Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Sepakbola    Kuliner    Film   

Newsletter

Klik disini untuk vidio lainnya »
Klik disini untuk artikel lainnya »">Index »'); document.write('

Klik disini untuk artikel lainnya »?max-results=10">Berita

');
  • Klik disini untuk artikel lainnya »?max-results="+numposts1+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts1\"><\/script>");

Maulid Nabi; Tablig Akbar dan Pentas Kebudayaan

Belajar Toleransi dari Jalan Roda (Jarod) Manado; Diskusi Bersama Habib Muhsin Bilfagih

Beberapa waktu lalu, saya pernah berkunjung ke Kota Manado, Sulawesi Utara. Bersama kawan-kawan, saya menyambangi majelis Al-Hikam Cinta Indonesia. Majelis tersebut didirikan Habib Muhsin Bilfaqih, seorang keturunan Yaman, yang kini Mustasyar PWNU Sulawesi Utara. Majelis tersebut, tidak jauh dari dua gereja dan letaknya berimpitan dengan rumah tokoh Muhammadiyah. 

Di majelis tersebut tidak hanya tempat mengaji anak-anak, memukul rebana, atawa membaca Ratib dan shalawatan, melainkan tempat berkumpul lintas golongan. Anak-anak muda berlatar belakang Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Muslim sendiri sering bertemu di situ. 

Majelisnya didesain seperti itu, menurut Habib Muhsin, karena manusia berasal dari satu Adam. Manusia lebih tua dari agama. Dan yang tua harus dihormati, termasuk identitas yang berbeda-beda. Itu desain tuhan dan tentu ada maksudnya. “Kalau Dia (Tuhan) mau mengubah hari ini, Dia bisa,” katanya. 

Pada hakikatnya orang yang membenci perbedaan pun berasal dari Tuhan. Keadaan yang demikian itu sebagai alat uji bagi manusia dan saling mempelajari satu sama lain. Kadang-kadang kita menyadari kebenaran dengan berkaca dari kesalahan orang lain. 

Ketika Tuhan menciptakan seseorang, Tuhan juga menciptakan orang lain. Jika seseorang itu ingin dihargai, orang lain pun perlu dihargai. Jika itu kebutuhan kita, maka itu juga kebutuhan orang lain sehingga kita tidak bisa mencaplok kebutuhan orang lain. “Di sinilah pentingnya pertemuan, perkenalan.” 

Habib Muhsin Bilfaqih mengatakan, manusia diciptakan memiliki 3 tugas, yaitu hablum minallah. Maka pendekatan yang harus dibangun adalah ibadah. Tidak ada tawar-menawar. Kedua, hablum minan nas, pendekatan yang hars dibangun antarsesama manusia dengan akhlak. Dan ketiga, hablum minal alam, bumi, flora, dan fauna dengan pendekatan teknologi. Jika ketiganya tertata dan terbangun dengan baik, maka itulah sorga di bumi. 
Jalan Roda 

Menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2010, komposisi penduduk Manado berdasarkan agama adalah 128.483 menganut Islam, 254.912 Kristen, 20.603 Katolik, 692 Hindu, 2.244 Budha, dan Konghucu 499 jiwa. 

Di kota tersebut hidup beragam suku bangsa. Meski riak-riak konflik selalu ada, tapi kota Manado relatif aman. Pada tahun 1999 misalnya, kota tersebut tidak terjadi kerusuhan sebagaimana kota-kota besar lain. 

Di antara perekat multietnis, multiagama kota tersebut adalah motto dan filsafat mereka yang terkenal. Misalnya si tou timou tumou tou yang dipopulerkan Sam Ratulangi, yang berarti manusia hidup untuk memanusiakan orang lain atau orang hidup untuk menghidupkan orang lain. Dalam ungkapan Bahasa Manado, sering kali dikatakan baku beking pande yang secara harafiah berarti saling menambah pintar dengan orang lain. 

Motto seperti itu, selain di Majelis Al-Hikam, rekatnya kebersamaan saya temukan juga di ruang publik di kota tersebut, misalnya di Jalan Roda. 

Di Jalan Roda duduk berjajar tak hanya anak muda, bahkan orang tua lebih banyak. Ada yang berkalung salib, berkopiah haji, bertopi dan telanjang kepala. Berjilbab sampai rok pendek ada di situ. Sekelompok orang asyik main domino. Sekelompok lain memperhatikan dua orang yang termenung-menung di hadapan bak catur. Umumnya mereka meneguk kopi, sesekali mengisap rokok. Dan tentu saja ngobrol. 

Berdasar keterangan pengunjung, pada tahun 1970-an, jalan itu merupakan tempat parkir gerobak-gerobak beroda. Para pemilik gerobak yang rata-rata penjual makanan itu sering ngopi dan ngobrol di situ. Muncul tukang kopi dan rokok. Lama kelamaan tak hanya pemilik gerobak, tukang-tukang lain pun turut nongkrong di situ. Semakin ramai pada tahun 1990-an. Sekarang semakin ramai lagi.

Menurut seorang warga Bugis yang ditemui saat itu, pada tahun 1998 sepanjang Jarod diberi atap. Orang-orang semakin banyak yang datang ke situ. Jika berjanji, sering jalan itu menjadi pilihan. “Bisnis jarum sampai rumah bertingkat di sini,” katanya. 

Saya berkenalan dengan orang Sunda asal Tasikmalaya. Ia telah tinggal di kota itu sejak tahun 1971. Sebagaimana obrolan dengan orang-orang sebelumnya, ia menyebutkan Jalan Roda adalah tempat ngopi semua kalangan, di situ tak mengenal Muslim, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, atau tak beragama sekali. Di situ tak mengenal pejabat, jenderal, pemuka agama, atau tukang rongsok. Di situ ngopi dan ngobrol. Selesai urusan.

Tak heran, katanya, calon anggota DPR dan Wali Kota kerap menyambangi Jalan Rod, jika mendeketi Pemilukada. Kemudian poster dan spanduk calon bertebaran di sepanjang gang. 
Pria yang bekerja sebagai rental mobil itu mengaku merasa nyaman dengan Manado. Selain keamanan terjamin, ia senang dengan keragaman Manado yang tak membedakan latar belakang. 

Oleh: Abdullah Alawie, blogger dan jurnalis. Aktif di Komunitas Surah. Foto: motzter.com
Kunjungi www.facebook.com/muslimedianews Sumber MMN: 

Ikuti Rakernas Wadah, Al Hikam Promosikan Tumbak.

Ketua Al Hikam Bersama Pengurus Pusat Wadah Foundation
Pagelaran Rapat Kerja Nasional Yayasan Wadah Titian Harapan bersama Paguyuban dan Mitra Wadah se Indonesia pada 19-20 Oktober tahun ini menjadi media bagi Pengurus Pusat Al Hikam Cinta Indonesia memaparkan program kerja. Melalui Ketua Yayasan, Taufik Bilfagih, Al Hikam menampilkan agenda sosial yang dishare pada moment tersebut. Program yang konsen dibahas adalah advokasi desa binaan yang selama ini dikelola oleh Yayasan Al Hikam, yakni  pendampingan Desa Tumbak.

Dihadapan pendiri Yayasan, Anie Djojohadikusumo dan Pengurus Pusat Yayasan Wadah serta tamu internasional yang ada, Taufik memaparkan visi dan misi Al Hikam dalam menjalankan roda organisasinya di Desa Tumbak Kec. Pusomaen Kab. Minahasa Tenggara Prop. Sulawesi Utara. Pada presentasi itu, peserta rapat juga di jelaskan terkait keberadaan Tumbak sebagai desa yang masih marginal dan membutuhkan aksi sosial untuk pendampingan. 

Kendati Yayasan Al Hikam telah membuat lembaga Pendidikan di desa tersebut, baik berupa PAUD, RA dan Taman Pengajian, namun untuk mengoptimalkan kerja pendampingan dibutuhkan extra program yang juga turut berperan dalam meningkatkan ekonomi rakyat. Mengingat, Tumbak adalah salah satu desa termiskin yang ada di propinsi Sulawesi Utara.

Pengurus Al Hikam berharap kepada Founder Wadah Foundation untuk berkunjung ke desa itu. Sebagai organisasi sosial yang bertekad untuk bekerja memberikan bantuan kepada kaum marginal, Wadah harus mengambil kebijakan penting dalam mengapresiasi keberadaan Al Hikam yang melakukan pendampingan pada desa binaannya. 

Saat ini, masyarakat Tumbak merindukan kesejahteraan. Mereka sangat berharap adanya bantuan modal usaha untuk budi daya rumput laut. Dalam sejarahnya, rumput laut pernah menjadi solusi kemakmuran warga. Maka melalui rakernas tersebut, Al Hikam bersuara !!!.



Al Hikam Cinta Indonesia ikuti Rakernas Yayasan Wadah Titian Harapan

Ibu Ani Hasyim Djojohadikusumo saat memberikan pembinaan








Yayasan Al Hikam Cinta Indonesia turut hadir pada kegiatan Rapat Kerja Nasional Yayasan Wadah Titian Harapan, Amos Cozy Hotel, 19-23 Oktober 2015, Jakarta. Sebagai bagian dari organisasi binaan Wadah, Al Hikam ikut memberikan laporan program kerja.

Pembangunan Masjid Al Gufran, Kompleks Yayasan Al Hikam Cinta Indonesia

Habib Muhsin Bilfagih ikut memantau kerja bakti
Suasana Kerja Bakti
 

Yayasan Al Hikam Cinta Indonesia ikut berperan dalam proses pembangunan Masjid Al Gufran yang terletak di Jl. Cendrawasih Ling II, Kel. Malendeng Kec Paal Dua, Manado. Lokasi Masjid ini berhadapan dengan Markas Yayasan. Kami sangat berharap bantuan dari seluruh Jamaah untuk ikut berpartisipasi pada pembangunan tersebut. Untuk sementara Yayasan memberikan sumbangan 20.000 Batako. 

Bagi yang berkenan, kami persilahkan untuk mentransfer dananya ke 
Rek Bank Syariah Mandiri 
709-0837685 
an YAYASAN AL HIKAM 
CINTA INDONESIA

Semoga Amal Ibadah Kita di Ridhai Allah Swt.

RA Al Hikam Tetap Eksis !

Sejak didirikan, RA Al Hikam Tumbak belum memiliki sarana permainan anak yang turut mendukung program belajar mereka. 

Yayasan Al Hikam Cinta Indonesia mengundang seluruh element untuk turut berperan dalam pengadaan media bermain dan belajar murid Raudhatul Athfal.

Semoga terealisasi.

 
Copyright © 2015 AL HIKAM CINTA INDONESIA. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger