Ideologi

KRITIK IDEOLOGI
HABERMAS
Moh. Ridwan
Dalam filsafat Barat, Marx merupakan bahan rujukan dari para filosof-filosof lain terutama pemikiran mazhab Frankfreud. Bagaimanapun pemikiran mazhab Frankfreud merupakan perkembangan lebih lanjut dari Marxisme di Barat. Teori-teori marxisme Barat dikenal dengan “Marxisme Kritis”, merupakan salah satu usaha untuk merevisi atau menyegarkan pemikiran Karl Marx yang telah dibekukan menjadi alat ideology.
Pemikiran kritis mazhab Frankfreud disebut dengan nama “Teori Kritis” atau Kritische Theorie”. Kritik juga merupakan program bagi Mazhab Frankfreud untuk merumuskan sebuah teori yang bersifat emansipatoris tentang kebudayaan dan masyarakat modern. Kritis disini sebenarnya ingin membebaskan permasakahan kehidupan masyarakat modern yang telah diselubungi dengan sekian kepentingan yang menguntungkan pihak-pihak tertentu. Dalam arti, kritis ini merupakan arti pada tradisi-tradisi pendahulunya, diantaranya :1
1. dalam arti Kritik Kantian
Kant berpendapat bahwa kritik diarahkan pada rasio kita sendiri yang menjadi alat untuk menyelidiki perkara-perkara yang ada. Disini Kant menyelidiki kemampuan dan batas-batas dari rasio unutk menunjukkan sejauh mana klaim-klaim dari rasio itu kita anggap benar. Kritik dalam arti Kantian adalah menguji sahih tidaknya klaim-klaim pengetahuan tanpa prasangka dan kegiatan ini dilakukan oleh rasio belaka.
2. Kritik dalam arti Hegelian
Hegel menempatkan rasio pada dasar yang tak tergoyahkan, yaitu sejarah. Rasio ditempatkan Hegel dalam rangka proses pembentukan diri dari rasio. Hegel tidak menginginkan adanya kritis yang ahistoris. Bagaimanapun untuk berproses pembentukan diri, rasio harus bercermin pada sejarah.
3. Kritik dalam arti Marxian
Bagi Marx, kritik Hegel dalam kontek filsafat idealismenya masih sangat abstrak dalam meletakkan sejarah. Sejarah bukanlah sejarah yang kongkret dari manusia melainkan sejarah kesadaran atau sejarah rasio. Dengan cara ini menurut Marx kritik tidak menghasilkan apa-apa bagi praxis karena tidak jelas sasaran pragmatisnya. Dalam pandangan Marx, apa yang terjadi di masyarakat dan sejarah adalah orang yang bekerja dan dengan alat-alat untuk mengolah alam.dalam kritiknya Marx tidak hanya melukiskan persoalan sosial tetapi ia berusaha untuk membebaskan masyarakat dari penindasan. Kritik dalam arti Marxian adalah teori dengan tujuan emansipatoris.
4. Kritik dalam arti Freudian
Freud lebih menonjolkan psikologinya, dalam arti kritik adalah refleksi baik dari pihak individu maupun masyarakat, atas konflik-konflik psikis yang menghasilkan represi dan ketidak bebasan internal tersebut sehingga dengan cara refleksi itu masyarakat dan individu dapat membebaskan diri dari kekuatan-kekuatan asing yang mengacaukan kesadarannya.
Keempat arti kritik itulah yang dimaksudkan oleh para pendiri Teori kritik jika mereka menganalisis kenyataan ideologis dari masyarakat zaman kita, termasuk mazhab Frankfreud. Dengan merujuk dari empat arti kritik di atas, Generasi Pertama Teori Kritik (Mazhab Frankfreud) mencoba membangun kritis ideology yang ditokohi oleh Horkheimer, Adorno dan lain-lain. Mereka ingin melontarkan kritik terhadp positivisme sebagai ideology ilmu modern. Dalam pandangan mereka, positivisme merupakan ideology yang melanggengkan status quo, anti histories, anti sosial. Dengan seperti ini positivisme menempatkan sosial sama seperti benda yang mempunyai hukum keteraturan. Karena, teori yang dirumuskan merujuk pada ilmu pengetahuan alam yang ternyata sukses dengan adanya teknologi. Oleh karena itu Mazhab Frankfreud sangat menjauhi ilmu pengetahuan dan teknologi dan mereka sangat pesimis. Disamping itu mereka juga ingin menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan modern yang dilator belakangi positivisme telah menghasilkan masyarakat yang irasional dan ideologis.
Menurut Horkheimer dalam Zeitschrift tahun 1957, konsep teori yang dianut pada masa itu adalah konsep teori sebaimana dimengerti oleh ilmu-ilmu alam. Dan pada masa itu tumbuh subur pemikiran aliran positivisme yang berusaha menerapkan teori menurut ilmu-ilmu empiris-analitis atau ilmu-ilmu alam pada kenyatan sosial kemasyarakatan. Pada konteks ini mazhab Frankfreud mengkritik habis pemikiran positivisme, karena ia jatuh pada ahistoris, asosial, dan melanggengkan status quo. Kemudian Horkheimer berpendapat bahwa seharusnya teori-teori mengenai masyarakat tidak besifat netral, ahistoris, lepas dari praxis, melinkan sebaliknya, bersifat kritis. Arti kritis disini merjuk pada Hegelian dan Marxian. Horkheimer menyatakan bahwa ketidak netralan teori kritis itu terletak pada pemihakannya kepada praxis sejarah tertentu. Dan pemihakan itu terdapat di dalam tujuan Teori Kritis, yaitu pembebasan manusia dari perbudakan. Dengan demikianTeori Kritis yang diharapkan bersifat emansipatoris.
Horkheimer telah menbedakan dengan jelas dua macam ilmu pengetahuan dengan dua macam metodologi yang berbeda satu sama lain karena obyeknya yang berbeda, yaitu ilmu-ilmu alam yang menganut konsep Teori Tradisional dan ilmu-ilmu manusiawi yang diharapkan menganut teori kritis. Pembedaan itu sendiri merupakan kritik yang cukup keras dan tegas terhadap pemikiran positivisme yang mengambil begitu saja konsep teori ilmu-ilmu alam bagi ilmu-ilmu kemasyarakatan. Disini positivisme melakukan pemisahan antara praxis sosial dengan teori.
Rasionalitas teknologi telah menindas dimensi-dimensi kehidupan yang lain dimana manusia dapat mengekspresikan dirinya sebagai manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat positivistic menggiring manusia individu dan sosial pada arah satu titik. Disini kemudian terjebak pada wilayah ideology yang menindas dan masyarakat menerima denga suka rela karena ini sudah mencengkran secara total. Dan menurut Marcus rasio kritis sendiri tidak memiliki daya apa-apa ketika penguasaan total ilmu pengetahuan dan teknologi berubah menjadi ideology. Disinilah letak pesimistik dari Generasi Pertama Teori Kritis, dan kritik mereka terhadap positivisme masih bersifat moralitas. Dengan mengatakan bahwa rasio kritis dapat membeku menjadi ideology baru atau rasio instrumental sebagai hasil pencerahan menjadi mitos baru, dan dengan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi ideology dalam bentuk rasionalitas teknologi, Generasi Pertama Teori Kritis menghadapi jalan buntu dari teori kritis mereka sendiri.2
Setelah Generasi Pertama Teori Kritis mengalami kebuntuan bukan berarti mereka tidak memberikan sesuatu. Paling tidak mereka telah membuka pintu masuk pemikiran generasi selanjutnya, yaitu Jurgen Habermas.
Sebelum lebih lanjut memahami Habermas, terlebih dahulu saya ingin mengetengahkan keterkaitan Habermas dengan para pendahulunya yaitu Horkheimer dan Adorno. Habermas telah membaca karya-karya Horkheimer dan Adorno antaralain Traditionelle und kritische Theorie, Dealektik der Aufklarung. Dari sini Habermas banyak mendapatkan petunjuk untuk mengembangkan pemikirannya terutama Dialektik Aufklarung. Habermas berniat untuk memperdalam permasalaghan pokok yang dibahas di dalamnya, yaitu masalah rasionalitas dan pencerahan, yang oleh Horkheimer dan Adorno dihadapi secara pesimistis.
Seperti halnya dengan pendahulunya Habermas ingin menguak kembali pemikiran Marxis. Ia juga terkenal dengan kritis analitisnya, ia kritis terhadap pemikiran Marx, baik Marxis-ortodok atau neo-Marxisme.
Pendekatan yang dipakai adalah pendekatan kritik sesuai dengan para pendahuluan. Baginya karya-karya Marx merupakan kritik. Dengan cara ini Habermas ingin memurnikan pemikiran-pemikiran Marxis dari “romantisme” maupun dari “positivisme” yang dianut oleh partai-partai komunis dan cendikia-cendikia Marxis yang dipengaruhi Internasionale II.
Di dalam tulisannya Between Philosophy and Science : Marxism asuransi Critique, Habermas memaparkan empat alasan histories mengapa konsep-konsep Mark di dalam kritik Ekonomi-Politisnya lagi relevan bagi keadaan-keadaan masyarakatnya yang disebutnya Spatkapitalismus.3 Alasan pertama adalah bahwa pemisahan negara dan masyarakat yang menandai periode kapitalisme liberal sudah tidak relevan lagi. Politik tidak lagi merupakan superstruktur seperti dikira Marx dan masyarakat tidak lagi dapat dilihat secara simplistic sebagai hubungan antara basis ekonomi dan superstruktur politis. Kedua, di dalam masyarakat kapitalisme lanjuatan, standar hidup sudah berkembang sedemikian jauh sehingga revolusi tak dapat dikobarkan secara langsung dengan istilah-istilah ekonomi. Ketiga, dengan kondisi tertindas kaum proletar tidak bisa dijadikan tujuan untuk sebuah pengemban revolusi. Karena bagaimanapun kaum proletar dala keadaan cacat. Keempat, dengan bangkitanya negara komunis Uni soviet, diskusi sistematis Marxisme dipadamkan dan sebagai gantinya konsep-konsep Marxisme ortodoks membuktikan dirinya menjadi ideology.
Untuk membebaskan dari ideology yang ada Habermas tidak mengalamatkan revolusi pada kaum proletar, tetapi kepada rasio manusia. Karena bagaimanapun manusia mempunyai kemerdekaan dan sikap manusiawi. Keprihatinan yang ia bangun sama seperti para pendahulunya yaitu masalah positivisme. Rasio mendapat pemaknaan baru oleh habermas yaitu sesuatu yang berkaitan dengan kemampuan linguistis manusia. Disini Habermas mengacu pada “Paradigma Komunikasi” sebagai ganti “Paradigma Kerja” Marxis. Rasio disini kemudian tidak menggunakan logika kerja tetapi derngan interaksi. Dimana interaksi merupakan upaya untuk saling memahami sesuatu, disinilah kemudian lahir refleksi yang dilakukan oleh rasio. Implikasi dari paradigma komunikasi adalah memahami praxis emansipatoris sebagai dialog-dialog kamunikatif dan tindakan komunikatif yang menghasilkan pencerahan. Dalam konteks komunikasi ini perjuangan kelas dalam pandangan klasik, revolusi politis, diganti dengan “Perbincangan Rasional” dimana argumen-argumen berperan sebagai unsur emansipatoris. Disinilah kemudian adanya refleksi diri dengan konteks pencerahan untuk membebaskan dari sekian dogma dan ideologis.
Untuk membantu proses refleksi dan menghancurkan rintngan-rintangan komunikasi, Habermas menerapkan teori psikoanalisis. Karena dalam refleksi terdapat berbagai pergulatan dalam setiap individu. Tetapi kemudian Habermas menempatkan psikoanalisis hanya dari aspek metodologinya.
Dalam proses penafsiran makna-makna simbolis yang tersembunyi diantara pasien dan analisisnya, psikoanalisis dapat menyingkirkan kendala-kendala komunikasi. Habermas memaknai praxis sebagai kosep sentral bagi teori-teori yang mencari pertautannya dengan kehidupan sosial karena pemahaman tentang praxis menentukan bagaimana suatu teori dengan maksud praxis dilaksanakan (rasio bertujuan). Kalau pada masa pendahulunya praxis dimaknai sebagai kerja, jadi bagaimana kemudian teori diaplikasikan dengan kondisi sosial.
Positivisme merupakan bahan refleksi dari Habermas, ketika positivisme ingin memurnikan ilmu pengetahuan dari kepentingan-kepentingan. Da dalam positivisme, ilmu pengetahuan harus bersifat netral agar keberadaannya bersifat universal. Agar terbebas dari kepentingan maka obyeknya pun harus dipandang secara netral. Dari sinilah kemudian aliran ini mencoba mengaplikasikan ilmu pengetahuan alam yang dipandang sukses dengan berhasilnya menciptakan teknologi kepada kondisi sosial. Dalam pandangan positivisme, ketika sebuah teori dirumuskan maka obyek pengamatan tidak diambil dari sosial, karena ketika kondisi sosial menjadi obyek pengamatan disitu telah terjadi keberpihakan atau kepentingan.
Menurut Habermas, dalam menelorkan sebuah teori harus bersumber dari sosial. Sebuah teori itu ada harus mengetahui kondisi masyarakat yang ada. Di sinilah Habermas mengkritik positivisme karena bersifat ahistoris, asosial. Sebagai gantinya sebagaimana para pendahulunya mengacu pada rasio bertujuan. Artinya sekian konsep yang ada harus mengarah pada sasaran yang jelas yaitu sosial, dari sinilah mengapa Habermas menolak ilmu pengetahuan diterapkan pada persoalan sosial. Habermas ingin memanusiakan manusia dan manusia tidak sama dengan alam. Oleh karena itu ilmu pengetahuan menurutnya harus bersifat memihak, artinya bersifat emansipatoris yaitu membebaskan masyarakat dari ketertindasan.
Merujuk pda kebuntuan para pendahuluannya, Habermas meletakkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bentuk praxis yang harus direfleksikan. Para pendahulunya pesimis karena sosial sudah da belenggu yang total sehinggadayakritispun tidak bisa berbuat apa-apa.
Perubahan terjadi atas nama individu, karenanya Habermas membidik wilayah rasio manusia. Dengan rasio ini kemudian diharapkan lahirlah sebuah kesadaran dari masing-masing individu untuk berjuang atau melakukan perubahan. Setelah adanya kesadaran maka dari individu, nantinya akan melakukan interaksi untuk melakukan pemahaman-pemahaman akan makna yang ada dari masing-masing individu. Dan menurut Habermas yang mampu memfasilitasi itu adalah “Paradigma Komunikasi”.
Dalam paradigma komunikasi di idealkan adanya sebuah dialog yang mampu menganalisis sekian persoalan yang ada pada setiap individu, dari sini kemudian lahir refleksi-diri. Habermas mengintegrasikan psikoanalisis ke dalam Teori Kritis, karena psikoanalisis berusaha memahami makna manusiawi. Pemahaman atas makna itu terjadi di dalam dialog-dialog komunikatif antara analisis dan pasien. Paradigma kritis bersifat emansipatoris, artinya ada sekian kepentingan untuk membebaskan masyarakat dari ketertindasan yang berawal dari diri manusia sendiri.
Ada beberapa hal yang di inginkan Habermas, yaitu: Pertama , pencerahan diri yang diharapkan mampu membawa pecerahan sosial dalam menghadapi permasalahannya. Kedua, memanusiakan manusia. Manusia mempunyai kemerdekaan untuk mengekspresikan sekian keinginannya untuk merubah dirinya. Ketiga, hubungan harmonis antar manusia, dengan berinteraksi dan berkomunikasi manusia nantinya mampu memahami manusia lain.

Tidak ada komentar:

Markas Kami