Post Populer

28.12.13

Ribuan "Gusdurian" Padati Haul Gus Dur di Jagakarsa

Ribuan jemaah Nahdlatul Ulama dan "Gusdurian" padati Haul Gus Dur ke-4, di Pondok Pesantren Ciganjur, Yayasan Wahid Hasyim, Jalan Warungsila Nomor 10, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (28/12/2013) malam.

Ketua Panitia Haul Yenny Zannuba Wahid memperkirakan acara istighotsah dan pembacaan satu juta surat Al Ikhlas itu akan dihadiri sekitar 4000 orang.

"Seperti haul-haul sebelumnya, haul kali ini juga dihadiri sejumlah kiai, tokoh, dan teman-teman dekat Gus Dur," kata Yenny, di lokasi, Sabtu malam.

Para peserta juga datang dari sejumlah pesantren, majelis taklim, dan kalangan umum dari hampir seluruh wilayah di Indonesia. Banyaknya jamaah itu membuat lalu lintas kawasan sekitar Jagakarsa terhambat. 

Sebagai dampak dari penyelenggaraan acara tersebut, sepanjang Jalan Warungsila, mulai dari Jalan Moh. Kahfi, lalu lintas diberlakukan satu arah. Adapun para pejabat yang tampak sudah menghadiri haul ke-4 Gus Dur, antara lain Kapolri (Jend) Sutarman, Akbar Tanjung, mantan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi, para duta besar dari negara sahabat, dan ulama.

Rencananya Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto akan memberikan testimoni di hadapan para peserta. Pejabat dan sahabat Gus Dur akan berbagi cerita mengenai sosok Gus Dur.

Gus Dur lahir di Jombang, pada 7 September 1940 dan wafat di Jakarta pada 30 Desember 2009, pada usia 69 tahun. Selain pernah menjabat Presiden, Gus Dur juga diingat sebagai tokoh muslim pluralis Indonesia dan pemimpin politik yang pernah mendeklarasikan Partai Kebangkitan Bangsa.

Disadur dari Kompas.Com
»»  Baca Selengkapnya...

Pelayanan KSP Al HIkam Cinta Indonesia

1.  Simpanan Pokok          :
Simpanan ini merupakan modal awal bagi anggota baru yang disetor dengan cara lunas maupun cicil. Besar simpanan pokok adalah Rp. 250.000. dan tidak dapat ditarik kecuali yang bersangkutan menyatakan diri untuk tidak lagi menjadi anggota koperasi.
2.  Simpanan Wajib          :
Setiap bulan, anggota wajib menyetor Rp. 50.000 sebagai iuran yang dilakukan setiap awal bulan (tgl 01-10). Sebagaimana Simpanan Pokok, Simpanan Wajib hanya bisa ditarik ketika yang bersangkutan menyatakan keluar sebagai anggota koperasi.
3.  Simpanan Sukarela       :
Anggota diberikan pelayanan untuk menyimpan uangnya di koperasi dalam bentuk sukarela. Simpanan ini minimal Rp. 50.000/bulan. Dapat ditarik setelah 6 bulan berikut. Simpanan Sukarela tidak mendapat potongan biaya apapun.
4.  Pinjaman          :
Bagi Anggota yang membutuhkan pinjaman, koperasi memberikan bantuan dengan bunga yang rendah sehingga dapat dijangkau.Anggota diberi kesempatan untuk memilih bentuk angsuran, baik mingguan atau bulanan. Koperasi melayani pinjaman mulai dari Rp. 500.000 hingga seterusnya (sesuai kondisi keuangan koperasi).
Sistem peminjaman dari Rp. 500.000 hingga Rp. 2.500.000, angsuran dilakukan setiap minggu dari 1 hingga 12 kali. Sementara dari Rp. 3.000.000 dan seterusnya, angsuran dibayar setiap bulan sebanyak 1 hingga 12 kali angsuran. Untuk setiap pinjaman akan dikenakkan potongan 0,02 % dari jumlah pinjaman sebagai administrasi.
Angsuran pinjaman terbagi dua pembayaran, angsuran pokok dan biaya infaq. Untuk mengetahui angsuran pokok, maka hitungannya adalah jumlah pinjaman dibagi banyak angsuran. Sementara infaq berasal dari 2% besarnya pinjaman.
Contoh, Jumlah pinjaman Rp. 1.000.000. Banyak angsuran 8 kali dan ditambah 2% dari Jumlah Pinjaman. Maka hasilnya adalah;
Rumus : Pinjaman/Banyak angsuran + 2% (1.000.000 x 2 /100 = 20.000)
      : 1.000.000/8
      : 125.000 + 20.000
      : 145.000

Jadi, total angsuran sebanyak 145.000/minggu sebanyak 8 kali.
»»  Baca Selengkapnya...

27.12.13

Program Kerja Pengurus Koperasi Simpan Pinjam

Program Kerja Pengurus Koperasi Simpan Pinjam
Al Hikam Cinta Indonesia 2014


I.       PROGRAM UMUM
Memantapkan dasar manajemen organisasi dan usaha yang memadai untuk para anggota koperasi sebagai upaya meningkatkan profesionalisme pengelolaan koperasi.
Upaya konkrit sebagai penjabaran program umum di atas antara lain :
·    Melakukan konsolidasi anggota.
·    Menata administrasi.
·    Melakukan penggalangan modal.
II.          PROGRAM BIDANG USAHA
· Melakukan usaha produktif: Simpan Pinjam.
· Mengaktifkan pembayaran simpanan pokok, wajib, dan sukarela guna pemupukan modal sendiri pada KSP Al HIKAM CINTA INDONESIA.
III.   PROGRAM KERJA TAHUNAN.
·         Mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) setiap tahun paling lambat bulan januari tahun bersangkutan.
·         Menghitung dan menyampaikan Sisa Hasil Usaha (SHU) kepada anggota.
·         Mengikutsertakan anggota, pengurus maupun badan pengawas dalam pelatihan-pelatihan pendidikan perkoperasian.
·         Mengadakan study banding dengan koperasi-koperasi lain.

Mengetahui,
PENGURUS KOPERASI SIMPAN PINJAM
AL HIKAM CINTA INDONESIA
2013


M. Taufik Bilfagih, S. Sos. I, Msi                             Haznam Amirullah
Ketua                                                             Sekretaris
PENDIRI YAYASAN DAN KOPERASI
AL HIKAM CINTA INDONESIA



Habib Muhsin Bilfagih, S. Ag, M. Mpd



»»  Baca Selengkapnya...

24.12.13

Hari Raya Keagamaan dan Kekalahan Laku Asketis

Ada hari dimana orang-orang tumpah di jalan-jalan. Tapi buka karena merayakan kemenangan sepakbola, karnaval atau demonstrasi dan kerusuhan.
Adji Subroto (avatar)

Kapan itu terjadi ?.

Hari ketika peringatan hari raya keagamaan datang dengan banjir diskon di mall-mall atau pusat-pusat perbelanjaan. Orang tua hingga anak-anak berjejal di jalan-jalan lengkap dengan kantong belanjaan di tangan.

Dalam konteks ini, tidak penting yang diperingati Natalan atau Idul Fitri. Sebab ketika dua hari raya keagamaan ini hadir, cobalah ke mall atau pusat belanja, lalu saksikan pemandangan penuh sesak dengan hilir mudik manusia. Macet kendaraan tiba-tiba saja mengular mengikuti rute belanja yang menuntun orang-orang kesana. Orang-orang yang pergi belanja itu seperti sedang tawaf saja.

Tanggal 23 Desember, malam hari, di sekitaran Gedung Juang, saya melihat lagi iring-iringan orang belanja di Manado, satu kota kecil di tepian Pasifik.

Manado adalah kota yang berkembang sangat cepat dalam urusan ‘menjadi kota jasa dan perdagangan’. Pesisirnya yang merupakan pemukiman padat penduduk direklamasi. Lalu secara bertahap dibangun menjadi pusat belanja yang ‘disewakan’ dalam bentuk Hak Guna Bangunan. Ada kawasan Mega Mall dan Manado Town Square (Mantos) yang paling besar dan terkenal. Di dua lokasi inilah orang-orang pergi belanja.

Tapi, karena ini Desember menjelang peringatan Natal, lalu seolah-olah tumpah ruang ‘orang tawaf’ di pusat-pusat belanja adalah monopoli saudara Kristiani. Tidak begitu. Pada hari raya Idul Fitri kita akan menyaksikan hal yang juga sama. Di masa kini, dalam moment peringatan keagamaan agama-agama yang denominatif, ada aspek yang mengikat umat selain ritus peribadatan yakni ritus belanja.

Ritus belanja didukung oleh jenis suasana batin dan ‘rasionalitas’ tertentu. Yakni semacam suasana dan laku psiko-ekonomi untuk memuaskan hasrat konsumsi atas barang dan jasa demi tampil maksimal di moment tertentu. Usaha untuk menonjolkan sisi-sisi yang ‘material’ (dalam wujud pakaian, hidangan, minuman, suasana rumah, furniture, dll) sebagai identitas diri yang berbeda dalam moment perayaan.

Ruang kota yang kecil seperti Manado dan mungkin juga di kota-kota sejenis, yaitu pinggiran Jawa yang bukan wilayah industrialis, tampaknya ‘ideologi belanja’ tidak ditopang oleh kehadiran kelas menengah. Ia ditopang oleh warga kota yang datang dari mana saja bahkan dari wilayah pertanian yang jauh yang stabilitas ekonomi komunalnya masih sangat bergantung pada kebaikan iklim. Sehingga kawasan-kawasan belanja bisa juga dikatakan sebagai ‘pusat-pusat kecil’ yang menjadi medan tarik dan medan lebur.

Telah sejak lama dan juga berulang disampaikan jika dalam hubungan antara perayaan keagamaan dan pemenuhan hasrat konsumerisme, salah satu persoalan yang sering diajukan dalam konteks ini adalah sejauhmana laku asketisme diri manusia beragama itu tidak boleh kalah oleh daya bujuk-rayu konsumerisme. Asketisme diri yang berwujud kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu dalam tuntutan-tuntunan etis ajaran-ajaran Tuhan yang harus bisa melawan bujuk rayu dan daya hipnotis mesin-mesin hasrat dalam payung besar kesenangan yang egosentris.

Apakah berhasil ? Pada banyak contoh, kita tahu, laku asketisme itu mulai kendur dan sesak nafas berhadap dengan ideologi belanja.

Bagaimana kekalahan laku asketisme dalam dunia ini (inner wolrdly asceticism, istilah dari Max Weber) pernah disinggung sosiolog Daniel Bell dalam kritiknya yang berjudul kontradiksi kultural kapitalisme. Atau dalam nada yang hampir sama juga dikritik filsuf Slavo Sizek dalam wujud kapitalisme kontemporer. Produksi kapitalisme yang berlebih membutuhkan pasar pembeli yang stabil dan terus membesar sebagai syarat untuk hidupnya. Maka itu ia membutuhkan satu ’siasat kebudayaan’ yang membuat masyarakat berorientasi pada pemenuhan nikmat lebih itu. Siasat kebudayaan yang menopangnya, yang menggeser sikap kerja keras menjadi perayaan hedonisme dalam format masyakarat yang berkelimpahan (affluent society) sebagaimana pengalaman masyarakat di Barat.

Menariknya di negeri kita yang terbentuk dari banyak perjumpaan ajaran dan ideologi lalu tumbuh menjadi bangsa yang campur sari, atau negeri dimana kapitalisme dicangkokan kata Tan Malaka, kekalahan laku asketis itu juga terjadi. Identitas Timur yang diagung-agungkan itu ternyata tak cukup tangguh menghalau keluar ekspansi mesin hasrat dan pemuasan nikmat lebih.

Ada baiknya kita mengulang lagi narasi tentang kekalahan laku asketik agama-agama itu ketika berhadapan dengan hegemoni ‘imperium belanja’.

Pertama, Jika agama-agama meminta manusia untuk menekan bawaan hawa nafsunya dan mengorientasikan hidupnya dalam pemenuhan tugas-tugas untuk membangun kehidupan yang baik untuk semua makhluk maka kini mesin-mesin hasrat telah mengalihkan itu menjadi laku untuk memuaskan ego diri secara terus menerus dalam wujud sikap-sikap yang hedonis-materialistis. Karena ada daya belanja yang cukup bahkan di atas rata-rata untuk melakukan konsumsi sebagai buah dari kerja. Laku asketis yang menjadi imperatif itu seperti patah. Pada patahan demikian, telikungan kapitalisme belanja memanfaatkan momen perayaan keagamaan sebagai pasar untuk produk-produknya. Seperti halnya Indonesia yang memiliki penduduk demikian banyak.

Singkat kata, ketika momen hari raya datang mall selalu penuh orang belanja sekalipun kritik agama-agama datang bertubi-tubi mengingatkan.

Hal kedua yang terjadi, dalam ekspansi ideologi belanja yang lintas geografis juga trans-kultural ini, batas antara mayor-minor yang dibelah oleh politik sejatinya juga melebur. Orang-orang pergi belanja tidak lagi dituntun oleh ‘nilai keagamaan’ yang dianut. Tapi ditarik-rayu oleh jenis-jenis produk dan kepuasan diri atas merek tertentu seturut kapasitas daya beli, misalnya. Oleh ideologi belanja, mayor-minor yang sering bertumbukan dalam ruang politik itu dileburkan menjadi sesuatu yang a-politis. Mayor-minor dalam ‘politik agama-agama tadi’ telah lebur menjadi lubang hitam kebudayaan yang diisi massa yang super aktif menyedot produk-produk konsumsi tanpa batas. Laku asketik kalah lagi karena tekanannya pada kekuatan individual oleh ideologi belanja dihancurkan menjadi sekumpulan massa.

Mayor atau minor dipisah oleh selera, daya beli, dan ‘batas kelas’ sebagai massa.

Hal ketiga yang menjadi implikasi berikut dari lebur batas antara mayor-minor menjadi massa konsumen oleh ideologi belanja tadi adalah perluasan de-subyektifasi. Yakni matinya subyek (dalam arti tumbuhnya sikap-sikap untuk menolak atau melawan kecenderungan pembentukan manusia satu dimensi seperti kritik mazhab Frankfurt). ‘Matinya subyek’ ini bisa ditafsirkan dalam dua kubu filsafat. Pertama, seperti suara miring Mazhab Frankfurt, adalah akibat dari telikungan kapitalisme atau kedua, justru memang yang sejatinya ada adalah tiadanya subyek seperti suara keras kaum posmo. Matinya subyek ini bisa dimaknai sebagai kekalahan paling fundamental dari laku asketis karena agama-agama meletakkan manusia sebagai aktor utama yang mewakili Tuhan untuk menjaga kehidupan bumi.

Inilah gambar singkat narasi kekalahan laku asketis agama justru ketika ia merayakan kehadiran dirinya di muka bumi. Kalah oleh the invisible hand bernama ‘nikmat lebih dan mesin hasrat’ yang kenyal dan menelikung dengan canggih. Ini juga gerak yang bekerja di balik ramainya pusat perbelanjaan pada setiap moment perayaan keagamaan kita.

Walau terbaca muram, agama punya seribu nyawa, karena itu ia tidak akan pernah benar-benar takluk secara total.
Salam.

Oleh Subroto Adji (Aktivis Muda Timur Indonesia)
»»  Baca Selengkapnya...

Harlah, Natal, dan Maulid

Penggunaan ketiga kata di atas dalam satu nafas, tentu banyak membuat orang marah. Seolah-olah penulis menyamakan ketiga peristiwa itu, karena bagi kebanyakan kaum Muslimin, satu dari yang lain sangat berbeda artinya. Harlah (hari lahir) digunakan  untuk menunjuk kepada saat kelahiran seseorang atau sebuah institusi. Dengan demikian, ia memiliki “arti biasa” yang tidak ada kaitannya dengan agama. Sementara bagi kaum Muslimin, kata Maulid selalu diartikan saat kelahiran Nabi Muhammad Saw. Dan kata Natal bagi kebanyakan orang, termasuk kaum Muslimin dan terlebih-lebih kaum Nasrani, memiliki arti khusus yaitu hari kelahiran Isa Al-Masih. Karena itulah, penyamaannya dalam satu nafas yang ditimbulkan oleh judul di atas, dianggap “bertentangan” dengan ajaran agama. Karena dalam pandangan mereka, istilah itu memang harus dibedakan satu dari yang lain. Penyampaiannya pun dapat memberikan kesan lain, dari yang dimaksudkan oleh orang yang mengucapkannya.
Kata Natal, yang menurut arti bahasanya adalah sama dengan kata harlah, hanya dipakai untuk Nabi Isa al-Masih belaka. Jadi ia mempunyai arti khusus, lain dari yang digunakan secara umum -seperti dalam bidang kedokteran, seperti perawatan pre-natal yang berarti “perawatan sebelum kelahiran”-. Yang dimaksud dalam peristilahan ‘Natal’ adalah saat Isa Al-Masih dilahirkan ke dunia oleh “perawan suci” Maryam. Karena itulah ia memiliki arti tersendiri, yaitu saat kelahiran anak manusia bernama Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia. Karena kaum Nasrani mempercayai adanya dosa asal. Anak manusia yang bernama Yesus Kristus itu sebenarnya adalah anak Tuhan, yang menjelma dalam bentuk manusia, guna memungkinkan “penebusan dosa” tersebut. Karena itu penjelmaannya sebagai anak manusia itu disebut juga oknum, yang merupakan salah satu dari oknum roh suci dan oknum Bapa yang ada di surga.
Sedangkan Maulid adalah saat kelahiran Nabi Muhammad Saw. Pertama kali dirayakan kaum Muslimin atas perintah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi dari Dinasti Mamalik yang berkebangsaan Kurdi itu. Dengan maksud untuk mengobarkan semangat kaum Muslimin, agar menang dalam perang Salib (crusade), maka ia memerintahkan membuat peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad tersebut, enam abad setelah Rasulullah wafat. Peristiwa Maulid itu hingga kini masih dirayakan dalam berbagai bentuk, walaupun Dinasti Sa’ud melarangnya di Saudi Arabia. Karya-karya tertulis berbahasa Arab banyak ditulis dalam  puisi dan prosa untuk “menyambut kelahiran” itu.
Karenanya dua kata (Natal dan Maulid) yang mempunyai makna khusus tersebut, tidak dapat dipersamakan satu sama lain, apapun juga alasannya. Karena arti yang terkandung dalam tiap istilah itu masing-masing berbeda dari yang lain, siapapun tidak dapat membantah hal ini. Sebagai perkembangan “sejarah ilmu”, dalam bahasa teori Hukum Islam (fiqh) kedua kata Maulid dan Natal adalah “kata yang lebih sempit maksudnya, dari apa yang diucapkan” (yuqlaqu al’am wa yuradu bihi al-khash). Hal ini disebabkan oleh perbedaan asal-usul istilah tersebut dalam sejarah perkembangan manusia yang sangat beragam itu. Bahkan tidak dapat dipungkiri, bahwa kata yang satu hanya khusus dipakai untuk orang-orang Kristiani, sedangkan yang satu lagi dipakai untuk orang-orang Islam.
******
Natal, dalam kitab suci al-Qur’an disebut sebagai “yauma wulida” (hari kelahiran, yang secara historis oleh para ahli tafsir dijelaskan sebagai hari kelahiran Nabi Isa, seperti terkutip: “kedamaian atas orang yang dilahirkan (hari ini)” (salamun yauma wulid) yang dapat dipakaikan pada beliau atau kepada Nabi Daud. Sebaliknya, firman Allah dalam surat al-Maryam: “Kedamaian atas diriku pada hari kelahiranku” (al-salamu ‘alaiyya yauma wulidtu), jelas-jelas menunjuk kepada ucapan Nabi Isa. Bahwa kemudian Nabi Isa “dijadikan” Anak Tuhan oleh umat Kristiani, adalah suatu hal yang lain lagi, yang tidak mengurangi arti ucapan Yesus itu. Artinya, Natal memang diakui oleh kitab suci al-Qur’an, juga sebagai kata penunjuk hari kelahiran beliau, yang harus dihormati oleh umat Islam juga. Bahwa, hari kelahiran itu memang harus dirayakan dalam bentuk berbeda, atau dalam bentuk yang sama tetapi dengan maksud yang berbeda, adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan. Jika penulis merayakan Natal adalah penghormatan untuk beliau dalam pengertian yang penulis yakini, sebagai Nabi Allah Swt.
Sedangkan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (Saladin the Saracen), penguasa dari wangsa Ayyub yang berkebangsaan Kurdi/ non-Arab itu, enam abad setelah Nabi Muhammad saw wafat, harus berperang melawan orang-orang Kristiani yang dipimpin Richard berhati singa (Richard the Lion Heart) dan Karel Agung (Charlemagne) dari Inggris dan Perancis  untuk mempertanggungjawabkan mahkota mereka kepada Paus, melancarkan perang Salib ke tanah suci. Untuk menyemangatkan tentara Islam yang melakukan peperangan itu, Saladin memerintahkan dilakukannya perayaan Maulid Nabi tiap-tiap tahun, di bulan kelahiran beliau. Bahwa kemudian peringatan itu berubah fungsinya, yang tidak lagi mengobarkan semangat peperangan kaum Muslimin, melainkan untuk mengobarkan semangat orang-orang Islam dalam perjuangan (tidak bersenjata) yang mereka lakukan, itu adalah perjalanan sejarah yang sama sekali tidak mempengaruhi asal-usul kesejarahannya.
Jadi jelas bagi kita, kedua peristiwa itu jelas mempunyai asal-usul, dasar tekstual agama dan jenis peristiwa yang sama sekali berbeda. Ini berarti, kemerdekaan bagi kaum Muslimin untuk turut menghormati hari kelahiran Nabi Isa, yang sekarang disebut hari Natal. Mereka bebas merayakannya atau tidak, karena itu sesuatu yang dibolehkan oleh agama. Penulis menghormatinya, kalau perlu dengan turut bersama kaum Kristiani merayakannnya bersama-sama. Dalam literatur fiqh, jika kita duduk bersama-sama dengan orang lain yang sedang melaksanakan peribadatan mereka, seorang Muslim diperkenankan turut serta duduk dengan mereka asalkan ia tidak turut dalam ritual kebaktian. Namun hal ini masih merupakan “ganjalan” bagi kaum muslimin pada umumnya, karena kekhawatiran mereka akan “dianggap” turut berkebaktian yang sama. Karena itulah, kaum Muslimin biasanya menunggu di sebuah ruangan, sedangkan ritual kebaktian dilaksanakan di ruang lain. Jika telah selesai, baru kaum Muslimin duduk bercampur dengan mereka untuk menghormati kelahiran Isa al-Masih.
Inilah “prosedur” yang ditempuh oleh para pejabat kita tanpa mengerti sebab musababnya. Karena jika tidak datang melakukan hal itu, dianggap “mengabaikan” aturan negara, sebuah masalah yang sama sekali berbeda dari asal-usulnya. Sementara dalam kenyataan, agama tidak mempersoalkan seorang pejabat datang atau tidak dalam sebuah perayaan keagamaan. Karena jabatan kenegaraan bukanlah jabatan agama, sehingga tidak ada keharusan apapun untuk melakukannya. Namun seorang pejabat, pada umumnya dianggap mewakili agama yang dipeluknya. Karenanya ia harus mendatangi upacara-upacara keagamaan yang bersifat ‘ritualistik’, sehingga kalau tidak melakukan hal itu ia akan dianggap ‘mengecilkan’ arti agama tersebut. Ini adalah sebuah proses sejarah yang wajar saja. Setiap negara berbeda dalam hal ini, seperti Presiden AS yang tidak dituntut untuk mendatangi peringatan maulid Nabi Saw. Di Mesir umpamanya, Mufti kaum Muslimin -yang bukan pejabat pemerintahan- mengirimkan ucapan selamat Natal secara tertulis, kepada Paus Shanuda (Pausnya kaum Kristen Coptic di Mesir). Sedangkan kebalikannya terjadi di hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, bukan pada hari Maulid Nabi saw. Padahal di Indonesia pejabat beragama Kristiani, kalau sampai tidak mengikuti peringatan Maulid Nabi saw akan dinilai tidak senang dengan Islam, dan ini tentu berakibat pada karier pemerintahannya. Apakah  ini merupakan sesuatu yang baik atau justru yang buruk, penulis tidak tahu. Kelanjutan sejarah kita sebagai bangsa, akan menunjukkan kepada generasi-generasi mendatang apakah arti moral maupun arti politis dari “kebiasaan” seperti itu.
Di sini menjadi jelas bagi kita, bahwa arti pepatah lain padang lain ilalang, memang nyata adanya. Semula sesuatu yang mempunyai arti keagamaan (seperti perayaan Natal), lama-kelamaan “dibudayakan” oleh masyarakat tempat ia berkembang. Sebaliknya, semula adalah sesuatu yang “dibudayakan” lalu menjadi berbeda fungsinya oleh perkembangan keadaan, seperti Maulid Nabi saw di Indonesia. Memang demikianlah perbedaan sejarah di sebuah negara atau di kalangan suatu bangsa. Sedangkan di negeri lain orang tidak pernah mempersoalkannya baik dari segi budaya maupun segi keyakinan agama. Karenanya, kita harus berhati-hati mengikuti perkembangan seperti itu. Ini adalah sebuah keindahan sejarah manusia, bukan?
Oleh: K.H Abdurrahman Wahid
Jerussalem, 20 Desember 2003
Tulisan ini pernah dimuat di Harian Suara Pembaruan
»»  Baca Selengkapnya...

Imam Al Hafidz Al Qutub Al-Musnid Prof. DR. Al Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bil Faqih

Sumber Google
       Prof. DR. Al Hafidz Al Musnid Al Habib Abdullah bin ‘Abdul Qadir bin Ahmad BilFaqih al-’Alawi adalah ulama yang masyhur alim dalam ilmu hadits. Beliau menggantikan ayahandanya Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad BilFaqih sebagai penerus mengasuh dan memimpin pesantren yang diasaskan ayahandanya tersebut pada 12 Rabi`ul Awwal 1364 / 12 Februari 1945 di Kota Malang, Jawa Timur.Pesantren yang terkenal dengan nama Pondok Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyyah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Pesantren ini telah melahirkan banyak ulama yang kemudian hari bertebaran di segenap pelosok Nusantara.
          Sebagian dari mereka telah mengikuti jejak langkah guru mereka dengan membuka pondok-pesantren demi menyiarkan dakwah dan ilmu, antaranya ialah Habib Ahmad al-Habsyi (PP ar-Riyadh, Palembang), Habib Muhammad Ba’Abud (PP Darun Nasyi-in, Lawang), Kiyai Haji ‘Alawi Muhammad (PP at-Taroqy, Sampang, Madura) dan lain-lainnya.  Bak Pinang Dibelah Dua Bapak dan anak sama-sama ulama besar, sama-sama ahli hadits, sama-sama pendidik ulung dan bijak. Merekalah Habib Abdul Qadir dan Habib Abdullah.Masyarakat Malang dan sekitarnya mengenal dua tokoh ulama yang sama-sama kharismatik, sama-sama ahli hadits, sama-sama pendidik yang bijaksana. Mereka adalah bapak dan anak: Habib Abdul Qadir Bilfagih dan Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih.
           Begitu besar keinginan sang ayah untuk “mencetak” anaknya menjadi ulama besar dan ahli hadist – mewarisi ilmunya.Ketika menunaikan ibadah haji, Habib Abdul Qadir Bilfagih berziarah ke makam Rasulullah SAW di kompleks Masjid Nabawi, Madinah. Di sana ia memanjatkan doa kepada Allah SWT agar dikaruniai putra yang kelak tumbuh sebagai ulama besar, dan menjadi seorang ahli hadits.Beberapa bulan kemudian, doa itu dikabulkan oleh Allah SWT. Pada 12 Rabiul Awal 1355 H/1935 M, lahirlah seorang putra buah pernikahan Habib Abdul Qadir dengan Syarifah Ummi Hani binti Abdillah bin Agil, yang kemudian diberi nama Abdullah.
Sesuai dengan doa yang dipanjatkan di makam Rasulullah SAW, Habib Abdul Qadir pun mencurahkan perhatian sepenuhnya untuk mendidik putra tunggalnya itu. Pendidikan langsung ayahanda ini tidak sia-sia. Ketika masih berusia tujuh tahun, Habib Abdullah sudah hafal Al-Quran.
          Hal itu tentu saja tidak terjadi secara kebetulan. Semua itu berkat kerja sama yang seimbang antara ayah yang bertindak sebagai guru dan anak sebagai murid. Sang guru mengerahkan segala daya upaya untuk membimbing dan mendidik sang putra, sementara sang anak mengimbanginya dengan semangat belajar yang tinggi, ulet, tekun, dan rajin.Menjelang dewasa, Habib Abdullah menempuh pendidikan di Lembaga Pendidikan At-Taroqi, dari madrasah ibtidaiyah hingga tsanawiyah di Malang, kemudian melanjutkan ke madrasah aliyah di Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah li Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah. Semua lembaga pendidikan itu berada di bawah asuhan ayahandanya sendiri.
          Sebagai murid, semangat belajarnya sangat tinggi. Dengan tekun ia menelaah berbagai kitab sambil duduk. Gara-gara terlalu kuat belajar, ia pernah jatuh sakit. Meski begitu ia tetap saja belajar. Barangkali karena ingin agar putranya mewarisi ilmu yang dimilikinya, Habib Abdul Qadir pun berusaha keras mendidik Habib Abdullah sebagai ahli hadits.
          Maka wajarlah jika dalam usia relatif muda, Habib Abdullah telah hafal dua kitab hadits shahih, yakni Shahihul Bukhari dan Shahihul Muslim, lengkap dengan isnad dan silsilahnya. Tak ketinggalan kitab-kitab Ummahatus Sitt (kitab induk hadits), seperti Sunan Abu Daud, Sunan Turmudzy, Musnad Syafi’i, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal; Muwatha’ karya Imam Malik; An-Nawadirul Ushul karya Imam Hakim At-Turmudzy; Al-Ma’ajim ats-Tsalats karya Abul Qasim At-Thabrany, dan lain-lain.
          Tidak hanya menghafal hadits, Habib Abdullah juga memperdalam ilmu musthalah hadist, yaitu ilmu yang mempelajari hal ikhwal hadits berikut perawinya, seperti Rijalul Hadits, yaitu ilmu tentang para perawi hadits. Ia juga menguasai Ilmu Jahr Ta’dil (kriteria hadits yang diterima) dengan mempelajari kitab-kitab Taqribut Tahzib karya Ibnu Hajar Al-Asqallany, Mizanut Ta’dil karya Al-Hafidz adz-Dzahaby.Empat MadzhabSelain dikenal sebagai ahli hadits, Habib Abdullah juga memperdalam tasawuf dan fiqih, juga langsung dari ayahandanya. Dalam ilmu fiqih ia mempelajari kitab fiqih empat madzhab (Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali), termasuk kitab-kitab fiqih lain, seperti Fatawa Ibnu Hajar, Fatawa Ramli, dan Al-Muhadzdzab Imam Nawawi.
           Setelah ayahandanya mangkat pada 19 November 1962 (21 Jumadil Akhir 1382 H), otomatis Habib Abdullah menggantikannya, baik sebagai pengasuh pondok peantren, muballigh, maupun pengajar. Selain menjabat direktur Lembaga Pesantren Darul Hadits Malang, ia juga memegang beberapa jabatan penting, baik di pemerintahan maupun lembaga keagamaan, seperti penasihat menteri koordinator kesejahteraan rakyat, mufti Lajnah Ifta Syari’i, dan pengajar kuliah tafsir dan hadits di IAIN dan IKIP Malang. Ia juga sempat menggondol titel doktor dan profesor.Sebagaimana ayahandanya, Habib Abdullah juga dikenal sebagai pendidik ulung.
          Mereka bak pinang dibelah dua, sama-sama sebagai pendidik, sama-sama menjadi suri tedalan bagi para santri, dan sama-sama tokoh kharismatik yang bijak. Seperti ayahandanya, Habib Abdullah juga penuh perhatian dan kasih sayang, dan sangat dekat dengan para santri. Sebagai guru, ia sangat memperhatikan pendidikan santri-santrinya. Hampir setiap malam, sebelum menunaikan shalat Tahajjud, ia selalu mengontrol para santri yang sedang tidur. Jika menemukan selimut santrinya tersingkap, ia selalu membetulkannya tanpa sepengetahuan si santri. Jika ada santri yang sakit, ia segera memberikan obat. Dan jika sakitnya serius, ia akan menyuruh seseorang untuk mengantarkannya ke dokter.
          Seperti halnya ulama besar atau wali, pribadi Habib Abdullah mulia dan kharismatik, disiplin dalam menyikapi masalah hukum dan agama. Tanpa tawar-menawar, sikapnya selalu tegas: yang haq tetap dikatakannya haq, yang bathil tetap dikatakannya bathil.Sikap konsisten untuk mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar itu tidak saja ditunjukkan kepada umat, tapi juga kepada pemerintah. Pada setiap kesempatan hari besar Islam atau hari besar nasional, Habib Abdullah selalu melancarkan saran dan kritik membangun – baik melalui pidato maupun tulisan.
Habib Abdullah juga dikenal sebagai penulis artikel yang produktif. Media cetak yang sering memuat tulisannya, antara lain, harian Merdeka, Surabaya Pos, Pelita, Bhirawa, Karya Dharma, Berita Buana, Berita Yudha. Ia juga menulis di beberapa media luar negeri, seperti Al-Liwa’ul Islamy (Mesir), Al-Manhaj (Arab Saudi), At-Tadhammun (Mesir), Rabithathul Alam al-Islamy (Makkah), Al-Arabi (Makkah), Al-Madinatul Munawarah (Madinah).


Habib Abdullah wafat pada hari Sabtu 24 Jumadil Awal 1411 H (30 November 1991) dalam usia 56 tahun. Ribuan orang melepas kepergiannya memenuhi panggilan Allah SWT. Setelah dishalatkan di Masjid Jami’ Malang, jenazahnya dimakamkan berdampingan dengan makam ayahandanya di pemakaman Kasin, Malang, Jawa Timur. 
»»  Baca Selengkapnya...

AL HIKAM

AL HIKAM
AL HIKAM CINTA INDONESIA © 2008. Design by :vio Templates Sponsored by: Lagu Hits Lagu Manca