaraan gender (al-musawa) di ranah publik.
Diskurusus dan studi gender (discourse and gender studies) dilingkungan akademik khususnya di PTAI (Perguruan Tinggi Agama Islam) mendapat respon yang luar biasa, diteliti dan dikaji dalam berbagai pendekatan dan sudut pandang, sosiologi, antropolgi, historis, dan Agama tentunya. Hal tersebut cukup terbukti menyentak kesadaran para akademikus, maka untuk menindak lanjut dari kajian itu didirikanlah Pusat Studi Wanita (PSW) dilingkungan IAIN dan UIN berbagai daerah di Indonesia.
Dalam makalah ini penulis berusaha untuk menghadirkan suatu perspektif Islam, Islam diyakini sebagai Agama ajaran moralitas tinggi yang mempunyai peranan vital dalam pembentukan opini masyarakat beragama. Demikian pula Agama telah ikut berjasa “menyuburkan “ pandangan dalam bahasa Van Dervlas disebut “misoginy” terhadap perempuan, kabut hitam secara khusus menyelimuti diseputar konsepsi penciptaan perempuan dan tentu saja hal ini turut andil meredupkan unsur-unsur pencerahannya yang terkandung didalamnya. Namun perkembangan dan emansipasi perempuan telah mampu menggeser (bargaining position) dari wilayah domestik menuju publik “bersaing” dengan Androsentrisme.
Perempuan yang dengan kesadaran penuh melihat vitalitas potensi yang mereka miliki dan hal tersebut tidak sedikit diantara mereka telah keluar dari “penjara kultur partriarkhi”. Sekali lagi agama terkadang sebagai kambing dengan dalih argumentum ad hominem untuk men justified aneka ketidak adilan yang terjadi selama ini. dalam bahasa Abdoul Karim Shouros dan Khaled Abou el-Fadl seorang Pakar dan Guru besar Hukum Islam di UCLA ketika melihat realitas ketimpangan ini disebutnya sebagai perampasan kedaulatan Tuhan (Speaking Indonesia God’s Name), dimana teks dijadikan “bamper “ mekanisme pertahan diri (Self Depence Of Mechanism), dari otoritatif menuju sikap otoririter dan telah berlangsung berabad-abad lamanya.
Agama dalam sudut ‘pandang tertentu’ telah merecoki ummat beragama dan menyuburkan ego maskulisme yang keterkaitannya sebagai makhluk kedua (the second creation) diranah publik (public sphere), mitos ini mencitrakan horizon negatif.
Ketika al-Qur’an diajak terlibat dunia dialektika untuk berdialog, maka interpretator akan membuat interpretasi dalam konteks “hermeneutical unveiling” terhadap teks suci tersebut. Maka isu gender ternyata ada disana terdapat pesan-pesan persamaan derajat (equality spirit). Merujuk pada proses penciptaan perempuan. dalam paradigma partriarkhal perempuan ditempatkan sebagai “wanita”( wani di tata) secara bebas penulis artiokan sebagai suatu sikap yang pasrah kepada suaminya dengan “bentuk kesetiaan” berani diatur, dikendalikan. makhluk komplementer dalam realitas kehidupan laki-laki. Khaled menuding adanya penggeseran paradigma dari feminim menuju paradigma maskulin tersebut semata-mata sumbangsih penafsiran para interpretator yang mempunyai integritas (integrity), menyeluruh (comprehensiveness) dan kejujuran intelektual. Dalam hal ini penemuan makna terhadap al-Qawwaamuun, sementara kata tersebut bisa berarti “pelindung”, pemelihara”, “penjaga’ dan bahkan ‘pelayan”, term ini sama dalam konteks yang berbeda, khususnya dalam bersikap adil.
Ann Oakley seorang sosiolog inggris orang pertama kali membedakan terma gender dan seks, menurutnya gender adalah karakter yang dikontruksi budaya, sifat dan status posisi dan rule of community, sementara sex hanya dilihat dalam kontruksi fisik, reproduksi, dan haid. Ketidakadilan gender hanya terjadi pada perempuan yang termanifestasikan dalam beberapa bentuk subordinasi, stereotif dan marjinalisasi, beban ganda dan beberapa tindak kekerasan lainnya baik dalam rumah tangga mapun dalam hubungan perkawinan (seksual).
Sifat maskulinisme feminis, seperti jantan, perkasa, tidak terpengaruh siklus menstruasi adalah merupakan pangkal terjadinya gape gender Isu familiarity, egalitarity dan harmoni. Konsep penciptaan perempuan dengan laki-laki adalah sama di segala ruang dan temppat yang bersifat organik. “Nafsun Wahidah’ yang kemudia menjadi titik sentral pertikaian dan klaim ata susperioritas laki-laki atas perempuan, nantinya akan dibahas dalam makalah ini, sejujurnya bahwa penafsiran tersebut sangat bias dan dapat diyakini dengan teguh kalau makna nafsun wahidah adalah mengandung makna bahwa perempuan diciptakan dari bahan yang sama. Memamng ada beberapa hadis membenarkan tetapi kulaitas sifat yang berbeda secara majazi, perempuan dimana harus diperlakukan oleh laki-laki dengan bijaksana
Maskulinitas epistemology sudah berlangsung lama dikawasan Timur-Tengah jauh sebelum al-Qur'an turun. Dunia epistemology sudah dipengaruhi kosmologi mitologi dan peradaban kuno yang cendrung misogini, menganggap perempuan sebagai pangkal kejahatan, karena perempuan Adam atau nenek moyang manusia diusir dari surga ke bumi.

B. Penciptaan Perempuan Dalam al-Qur’an
Pemahaman tekstual hadits diatas menggambarkan tentang konsep penciptaan perempuan yang berbeda denjgan laki-laki. kritik matan hadits diatas telah dilakukan oleh Abu Muslim Al-Isfahani dengan mengatakan “apa manfaatnya Allah menciptakan perempuan dari tulang rusuk kiri laki-laki? sementara Allah kuasa menciptakan perempuan dari tanah seperti penciptaan Adam? Tidak sedikit menyangsikan apa yang diajukan oleh Abu Muslim bahwa hal itu tidak akan menggeser pendapat masyarakat yang telah tumbuh dari endapan tradisi partriakhal. Namun bagi Al-Alusi hal tersebut bukanlah menjelaskan faedah bukan bukan hikmah, urusan hikmah adalah urusan Allah. Proses penciptaan Adam dan Hawa itu untuk menunjukkan kekuasaan Allah. Allah juga mampu menciptakan semua mahluk dari Adam begitupun Allah mampu menciptakan semua mahluk dari tanah.
Pertanyaan paling mendasar sering dijumpai dalam berbagai kesempatan penulusuran dan pencarian makna yang berpihak pada perempuan adalah apakah al-Qur’an dan hadits sebagai refrensi tertinggi ummat Islam mempunyai frase sakti yang akan membela perempuan? Apakah al-Qur’an dapat dieksplorasi untuk menjelaskan aspek gender? pertanyaan yang sedemikian skeptis akan menyongsong dialektika dan romantisisme subjektif.
Proses penciptaan perempuan yang tergambar dalam hadits diatas .menunjukkan sesuatu kesan kuat dari pembaca teks suci bahwa perempuan memang bercitra negatif, hal ini akan membuat perempuan sebagai inferior atas superioritas laki-laki, dengan demikian bila disandingkan dengan semangat al-Qur'an secara otomatis hadits diatas adalah israi’liyyat dan misogini.
Dalam banyak kesempatan kita akan menjumpai bagaimana al-Qur’an menghamparkan unsur persamaan itu dengan elegan, kontruksi sosial dan budaya membedakan secara ekstrim dalam rentang waktu yang tidak singkat, sementara itu al-Qur’an ditafsirkan dengan aroma sentris maskulin. Menurut Said Aqil Sirajd dalam sebuah kesempatan mengatakan bahwa manusia modern (radical in modern age) telah terlatih menyadap maksud Tuhan ( Mind of God), sehingga mencitrakan agama maskulin dan menumpas citra Agama yang feminim.
Perempuan adalah ikon jahat dalam kehidupan, seperti kata Abbas al-Aqqad yang dikutip oleh Quraish shihab: Syarr kullaha, wa syarra ma fiiha ‘annahaa laa budda minhaa ( semua yang ada pada dirinya buruk, dan yang paling buruk dari seluruh keburukannya adalah bahwa dia merupakan keharusan)

C. Ragam informasi penciptaan “manusia” dalam Al-Qur'an
Ketika redaksi hadits bertenutangan yang notabene sebagai mubayyin atas al-Qur'an, maka manakah yang diunggulkan? Berbagai alasan atau jawaban yang dikemukakan adalah tarjih? Talfiq ?, namun disini penulis tidak berpretensi dan tidak berkompetensi untuk menjelaskan hal tersebut diatas secara detail.
Ditemukan dalam al-Qur'an beberapa ayat yang menunjukkan proses penciptaan manusia baik laki-laki maupun perempuan anatar lain:
1. al-Ma’ (air)
Seperti dalam surah al-Furqan:
وهو الذي خلق من الماء بشرا فجعله نسبا وصهرا وكان ربك قديرا(54)

Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.

أولم ير الذين كفروا أن السموات والأرض كانتا رتقا ففتقناهما وجعلنا
من الماء كل شيء حي أفلا يؤمنون(30)
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?
والله خلق كل دابة من ماء فمنهم من يمشي على بطنه ومنهم من يمشي على
رجلين ومنهم من يمشي على أربع يخلق الله ما يشاء إن الله على كل شيء قدير(45)
Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
ثم جعل نسله من سلالة من ماء مهين(8)
Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani).

2. al-Nafs atau al-Anfus
ياأيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث
منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا
Wahai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dari Nafs yang sama dan daripadanya Allah menciptakan pasangan daripada keduanya, Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak
هو الذي خلقكم من نفس واحدة وجعل منها زوجها ليسكن إليها فلما تغشاها حملت حملا خفيفا فمرت به فلما أثقلت دعوا الله ربهما لئن ءاتيتنا صالحا لنكونن من الشاكرين(189)
Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur".
3. al-Tin (tanah)

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ قَالَ ءَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا(61)
Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?"
4. al-Turab (tanah)
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ يُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا
أَشُدَّكُمْ ثُمَّ لِتَكُونُوا شُيُوخًا وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى مِنْ قَبْلُ وَلِتَبْلُغُوا أَجَلًا مُسَمًّى وَلَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ(67)
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes, air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya).
5. al-Nutfah (sperma)
قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَة
ٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا(37)
Kawannya (yang mu'min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?
Dalam merujuk proses penciptaan perempuan para Fakar Tafsir dalam masalah ini selalu merujuk firman Allah SWT.
ياأيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا
Wahai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dari Nafs yang sama dan daripadanya Allah menciptakan pasangan daripada keduanya, Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.

Berkaitan dengan pemaknaan diatas Aminah Wadud dalam Qur’an and Women mengutip al-Maududi tentang proses penciptaan manusia bahwa hal tersebut mencakup tiga hal;
1. Penciptaan awal (initiation)
2. Penyempurnaan (perfection)
3. Memberikan kehidupan (giving a live)
Menurut ibn Katsir dari empat konsep penciptaan manusia yaitu :
1. Penciptaan Adam dari tanah tanpa ayah dan ibu
2. Penciptaan hawa dari laki-laki tanpa perempuan
3. Penciptaan Isa dari seorang perempuantanpa laki-laki
4. penciptaan manusia dari proses pembuahan
إذ قال ربك للملائكة إني خالق بشرا من طين(71) فإذا سويته ونفخت فيه من روحي فقعوا له ساجدين(72)
Sementara itu para fakar tafsir seperti Muhammad Abduh mempunyai pandangan lain mengenai makna nafs sebagai jenis (sejenis tanah yang sama). Asal penciptaan perempuan yaitu Hawa pada umumnya mengacu pada kata nafs dalam surah An-Nisa ayat 1, al-‘Araf ayat 189 dan al-Zumar ayat 6 :
ياأيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا
Wahai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dari Nafs yang sama dan daripadanya Allah menciptakan pasangan daripada keduanya, Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ ءَاتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ(189)
Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang sempurna, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur".

خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ الْأَنْعَامِ ثَمَانِيَةَ أَزْوَاجٍ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِنْ بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ(6)
Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?

Dalam surah an-Nisaa tersebut sedikitnya terdapat empat terma penting yang menjadi acuan mendasar bagi pengkaji atau pemerhati gender, yaitu, ayat, min, nafs dan Zawj. Menurut al-Maraghi sebagaimana dia kutip pendapat Muhammad Abduh,” teks ayat ini tidak menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan nafs al wahidah tidak lain adalah Adam, dengan alasan :
a. Bertentangan dengan penelitian ilmiyah dan fakta sejarah.
b. Allah SWT berfirman “rijalan kasiran” wa nisa”, dan bukan “rijal wa nisa”. Akan tetapi Al Qur’an tidak menegaskan satu pendapat dengan memebrnarkan pendapat lain secara pasti tanpa adanya jalan ta’wwil.
Pendapat Ulama yang mengatakan bahwa “nafsun Wahidah” adalah Adam bukan berdasarkan pada ayat al-Qur'an. Akan tetapi berdasarkan pemahaman bahwa Adam adalah “Abu al-Basyar” (Bapak Manusia). Al-Qaffal mengatakan; “ maksud ayat adalah bahwa Allah menciptakan kamu semua dari diri satu jenis yaitu manusia yang sama dalam sifat-sifat kemanusiaannya (insaniyyah). Adapun yang dimaksud dalam ayat itu ditujukan kepada bangsa Qushay pada masa Nabi Muhammad SAW, yaitu keluarga Qushay dan dimaksud “nafsun wahidah” adalah Qushay. Objek pembicaraan pada manusia dengan menggunakan kata “Yaa banii Adam” (Wahai anak Adam), tidak berarti ayat tersebut ditujukan kepada seluruh ummay manusia (basyar) sebagai anak-anak Adam, tetapi pembicaraan tersebut cukupditujukan kepada manusia pada saat ayat tersebut turun sebagai anak-anak Adam.

1. Ayat (ayah)
Aminah wadud menganggap term ayat ini sebagai simbol atau tanda yang mana sesuatu itu menunjukkan sesuatu dibalik dirinya sendiri.
2. Min
Untuk kata min pada dasar dalam gramatika bahasa Arab mempunyai arti ganda dan dua fungsi, bisa digunakan sebagai proposisi “dari” sesuatu dari sesuatu yang lain dan dapat juga menunjukkan “kesamaan unsur alamiahnya”, dimana pendapat ini juga disokong oleh ulama syi’ah karimastik Allamah Muhammad Thabataba’i. Kata “minha” dari jenis yang sama, jika Adam diciptakan dari tanah maka hawa pun diciptakan dari tanah. Hal ini selaras dengan surah ar-ruum ayat 21, surat al-taubah, 128, surah ali-imran ayat 164. jadi pendapat yang mengatakan bahwa Hawa diciptakan dari tulang rususk Adama tidak berlandaskan pada surah an-Nisa ayat 1. apabila “min’ diterjemahkan “dari jenis yang sama” berarti “ pasanganmu adalah jenisnya sama denganmu”
Wadud mengutip pendapat Zamakhsyari bahwa ayat tersebut menunjukkan bahwa manusia itu diciptakan dari jenis yang sama sebagai jiwa atau nafs yang tunggal (humankind was created in / of the same type as a single nafs), Zamakhsyari memperkuat argumentasinya dengan menggunakan versi injil bahwa pasangan (zawj) laki-laki terambil dari jiwa (nafs) itu sendiri. خلقكم من نفس واحدة ثم جعل منها زوجها (“Dia yang telah menciptakan kamu dari Nafs yang satu kemudian mencitakan daripadanya pasangan). Yang mana dalam hal Wadud membantah pemaknaan demikian selanjutnya ia menegaskan “to creat something from another thing” yang berarti menciptakan sesuatu dari sesuatu yang lain.


3.Nafs
Dari pandangan bahwa yang dimaksud dari penggalana kata tersebut Adalah Adam, faham ini mayoritas ulama atau mufassir klasik memahaminya demikian, namun sebagian kecil ulama kontemporer mengartikan secara metafora. Secara tata bhasa, nafs merupakan bentuk muannas (female), sedangkan secara konseptual nafs mengandung arti netral, bukan bentuk laki-laki mapun perempuan Menurut Aminah Wadud kata nafs dalam konteks filsafat merupakan bagian terpenting dari setiap manusia baik laki-laki maupun perempuan. Konsep ini juga dikemukakan oleh musthafa al-maraghy dalam Tafsir al-Maraghy yang secara khusus membahas hakikat nafs dan ruh.
Menurut Ibn ‘Arabi melukiskan dengan rasional dan argumentative tentang penciptaan perempuan dan meluruskan maknanya sebagaimana yang dikutip oleh Azhari Kautzar Noer, “ Tuhan menciptakan isa dari Isa dari maryam, maka maryam menemptai kedudukan Adam, Sedangkan isa menempatai menempati kedudukan Adam, sedangkan isa menempati kedudukan Hawa, seorang perempuan yang diciptakan dari dari laki, maka seorang laki-laki diciptakan dari perempuan . jadi tuhan telah menyelesaikan dengan cara yang sama, Isa dan Hawa adalah sama duan saudara kandung, sedangkan Adan dan Maryam adalah dua Ayah mereka yang berbeda.”
Lebih lanjut ibnu ‘Arabi mengatakan tentang makna ‘auwj sangat berbeda dengan para mufassir kebanyakan, bagi ibn ‘Arabi “bengkok” atau “melengkung” menjadi sifat karakter atau pembawaan Hawa, karena ia berasal dari tulang rusuk Adam yang “bengkok” atau “melengkung” yang berarti kecenderungan hati atau kerinduan Hawa kepada Adam, Maka Adam mempunyai “syahwat’ pada hawa yang dahulu Oleh tuhan tempatkan pada tulang rusuk kiri Adam.
4. Zawj
Istilah penting lainnya yang digunakan pada surat an-Nisa’ (4) : 1 adalah kata zauj jamaknya adalah azwaj digunakan dalam al-Qur’an untuk menunjukkan jodoh, pasangan, isteri, dan kelompok. Istilah ini digunakan pada tahap kedua penciptaan manusia. Para mufassir memahaminya sebagai hawwa, yaitu the first of women, (manusia pertama dari kaum perempuan). Menurut tata bahasa kata zauj merupakan bentuk muanast (male) dengan mengkorelasikan kata sifat muzakar dengan kata kerja muzakar sebelumnya. Secara konseptual kata zauj tidak menunjukkan bentuk muanas (female) atau muzzakar (male), kedua-duanya dipergunakan dalam al Qur’an.
Istilah maskulin secara spesifik ditunjukkan dalam surat an-Nisa (4) : 20
وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَءَاتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?
Adapun pengertian feminine secara spesifik terdapat dalam al-Qur’an surat al Baqarah (2) : 230.
فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ
Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain…
Kemudian kata zawj juga digunakan untuk tanaman atau hewan dalam surah ar-Rahman ayat 52.
فِيهِمَا مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجَانِ(52)
Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan.
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ قُلْنَا احْمِلْ فِيهَا مِنْ كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ ٌ(40)
Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman." Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.
Secara harfiyah bearati “pasangan” menunjukkan pasangan adam dan tentu yang dimaksud adalah hawa, berkembangannya mitos seputar penciptaan perempuan bahwa “hawa” diciptakan dari diri Adam sendiri, tulang rusuk kirinya. Demikian dipertegas oleh al-Qurthuby memahami bahwa isterinya diciptakan dari tulang rusuk kiri, maka itu perempuan tergambar di beberapa hadits Nabi dengan redaksi yang variatif namun dengan inti yang sama bahwa perempuan disebut ‘Awja’. Menyipati sifat dasar tulang rusuk yang bengkok.
Innal mar’ata kad dhila’i idza dzahabat tuqiimuha kasartahaa wa intaraktaha stama’ta bihaa wa fiihaa ‘iwajun
Sesungguhnya perempuan itu seperti tulang rusuk jika kamu berusaha untuk meluruskan atau menegakkannya bisa patah dan bila kamu mencoba membiarkannya niscaya akan kamu dapati dalam keadaan bengkok terus

Pendapat diatas bukan saja melenggang tanpa kritik, kita lihat bagaimana Rasyid Ridha dengan sengit menuding bahwa adanya pemahaman demikian semata-mata karena kontaminasi ajaran atau faham Injil mengjangkit dalam ajaran Islam, beliau mengatakan :“andaikata tidak tercantum kisah penciptaan Adam dalam injil niscaya pendapat keliru tersebut tidak terlintas dalam benak seorang muslim.
Lengkapnya alkitab mengabadikan dalam kisahnya;
Lalu Tuhan Allah menidurkan manusia itu dengan nyenyak,ketika tidur, Tuhan Lalu mengambil salah satu rusuknya, lalu menutup tempat itu dengan daging.dan dari itu rusuk yang diambil itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan… .
Lalu ditempat lain alkitab mengisahkan lagi:
Tuhan Allah berfirman, “Tidak baik, kalau manusia ituseorang diri saja, Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia.
Penempatan perempuan sebagai the second creation dan the second wife diperkuat dengan informasi menarik dari literature yahudi ( Talmud) yang mangatakan bahwa hawa bukan pasangan pertama bagi Adam tapi pasangan pertama Adam adalah lilith. ia diciptakan dari tanah bersama dengan Adam dalam waktu yang bersamaan.
Untuk melacak masalah ini lebih jauh, Mari kita perhatikan penjelasan Ar-Razi yang dia kutip dari Abu Muslim Al-Misfahany menagatakan bahwa dhamir Ha pada kata minhaa bukan bagian dari tubuh Adam, tetapi “dari jenis Adam”, kata min pada kata من نفس واحدة bukan menunjukkan pada penciptaan awal dari “unsur genetika yang satu.” Kemudian faham ketidak adilan menerjemahkan proses penciptaan perempuan ini berkembang dikalangan pengkaji diskursus gender sudah pada taraf menyalahkan para interpretator klasik dan ikut memanifestasikan “misogini tersebut”, adalah tidak benar jika perempuan diciptakan dari tulang kiri Adam yang bengkok walau banyak hadits yang menunjuk kearah sana.
Kata nafs terulang sebanyak 295 kali dalam berbagai bentuk,dan tak satupun yang menunjuk pada Adam. Sampai akhirnya Nasaruddin Umar mengajukan pertanyaan, kalau memang arti من نفس واحدة ialah Adam berati Adam juga merupakan asal usul kejadian hewan dan tumbuh-tumbuhan?..bagitupun selanjutnya bila makna نفس itu Adam, kenapa menggunakan lafadz واحد. (muzakkar) tetapi واحدة (Muannas). Demikian pula respon Aminah Wadud dengan mengatakan bahwa term nafs secara konseptual bukan muannas bukan pula mudzakkar (nafs neither masculine nor feminime). Menurut Nashruddin Baidan bahwa arti نفس berkonotasi erat dengan “bangsa” dan “jenis”, jenis dalam konteks bahwa Adam dan Hawa mempunyai asal –usul jenis yang sama yaitu “Tanah”.
Zamakhsyari yang lebih dikenal dekat dengan rasional beraliran mu’tazilah juga menerjemahkan term nafs sebagai Adam, namun demikian bila dicermati adanya kecendrungan para fakar dalam pembahasan tentang penciptaan ini banyak mengacu pada informasi hadits, walau sana sini masih terdapat perdebatan atas kesahihannya, singkatnya- mendahuluakan hadits dari pada Nash Al-Qur'an.
Adam dalam pandangan para filosof ada 30 Adam sebelum Adam nenekmoyang kita. Bahkan Muhammad Abduh lebih yakin bahwa antara ruh dan nafs adalah sama. Jadi tidak mungkin nafs dalam konteks ini sebagai Adam.

C. Lampiran Ayat-ayat “Equality Gender”

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ
Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik." (QS. Ali Imran 3:195)

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.(QS. Al-Ahzab 33:35)

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An Nisa 4:1)

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma`ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At Taubah 9:71)

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta`atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu`, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al Ahzab 33:35)



Ayat-ayat Makiyah

عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An Nahl 16:97)




D. Kesimpulan
Berdasarkan pelacakan penulis terhadap penciptaan perempuan dalam al-Qur’an tidak ada ditemukan isyrat atau petunjuk secara spesifik dan terperinci, persoalan ini masih terpendam dan misteri, namun demikian dari bebrbagai analisa dan pandangan dari sekian fakar al-Qur’an berkutat dan berdebat seputar term Min, Nafs, Zawjaha.
Fakar Tafsir memahami makna Min “dari bagian sesuatu”, tapi juga ada yang memahami bagian dari sesuatu yang tidak sejenis. Selanjutnya Lafadz Nafs yang menjadi sentral perdebatan para fakar Qur’an, menyisakan pertanyaan yang tak berpangkal. Disini ditemukan secara umum memahami dan menafsirkannya dengan Adam, pendapat ini mendapat bantahan bahwa dari sekian bentuk Nafs dalam al-Qur’an tidak satupun signal atau isyarat kearah Adam. Adam sendiri menurut para filosof merupakan bukan manusia pertama. Sebagian juga menapikkan kenabian Adam, Adam adalah personifikasi, hanya isu Tuhan, Adam adalah misteri. tapi lebih tepat jika difahami bahwa Adam dan Hawa mempunyai latar belakang jenis yang sama yaitu “tanah”. Dan sekaligus membuktikan kesalahan penafsiran terhadap perempuan tidak sesuai dengan keotentikan sejarah dan tinjauan Ilmiyah.
Zauwj, term ini dipahami secara literate berati “pasangan”, dengan maksud bahwa Adam pada mulanya hanya peribadi yang tunggal, kemudian Tuhan memberikan Zawj, pasangan hidup yang berperan sebagai “teman dan pelayan”, mitos yang berkembang kemudian bahwa pasangan tersebut berasal dari jiwa Adam itu sendiri, yaitu tulang rusuk Adam sebelah yang bengkok, yang kemudian dalam doktrin Islam dengan istilah ‘Awj (bengkok). Tentu saja pemahaman tersebut menuai kritik dan bahkan menganggap menghina derajat persamaan (equality) bahkan meruntuhkan aspek kemanusiaan perempuan, Pejoratif dan Misoginy.
Demikianlah makalah sederhana ini penulis dapat hidangkan depan para pembaca yang budiman, saran dan kritik yang konstruktif dan saran-saran, segenap hormat penulis sangat harapkan, demi keberlangsungan dan penajaman diskursus tentang isu-isu gender, sebagai akademikus yang komprehensifistik tentu akan terjadi suatu dialektika yang harmoni dari sudut pandang yang pluralistik, ini suatu keniscayaan. wallahu ‘a’lam.[]





















BIBLIOGRAFI
Aceng Solehuddin, Hadits-Hadist Penciptaan Perempuan dalam Shahih Muslim, (Jogjakarta :UIN-CIDA, 2004)
Agus Muhammnad Nadjib, Penciptaan Perempuan dari tulang rusuk Laki-Laki? Dalam Perempuan tertindas? Hamim Ilyas (ed) (Jogjakarta : PSW IAIN bekerja Ford Foundation, 2003)
Ahmad Fudhaili, Perempuan dalam lebaran suci, (Jogjakarta : Pilar Media, 2005)
al-Kitab, (Jakarta :Lembaga Al-Kitab Indonesia,1992)
Al-Qur’an al-Kariim
Aminah Wadud, Qur’an and Women, Reading The Secret Text From a Womens Perspective, (New York: Oxford University Press,1999)
Anna Patriana, Konsep penciptaan Perempuan dalam Tafsir kabir Mafatihul Ghaib (Skripsi) (UIN Jogjakarta, 2004)
Dudung Hamdun, Konsep Kesetaraan peranan wanita dalam Persfektif al-Qur'an (telaah tafsir al-Azhar),( Jogjakarta : UIN-CIDA, 2004)
Kaustar Azhari Noer, ‘perempuan dimata Ibn ‘Arabi”, BASIS .No.07-08 tahun 50 Juli- Agustus, 2001
Khaled M. Abou al-Fadl, Speaking In God’s Name: Islamic Law, Authority, And Women. (Oxford : Oneworld Publication, 2003)
Maimunah , Wanita dan toleransi Agama dalam Agama dalam studi gender, (Jogjakarta :UIN-CIDA, 2004)
Mansour Fakih, analisisi gender dan transformasi Sosial, (Jogjakarta : Pustaka Pelajar.1996)
Muhammad Quraish Shihab, Konsep wanita dalam al-Qur’an, (edit) (Jakarta : INIS, 1993)
…………..Wawasan Al-Qur’an, (Bandung::Mizan, 1999)
Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, (Qahirah,: Darl Manar 1367)
Nasaruddin Umar, Argumen Kesataraan Gender Perspektif Qur’an, (Jakarta :Paramadina,2001)
Nasaruddin Umar, Kritis Wacana kesetaraan gender (Pendekatan Hermeneutika) dalam Rekonstruksi metodologis wacana kesetaraan Jender dalam Islam (Jogjakarta : UIN-Mc Gill-IISEP, Pustaka Pelajar, 2002)
Nashruddin Baidan, Tafsir bil Ra’yi (Jogjakarta : Pustaka Pelajar, 1999)
Nurjannah Isma’il, Perempuan Dalam Pasungan, Bias laki-laki dalam penfisran, (Jogjakarta : LKIS,2003)
Nurjannah Ismail, Perempuan dalam Pasungan, (Jogjakarta: LKIS, 2003)
Susila Ningsih (ed) Kersetaraan Gender, (Jogjakarta : UIN-Mc Gill dan IISEP, 2004)
Wahbah Zuhaili,al-Tafsir al-Munir, (Beirut : Darl Fikr,1986),jilid I
Zaitunah Subkhan, Tafsir kebencian, studi bias gender dalam persfektif Al-Qur'an Jogjakarta : UIN-Mc Gill-IISEP, Pustaka Pelajar, 2002)

Tidak ada komentar