Post Populer

23.2.15

Dokumentasi Malam Rabu 17/02/15


Berikut ini kami post rekaman tausiah Habib Muhsin Bilfagih pada Selasa, 17/02/15 di Markas Yayasan Al Hikam CInta Indonesia. Selamat menaksikan, semoga bermanfaat.

Admin
»»  Baca Selengkapnya...

2.1.15

Gus Mus: Penting untuk Selalu Membaca Pergantian Zaman

Pada momentum pergantian dari tahun 2014 ke tahun 2015 ini, penting bagi kita untuk selalu melakukan muhasabah atau evaluasi diri, agar dapat memperbaiki kesalahan yang pernah kita lakukan, sekaligus meningkatkan diri agar menjadi yang lebih baik di tahun mendatang. Petikan wawancara wartawan dari NU Online Ajie Najmuddin dengan Rais Aam PBNU DR KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus) di sela kunjungannya ke Sukoharjo belum lama ini, kiranya dapat membuat kita lebih dapat memaknai arti pergantian tahun, juga lebih arif dalam mengikuti perubahan zaman. Saya membaca tulisan dari Pak Kiai, tentang perubahan zaman. 

Bagaimana sesungguhnya menurut Kiai pergantian tahun, perubahan zaman ataupun perubahan waktu? Yang paling penting, pergantian tahun itu perlu kita maknai sebagai momentum untuk mengevaluasi diri kita, bukan mengevaluasi orang lain, pada tahun yang lalu untuk tahun yang baru. 

Kalau kita bicara secara sosial, kita juga mesti evaluasi perilaku sosial kita bagaimana? Apa sudah sempurna apa belum. Kalau kita ketahui kekurangannya, bisa kita perbaiki. Penting juga untuk muhasabah diri, apa saja perilaku kita. Kadang kita ini sibuk, tapi tidak jelas kesibukan kita. Kita ini sibuk apa? Yang kita cari itu apa? Apa yang sudah kita dapat? Kita mendapatkan apa dan seterusnya. Nah, pertanyaan-pertanyaan muhasabah diri ini penting sekali kalau orang ingin meningkat, kecuali kalau ia cuek, pergantian tahun biar berganti, maka kita akan ditinggalkan oleh zaman itu sendiri. 

Ketika kita masih tetap seperti kemarin, sedangkan zaman semakin maju. Apa yang penting bagi kita semua, agar tidak tertinggal zaman? Ya, itu tadi. Kita ikuti zaman dengan muhasabah. Setiap pergantian zaman atau pergantian tahun, untuk perbaikan yang akan datang. Zaman seperti apapun kalau kita perhatikan lingkungan kita dan perubahan zaman, kita tidak akan ketinggalan. Zaman itu kan waktu. Alwaqtu kas saif, alwaqtu dzahaba pergi tidak bisa kembali, alwaqtu dzahabun waktu itu emas. Tinggal kita bagaimana menyikapi waktu itu. Kalau kita gunakan semstinya, maka waktu itu emas. Kalau kita biarkan begitu saja, maka akan mandek terus, padahal zaman itu membawa perubahan. Kita lihat saja antara kita dengan anak kita, itu cara berpikir gaya hidup sudah berbeda. 

Kalau kita gak bisa mengikuti akan ada gap dengan mereka, ini belum dengan cucu kita. Karena itu kita harus tahu, anak muda sekarang tuntutannya apa, kita berdiri di mana poisisi kita, apa kita akan tetap mengawani anak kita berjalan ke depan atau kita biarkan jalan sendiri tergantung kita menyikapi zaman. Misal saya sendiri ikut facebook-an, twitter-an. Meskipun banyak yang ngledek saya: sudah tua kok main twitteran! Dikiranya twitter-an itu hanya untuk yang muda saja Bahasa, juga ada bahasa orang dahulu, ada bahasa orang sekarang. Di sastra ada angkatan lama, pujangga baru dan sebagainya. Kalau kita tidak mengikuti itu, misal kita masih menggunakan bahasa pujangga lama, kita akan dinilai primitif oleh orang sekarang. Lalu, apa yang seharusnya bertahan dan terus? 

Ada hal yang perlu kita perhatikan. Kalau kita mengikuti zaman, kadang kita larut, mestinya tidak. Sebab, dalam nilai lama itu banyak nilai yang mulia. Sehingga apapun yang berlaku pada masa kini, ada nilai lama mesti kita pertahankan. Misal, dalam prinsip melihat Tuhan dan manusia, diri kita sebagai hamba dan sebagai khalifah. Prinsip ini harus kita pegang dalam menghadapi zaman apapun! 

Misal, ini sudah modern, jadi kita sudah tidak perlu menghamba lagi kepada Tuhan. Ya tidak bisa! kita mesti tetap menghamba kepada Tuhan. Lalu, kaitannya dengan posisi pesantren dalam perubahan zaman, sampai bentuknya sekarang, mampu mempertahankan kearifan lama dalam hal apa saja? 

Kalau kita bicara pesantren. Pertama, tantangan bagi pesantren itu sendiri. Kedua, seperti yang sampeyan sampaikan itu sendiri (mempertahankan kearifan lama,-red). Disana ada kemandirian, tradisi ilmiah yang pertanggungjawabannya luar biasa sampai hari akhir. Ambil contoh seorang yang belajar hadist. Nanti, orang pesantren bisa menjelaskan ketika dihisab, mengapa ini dawuh dari rasulullah saw? apa kamu seangkatan satu zaman? Apa rasul itu tetanggamu? Sekarang ini banyak ustadz yang bilang : rasulullah bersabda innamal a’malu binniyati. Seolah dia tanya sendiri dari rasulullah. Sebab, Man kadzaba a'laiya muta'ammidan falyatabawwa maq'adahu minannaar. Itu ancamannya dari rasul sendiri. Lha, terkadang bukan dari rasul, tapi mengaku dari rasul. Kalau kita ditanya dari mana? kita jawab dari sebuah majalah, wah itu nanti pertanggungjawaban putus. 

Majalahnya masih terbit atau tidak? Kalau di pesantren, ditanya dari mana kamu dengar? Saya dengar dari guru saya, misal dari Kiai Ali Maksum, terus sampai sahabat sampai rasul. Atau seorang kiai mengajar itu darimana itu? Dijawab dari guru saya, guru saya, terus. Alquran misalnya dari Kiai Umar, itu dari gurunya terus ke atas sampai rasul. Di pesantren ada namanya tarbiyatus sulukiyah, pendidikan sejati. Itu adalah pemberian bukan hanya nasihat tapi juga keteladanan. Anda perhatikan kalau di sekolah formal, nuwun sewu, kira-kira pendidikannya bagaimana? Meskipun kita sebut sebagai pendidikan. Kalau saya melihat, pendidikan formal yang ada pendidikannya, justru di TK dan PAUD, tapi di SD sana saya tidak melihat lagi di mana pendidikan. Kalau di pesantren, sejak awal memang lembaga pendidikan, maka zaman dahulu pengajarannya tidak begitu penting seperti pendidikan. Ada dua hal yang kita rancukan, antara pengajaran dan pendidikan. Dalam bahasa arab jelas, pengajaran (ta’lim) dan pendidikan (tarbiyah). Pengajaran tidak menjamin perubahan perilaku manusia, tetapi pendidikan lah yang mampu untuk merubahnya. Pengajaran hanya pemberian informasi. Kalau murid diberi tahu informasi sejarah, biologi, alquran dia jadi tahu. Tapi perilakunya, alquran atau tidak, itu bukan urusan ta’lim tapi urusan tarbiyah. Makanya di pesantren ada ilmu manfaat ilmu yang diamalkan tidak sekedar ilmu. Pesantren zaman dahulu tidak hanya mencetak ilmuwan saja, tetapi diharapkan juga yang penting manusia yang berilmu yang saleh, artinya saleh itu mengamalkan ilmunya. 

Di tahun baru ini, mungkin kami bisa mendengar nasihat ringkas dari Pak Kiai? Saya selalu kalau dimintai nasihat, nasihat saya satu, jangan pernah berhenti belajar. Terutama, belajar tentang agama itu sendiri. Boleh berhenti sekolah tapi jangan berhenti belajar! Sebab terbukti di dalam masyarakat yang banyak bikin masalah itu orang yang berhenti belajar, terutama mereka yang berhenti belajar karena merasa sudah pandai, lalu berfatwa dan kemudian menyalahkan orang lain. Kalau mereka mau rendah hati untuk terus belajar, insyallah hal itu tidak akan terjadi. Kita mesti ingat perintah nabi, menuntut ilmu itu minal mahdi ila lahdi (sejak dalam ayunan hingga liang lahat,-red). ** nu.or.id
»»  Baca Selengkapnya...

28.12.13

Ribuan "Gusdurian" Padati Haul Gus Dur di Jagakarsa

Ribuan jemaah Nahdlatul Ulama dan "Gusdurian" padati Haul Gus Dur ke-4, di Pondok Pesantren Ciganjur, Yayasan Wahid Hasyim, Jalan Warungsila Nomor 10, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu (28/12/2013) malam.

Ketua Panitia Haul Yenny Zannuba Wahid memperkirakan acara istighotsah dan pembacaan satu juta surat Al Ikhlas itu akan dihadiri sekitar 4000 orang.

"Seperti haul-haul sebelumnya, haul kali ini juga dihadiri sejumlah kiai, tokoh, dan teman-teman dekat Gus Dur," kata Yenny, di lokasi, Sabtu malam.

Para peserta juga datang dari sejumlah pesantren, majelis taklim, dan kalangan umum dari hampir seluruh wilayah di Indonesia. Banyaknya jamaah itu membuat lalu lintas kawasan sekitar Jagakarsa terhambat. 

Sebagai dampak dari penyelenggaraan acara tersebut, sepanjang Jalan Warungsila, mulai dari Jalan Moh. Kahfi, lalu lintas diberlakukan satu arah. Adapun para pejabat yang tampak sudah menghadiri haul ke-4 Gus Dur, antara lain Kapolri (Jend) Sutarman, Akbar Tanjung, mantan Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi, para duta besar dari negara sahabat, dan ulama.

Rencananya Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto akan memberikan testimoni di hadapan para peserta. Pejabat dan sahabat Gus Dur akan berbagi cerita mengenai sosok Gus Dur.

Gus Dur lahir di Jombang, pada 7 September 1940 dan wafat di Jakarta pada 30 Desember 2009, pada usia 69 tahun. Selain pernah menjabat Presiden, Gus Dur juga diingat sebagai tokoh muslim pluralis Indonesia dan pemimpin politik yang pernah mendeklarasikan Partai Kebangkitan Bangsa.

Disadur dari Kompas.Com
»»  Baca Selengkapnya...

Pelayanan KSP Al HIkam Cinta Indonesia

1.  Simpanan Pokok          :
Simpanan ini merupakan modal awal bagi anggota baru yang disetor dengan cara lunas maupun cicil. Besar simpanan pokok adalah Rp. 250.000. dan tidak dapat ditarik kecuali yang bersangkutan menyatakan diri untuk tidak lagi menjadi anggota koperasi.
2.  Simpanan Wajib          :
Setiap bulan, anggota wajib menyetor Rp. 50.000 sebagai iuran yang dilakukan setiap awal bulan (tgl 01-10). Sebagaimana Simpanan Pokok, Simpanan Wajib hanya bisa ditarik ketika yang bersangkutan menyatakan keluar sebagai anggota koperasi.
3.  Simpanan Sukarela       :
Anggota diberikan pelayanan untuk menyimpan uangnya di koperasi dalam bentuk sukarela. Simpanan ini minimal Rp. 50.000/bulan. Dapat ditarik setelah 6 bulan berikut. Simpanan Sukarela tidak mendapat potongan biaya apapun.
4.  Pinjaman          :
Bagi Anggota yang membutuhkan pinjaman, koperasi memberikan bantuan dengan bunga yang rendah sehingga dapat dijangkau.Anggota diberi kesempatan untuk memilih bentuk angsuran, baik mingguan atau bulanan. Koperasi melayani pinjaman mulai dari Rp. 500.000 hingga seterusnya (sesuai kondisi keuangan koperasi).
Sistem peminjaman dari Rp. 500.000 hingga Rp. 2.500.000, angsuran dilakukan setiap minggu dari 1 hingga 12 kali. Sementara dari Rp. 3.000.000 dan seterusnya, angsuran dibayar setiap bulan sebanyak 1 hingga 12 kali angsuran. Untuk setiap pinjaman akan dikenakkan potongan 0,02 % dari jumlah pinjaman sebagai administrasi.
Angsuran pinjaman terbagi dua pembayaran, angsuran pokok dan biaya infaq. Untuk mengetahui angsuran pokok, maka hitungannya adalah jumlah pinjaman dibagi banyak angsuran. Sementara infaq berasal dari 2% besarnya pinjaman.
Contoh, Jumlah pinjaman Rp. 1.000.000. Banyak angsuran 8 kali dan ditambah 2% dari Jumlah Pinjaman. Maka hasilnya adalah;
Rumus : Pinjaman/Banyak angsuran + 2% (1.000.000 x 2 /100 = 20.000)
      : 1.000.000/8
      : 125.000 + 20.000
      : 145.000

Jadi, total angsuran sebanyak 145.000/minggu sebanyak 8 kali.
»»  Baca Selengkapnya...

27.12.13

Program Kerja Pengurus Koperasi Simpan Pinjam

Program Kerja Pengurus Koperasi Simpan Pinjam
Al Hikam Cinta Indonesia 2014


I.       PROGRAM UMUM
Memantapkan dasar manajemen organisasi dan usaha yang memadai untuk para anggota koperasi sebagai upaya meningkatkan profesionalisme pengelolaan koperasi.
Upaya konkrit sebagai penjabaran program umum di atas antara lain :
·    Melakukan konsolidasi anggota.
·    Menata administrasi.
·    Melakukan penggalangan modal.
II.          PROGRAM BIDANG USAHA
· Melakukan usaha produktif: Simpan Pinjam.
· Mengaktifkan pembayaran simpanan pokok, wajib, dan sukarela guna pemupukan modal sendiri pada KSP Al HIKAM CINTA INDONESIA.
III.   PROGRAM KERJA TAHUNAN.
·         Mengadakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) setiap tahun paling lambat bulan januari tahun bersangkutan.
·         Menghitung dan menyampaikan Sisa Hasil Usaha (SHU) kepada anggota.
·         Mengikutsertakan anggota, pengurus maupun badan pengawas dalam pelatihan-pelatihan pendidikan perkoperasian.
·         Mengadakan study banding dengan koperasi-koperasi lain.

Mengetahui,
PENGURUS KOPERASI SIMPAN PINJAM
AL HIKAM CINTA INDONESIA
2013


M. Taufik Bilfagih, S. Sos. I, Msi                             Haznam Amirullah
Ketua                                                             Sekretaris
PENDIRI YAYASAN DAN KOPERASI
AL HIKAM CINTA INDONESIA



Habib Muhsin Bilfagih, S. Ag, M. Mpd



»»  Baca Selengkapnya...

24.12.13

Hari Raya Keagamaan dan Kekalahan Laku Asketis

Ada hari dimana orang-orang tumpah di jalan-jalan. Tapi buka karena merayakan kemenangan sepakbola, karnaval atau demonstrasi dan kerusuhan.
Adji Subroto (avatar)

Kapan itu terjadi ?.

Hari ketika peringatan hari raya keagamaan datang dengan banjir diskon di mall-mall atau pusat-pusat perbelanjaan. Orang tua hingga anak-anak berjejal di jalan-jalan lengkap dengan kantong belanjaan di tangan.

Dalam konteks ini, tidak penting yang diperingati Natalan atau Idul Fitri. Sebab ketika dua hari raya keagamaan ini hadir, cobalah ke mall atau pusat belanja, lalu saksikan pemandangan penuh sesak dengan hilir mudik manusia. Macet kendaraan tiba-tiba saja mengular mengikuti rute belanja yang menuntun orang-orang kesana. Orang-orang yang pergi belanja itu seperti sedang tawaf saja.

Tanggal 23 Desember, malam hari, di sekitaran Gedung Juang, saya melihat lagi iring-iringan orang belanja di Manado, satu kota kecil di tepian Pasifik.

Manado adalah kota yang berkembang sangat cepat dalam urusan ‘menjadi kota jasa dan perdagangan’. Pesisirnya yang merupakan pemukiman padat penduduk direklamasi. Lalu secara bertahap dibangun menjadi pusat belanja yang ‘disewakan’ dalam bentuk Hak Guna Bangunan. Ada kawasan Mega Mall dan Manado Town Square (Mantos) yang paling besar dan terkenal. Di dua lokasi inilah orang-orang pergi belanja.

Tapi, karena ini Desember menjelang peringatan Natal, lalu seolah-olah tumpah ruang ‘orang tawaf’ di pusat-pusat belanja adalah monopoli saudara Kristiani. Tidak begitu. Pada hari raya Idul Fitri kita akan menyaksikan hal yang juga sama. Di masa kini, dalam moment peringatan keagamaan agama-agama yang denominatif, ada aspek yang mengikat umat selain ritus peribadatan yakni ritus belanja.

Ritus belanja didukung oleh jenis suasana batin dan ‘rasionalitas’ tertentu. Yakni semacam suasana dan laku psiko-ekonomi untuk memuaskan hasrat konsumsi atas barang dan jasa demi tampil maksimal di moment tertentu. Usaha untuk menonjolkan sisi-sisi yang ‘material’ (dalam wujud pakaian, hidangan, minuman, suasana rumah, furniture, dll) sebagai identitas diri yang berbeda dalam moment perayaan.

Ruang kota yang kecil seperti Manado dan mungkin juga di kota-kota sejenis, yaitu pinggiran Jawa yang bukan wilayah industrialis, tampaknya ‘ideologi belanja’ tidak ditopang oleh kehadiran kelas menengah. Ia ditopang oleh warga kota yang datang dari mana saja bahkan dari wilayah pertanian yang jauh yang stabilitas ekonomi komunalnya masih sangat bergantung pada kebaikan iklim. Sehingga kawasan-kawasan belanja bisa juga dikatakan sebagai ‘pusat-pusat kecil’ yang menjadi medan tarik dan medan lebur.

Telah sejak lama dan juga berulang disampaikan jika dalam hubungan antara perayaan keagamaan dan pemenuhan hasrat konsumerisme, salah satu persoalan yang sering diajukan dalam konteks ini adalah sejauhmana laku asketisme diri manusia beragama itu tidak boleh kalah oleh daya bujuk-rayu konsumerisme. Asketisme diri yang berwujud kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu dalam tuntutan-tuntunan etis ajaran-ajaran Tuhan yang harus bisa melawan bujuk rayu dan daya hipnotis mesin-mesin hasrat dalam payung besar kesenangan yang egosentris.

Apakah berhasil ? Pada banyak contoh, kita tahu, laku asketisme itu mulai kendur dan sesak nafas berhadap dengan ideologi belanja.

Bagaimana kekalahan laku asketisme dalam dunia ini (inner wolrdly asceticism, istilah dari Max Weber) pernah disinggung sosiolog Daniel Bell dalam kritiknya yang berjudul kontradiksi kultural kapitalisme. Atau dalam nada yang hampir sama juga dikritik filsuf Slavo Sizek dalam wujud kapitalisme kontemporer. Produksi kapitalisme yang berlebih membutuhkan pasar pembeli yang stabil dan terus membesar sebagai syarat untuk hidupnya. Maka itu ia membutuhkan satu ’siasat kebudayaan’ yang membuat masyarakat berorientasi pada pemenuhan nikmat lebih itu. Siasat kebudayaan yang menopangnya, yang menggeser sikap kerja keras menjadi perayaan hedonisme dalam format masyakarat yang berkelimpahan (affluent society) sebagaimana pengalaman masyarakat di Barat.

Menariknya di negeri kita yang terbentuk dari banyak perjumpaan ajaran dan ideologi lalu tumbuh menjadi bangsa yang campur sari, atau negeri dimana kapitalisme dicangkokan kata Tan Malaka, kekalahan laku asketis itu juga terjadi. Identitas Timur yang diagung-agungkan itu ternyata tak cukup tangguh menghalau keluar ekspansi mesin hasrat dan pemuasan nikmat lebih.

Ada baiknya kita mengulang lagi narasi tentang kekalahan laku asketik agama-agama itu ketika berhadapan dengan hegemoni ‘imperium belanja’.

Pertama, Jika agama-agama meminta manusia untuk menekan bawaan hawa nafsunya dan mengorientasikan hidupnya dalam pemenuhan tugas-tugas untuk membangun kehidupan yang baik untuk semua makhluk maka kini mesin-mesin hasrat telah mengalihkan itu menjadi laku untuk memuaskan ego diri secara terus menerus dalam wujud sikap-sikap yang hedonis-materialistis. Karena ada daya belanja yang cukup bahkan di atas rata-rata untuk melakukan konsumsi sebagai buah dari kerja. Laku asketis yang menjadi imperatif itu seperti patah. Pada patahan demikian, telikungan kapitalisme belanja memanfaatkan momen perayaan keagamaan sebagai pasar untuk produk-produknya. Seperti halnya Indonesia yang memiliki penduduk demikian banyak.

Singkat kata, ketika momen hari raya datang mall selalu penuh orang belanja sekalipun kritik agama-agama datang bertubi-tubi mengingatkan.

Hal kedua yang terjadi, dalam ekspansi ideologi belanja yang lintas geografis juga trans-kultural ini, batas antara mayor-minor yang dibelah oleh politik sejatinya juga melebur. Orang-orang pergi belanja tidak lagi dituntun oleh ‘nilai keagamaan’ yang dianut. Tapi ditarik-rayu oleh jenis-jenis produk dan kepuasan diri atas merek tertentu seturut kapasitas daya beli, misalnya. Oleh ideologi belanja, mayor-minor yang sering bertumbukan dalam ruang politik itu dileburkan menjadi sesuatu yang a-politis. Mayor-minor dalam ‘politik agama-agama tadi’ telah lebur menjadi lubang hitam kebudayaan yang diisi massa yang super aktif menyedot produk-produk konsumsi tanpa batas. Laku asketik kalah lagi karena tekanannya pada kekuatan individual oleh ideologi belanja dihancurkan menjadi sekumpulan massa.

Mayor atau minor dipisah oleh selera, daya beli, dan ‘batas kelas’ sebagai massa.

Hal ketiga yang menjadi implikasi berikut dari lebur batas antara mayor-minor menjadi massa konsumen oleh ideologi belanja tadi adalah perluasan de-subyektifasi. Yakni matinya subyek (dalam arti tumbuhnya sikap-sikap untuk menolak atau melawan kecenderungan pembentukan manusia satu dimensi seperti kritik mazhab Frankfurt). ‘Matinya subyek’ ini bisa ditafsirkan dalam dua kubu filsafat. Pertama, seperti suara miring Mazhab Frankfurt, adalah akibat dari telikungan kapitalisme atau kedua, justru memang yang sejatinya ada adalah tiadanya subyek seperti suara keras kaum posmo. Matinya subyek ini bisa dimaknai sebagai kekalahan paling fundamental dari laku asketis karena agama-agama meletakkan manusia sebagai aktor utama yang mewakili Tuhan untuk menjaga kehidupan bumi.

Inilah gambar singkat narasi kekalahan laku asketis agama justru ketika ia merayakan kehadiran dirinya di muka bumi. Kalah oleh the invisible hand bernama ‘nikmat lebih dan mesin hasrat’ yang kenyal dan menelikung dengan canggih. Ini juga gerak yang bekerja di balik ramainya pusat perbelanjaan pada setiap moment perayaan keagamaan kita.

Walau terbaca muram, agama punya seribu nyawa, karena itu ia tidak akan pernah benar-benar takluk secara total.
Salam.

Oleh Subroto Adji (Aktivis Muda Timur Indonesia)
»»  Baca Selengkapnya...

AL HIKAM

AL HIKAM
AL HIKAM CINTA INDONESIA © 2008. Design by :vio Templates Sponsored by: Lagu Hits Lagu Manca