Header Ads

Baca !!!


KEMATIAN

Oleh : Taufik bill Fagih*

Bhuto gugur; kita mendengar kabar, ratusan ribu manusia di seantero bumi menangis (bahkan mengkespresikan kesedihan dan kemarahannya melalui berbagai macam tindakan anarkis). Lima jenderal meninggal; puluhan ribu manusia di seluruh negeri ini meratap setiap tahun. Empat puluh lima mati di pinggiran jalan akibat serangan bom bunuh diri; kita melihat puluhan orang menangis di depan kamera TV. Tiga ratus ribu orang ibu wafat ketika melahirkan anak di seluruh dunia; hamper tak terdengar tangisan dari manapun.

Mengapa kematian seorang “Putri Politik” menyebabkan ratusan ribu manusia menangis; tetapi wafatnya tiga ratus ribu orang ibu setiap tahun tidak meneteskan air mata seorang pun? Apakah Bhuto pantas kita tangisi karena kematiannya sangat tragis, ditembak dan dibom? Mengapa kita tak ikut menangis untuk empat puluh lima orang yang mati di pinggiran jalan akibat serangan bom bunuh diri pada satu kali peristiwa saja?

Anda akan menjawab, “Bhuto dan para jenderal adalah orang-orang besar, sedangkan korban bom bunuh diri dan ibu yang melahirkan hanyalah orang-orang biasa.” Hampir setiap hari kita melihat bom bunuh diri (terkhus di Irak) dengan rakyat kecil sebagai korbannya. Hampir setiap saat kita mendengar ibu yang melahirkan meninggal, terutama di Indonesia. Perempuan bergelar “Putri Politik” dapat dihitung dengan jari; Bhuto Cuma satu-satunya di dunia. Tentara yang mencapai pangkat jenderal masih langka; apalagi jenderal itu meninggal dalam peristiwa bersejarah. Kalau begitu, apakah kelangkaan yang membuat kematian menjadi sangat istimewa?makin kurang orang semacam Anda, makin besar kemungkinan Anda akan ditangisi. Kelangkaan membuat kehilangan menjadi sangat terasa. Tetapi, ketahuilah, setiap hari, bahkan detik, di dunia ini ada mahkluk langka mati. Toh, kita tidak menyadarinya, apalagi menangisinya.

Tangisan kita atas kematian orang lain tidak ditentukan oleh istimewa atau langkanya orang itu. Yang menentukan adalah kesadaran kita sendiri. Orang mati bisa masuk menjadi objek kesadaran kita, bisa juga tidak. Ironis sekali bahwa kita bisa jadi sangat memikirkan kematian orang lain, tapi tidak pernah menghiraukan hari akhir kita sendiri.

Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku takjub melihat orang yang tertawa ketika menghantarkan jenazah. Ia tidak tahu bahwa jenazah itu akhir hidup dia juga.” Kita sering heran melihat sapi yang asik mengunyah makanan sambil memandang kawan-kawannya disembelih satu per satu. Anehnya, kita dengan tenang dan lahap makan dan minum, padahal kawan-kaan kita dijemput malakal maut seorang demi seorang.

Kita tidak memikirkan kematian kita karena kita tidak memasukkan kematian diri kita kedalam kesadaran kita. Dengan bantuan media, kita sadari kematian orang-orang yang jauh dari kita. Karena kematian kita tak pernah menjadi topik media, perhatian kita luput dari padanya. Jadi, inilah jawaban untuk pertanyaan pada awal tulisan ini: kesadaran kita akan kematian ditentukan oleh jumlah pemberitaan dalam media (bahasa media tak hanya menggambarkan tetapi juga mendefinisikan – Edwar Said). Kematian Bhuto kita tangisi karena dimuat semua media besar-besaran. Sementara itu, kita cuek saja pada kematian tiga ratus orang ibu di seluruh dunia karena media massa tidak memberitakannya.

Pengalaman kita sangat ditentukan oleh apa yang menjadi objek kesadaran kita dan bagaimana kita memberi makana pada onjek kesadaran itu. Kematian Bhuto dan para jenderal menjadi objek kesadaran kita, tetapi kematian kita sendiri tidak. Nabi Muhammad saw. menyuruh kita menjadikan kematian kita sebagai objek kesadaran. “aku tinggalkan kepada kalian dua pemberi nasihat: satu yang bicara, yang lainnya bisu. Penasihat yang berbicara adalah Al-Qur’an dan penasihat yang bisu adalah kematian.” Al-Qur’an memperingatkan kita kepada kawannya itu: Katakanlah, sesungguhnya maut yang dari situ kamu melarikan diri, sesungguhnya ia akan menemuimu juga, … (QS al Jumu’ah: 7)

Para psikolog menyebut kesadaran akan kematian sebagai gangguan kejiwaan. Para sufi menyebutnya sebagai petanda perkembangan ruhani yang baik. Muutuu qabla anta muutuu – Matilah sebelum engkau mati. Kamatian dapat membuat Anda resah dan sakit jiwa seperti yang terjadi pada Sigmund Freud. Tetapi, kamatian dapat membuat Anda bahagiadan berhati lapang seperti yang terjadi pada orang-orang salih.

Kesadaran akan kematian berakibat berbeda pada orang yang berbeda – bergantung pada orang memberikan makna kepadanya. Hadis menyebutkan dua macam kematian: kematian yang membuat dirinya istirahat dan kematian yang membuat orang lain istirahat. Bagi seorang mukmin, kematian memberinya peluang untuk beristirahat di tempat yang penuh dengan kedamaian. Kematian adalah perpindahan dari penjara ke istana. Buat pendurhaka, kematian membuat semua makhluk beristirahat dari gangguannya.

Para ahli hikmah berpesan, “Waktu Anda lahir, Anda menangis, padahal semua orang di sekitar anda tertawa bahagia. Berkhidmatlah kepada manusia, sehingga ketika Anda mati, semua orang di sekitar Anda menangis, padahal Anda sendiri tertawa bahagia.” Wallahu ‘alam

*Aktifis PMII Kaltim (Kandidat Ketua Umum PC.PMII Samarinda 2008-2009). Mahasiswa STAIN Samarinda smtr. VII.
(oepick_bill@yahoo.co.id/www.billfagih.blogspot.com/085256114362)

1 komentar

andreas iswinarto mengatakan...

Selamat karena anda adalah sahabat bumi manusia. Silah kunjungi dan beri masukan atas Seri Artikel Orkestrasi Pergerakan untuk Indonesia Baru diblog saya. Salam hangat!

http://ruangasadirumahkata.blogspot.com/